Wujudkan Sekolah Ramah Anak, MPLS KB Tunas Aisyiyah Ditutup dengan Deklarasi Anti-Bullying

Reporter: Nurhana

Girimu.com– Penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) KB Tunas Aisyiyah (KBTA) ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Anti-Bullying, Jumat (24/7/2026). Deklarasi ini diikuti oleh 40 murid KBTA bersama orang tua/wali murid mereka.

Sejak pagi, KB Tunas Aisyiyah dipenuhi suasana ceria. Murid-murid memakai beragam kreasi kostum sesuai nama kelas masing-masing. Di antaranya, kostum berbentuk awan, matahari, bulan, dan bintang. Dalam sesi pembukaan dan opening circle, para murid terlihat imut dan menggemaskan dengan beragam kostum yang menarik. Mereka berbaris dan bersama-sama melaksanakan kegiatan senam Anak Sehat Indonesia. Kemudian, secara bergantian mereka memakai sepatu untuk mengikuti kegiatan jalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah, bersama orang tua/wali murid.

Sesampainya di sekolah, ananda dan orang tua masuk bersama untuk mengikuti kegiatan penutupan MPLS dan Deklarasi Anti-Bullying. Para bunda guru bergantian memanggil murid naik ke  panggung untuk menerima penghargaan sesuai karakter masing-masing. Di antaranya karakter Empati dan Peduli, karakter Aktif dan Dinamis, karakter Hebat dan Tangguh, dan beberapa karakter lainnya.

Selepas menerima penghargaan, ananda dan orang tua menerima lembar daun berisikan foto ananda, yang kemudian ditandatangani oleh orang tua. Ini sebagai bentuk komitmen dalam mewujudkan sekolah ramah anak dan anti-bullying. Lembar daun dengan foto ananda, kemudian ditempel di banner bentuk pohon sesuai dengan keinginan ananda.

Rahmi Yuliastutie, SPsi, Kepala Kelompok Bermain Tunas Aisyiyah menyampaikan, bahwa MPLS dilaksanakan dalam 5 hari selama dua pekan, sesuai dengan instruksi MPLS Ramah, yang memastikan MPLS berjalan aman, nyaman, dan inklusif.

“Kehadiran orang tua untuk menandatangani pohon komitmen, untuk saling bekerja sama dalam mewujudkan sekolah ramah anak dan anti-bullying,” ujar Rahmi.

Kegiatan penutupan, diakhiri dengan pembagian balon, serta peran serta orang tua wali murid dalam menarik balon yang ditempel di atas plafon sekolah, dengan menggunakan media kursi, atau melompat di atas panggung, untuk meraih puluhan balon yang ditempel. (*)

 

Editor