230 Guru Sertifikasi KKMI Panceng Ikuti Workshop Implementasi AI dan Coding

Reporter: Firdayani Ariza

Girimu.Com — Sebanyak 230 guru penerima sertifikasi yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Panceng, Gresik mengikuti workshop Implementasi AI dan Coding dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 25–26 Juli 2026 ini, diselenggarakan di Aula MI Tarbiyatus Shibyan Wotan, Panceng dan diagendakan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB.

Workshop ini bertujuan membekali guru dengan keterampilan memanfaatkan teknologi digital tanpa mengesampingkan nilai cinta, akhlak, dan kemanusiaan dalam pembelajaran. Seluruh materi yang disampaikan tetap berlandaskan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Pengawas Madrasah Ibtidaiyah, Dra Lailatul Mutmainah, MPdI. Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gresik, Muhammad Ali Faiq, SSos, MHI, membuka kegiatan sekaligus memberikan sambutan arahan. Dalam arahannya, ia memotivasi para peserta agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Masfufah, MPd, menekankan pentingnya penerapan KBC dalam setiap proses pembelajaran. Pada sesi ini, peserta diajak menyusun modul ajar dan kerangka pelaksanaan kokurikuler yang mengintegrasikan delapan Dimensi Profil Lulusan (DPL) dengan nilai-nilai Panca Cinta. Menurutnya, apa pun mata pelajaran maupun kegiatan kokurikuler yang dilaksanakan, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu membentuk karakter peserta didik yang selaras dengan delapan Dimensi Profil Lulusan dan nilai-nilai Panca Cinta.

Optimalkan Media Digital 

Ketua Pokjawas Kabupaten Gresik, Mulyono Malik, MPd, menyampaikan, setiap pembelajaran harus menanamkan nilai-nilai Panca Cinta sebagai bagian dari penguatan karakter peserta didik. Dalam sesi ini, ia mengajak peserta memanfaatkan berbagai media digital untuk mendukung pembelajaran, seperti membuat story book dengan bantuan ChatGPT dan Gemini Storybook, menyusun flipbook menggunakan Heyzine, serta membuat soal interaktif melalui Wordwall. Meski demikian, Mulyono mengingatkan, bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggeser pentingnya pembelajaran dasar di kelas.

“Sedigital-digitalnya zaman, jangan lupa murid diajak untuk membaca, menulis, dan menjelaskan di depan kelas lagi apa yang dibaca dan ditulis. Kegiatan-kegiatan tersebut melatih anak untuk berpikir,” pesannya.

Selain itu, Mulyono mengajak para peserta mempraktikkan pembuatan situs pembelajaran menggunakan Google Sites sebagai pusat pengelolaan perangkat ajar. Melalui situs tersebut, guru dapat menghimpun berbagai perangkat pembelajaran, mulai dari rencana pembelajaran, materi ajar, media pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), asesmen, hingga berbagai sumber belajar dalam satu platform. Dengan demikian, seluruh perangkat pembelajaran tersusun lebih sistematis, mudah diakses, dan dapat dimanfaatkan kapan saja oleh guru maupun peserta didik.

Salah satu peserta, Nur Faridah, SPdI, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. “Belajar tak mengenal usia. Tidak ada kata terlambat untuk terus belajar dan meng-upgrade diri,” ujarnya usai mengikuti workshop. (*)

 

Editor