Panas matahari di siang hari cukup membuat kesal para pribumi. Balon warna-warni mengambil alih perhatian orang-orang di lapangan luas.
Di tengah riuh penduduk sekolah yang sibuk dengan para pendatang baru, langkah sepasang kaki seorang gadis membelah kerumunan lorong sekolah dengan berbagai macam cat berwarna biru, hidup di setiap dindingnya. Layar ponsel memberikan notif, dengan sabar menunggu sang pemilik menyadarinya, langkah Kani terhenti.
“Surat undangan Majelis Lingkungan Hidup,” dada Kani terasa aneh. Kedua bola matanya menyimpan keraguan, memastikan benarkah undangan itu dikirim untuknya?
“Hee Zae, gimana iki … di mana cari tiga kilo kulit buah iki?”
Keluhanku menggantung, namun jelas kerutan dahi sedang berpikir keras pada tiga kilo kulit buah. Jujur saja aku tak terlalu bingung dengan kulit buah. Saat ini di benakku hanya ada kerutan wajah ibuku yang siap menanti.
Sepasang sepatu hitam kembali menyusuri lorong dengan sepasang sepatu lain membuntutinya. Lorong itu semakin riuh dengan mereka yang tak pernah benar-benar bungkam sampai seseorang datang menjemput.
“Begini saja, kalian masing-masing mencari kulit satu setengah kilo, bahan-bahan lainnya biar guru pendamping yang membawakan.”
Perintah guru pria berkaca mata, diterima dengan perasaan lega oleh kami. Setelah memastikan semua pertanyaan di kepala terjawab dengan jelas, kami siap berburu kulit buah. Walaupun sebuah kasur menunggu ragaku berbaring di atasnya.
Sudah tiga pedagang buah keliling yang kuhampiri namun, tak ada kulihat tumpukan kulit buah itu.
“Ga ada Kani. Wis tak carikan sama ibu ae nanti sore, sing gak jauh dari rumah.”
Pria paro baya itu kembali melajukan motornya setelah aku menyetujuinya.
“Kulit buah? Cari di mana Kani? Kenapa mendadak sekali?”
Kani sudah menduga.
“Aku gatau, Bu. Aku tadi sama ayah sudah coba cari, tapi gak ada.”
Tak mendapat respon dari sang ibu.
Tubuhnya menyatu dengan kasur dan siap untuk terlelap. Tetapi, tak berhenti sampai di situ, ia masih harus mencari wadah cat bekas berukuran dua puluh liter.
Sungguh ia tak bisa tenang sekarang. Tetapi, baginya hidup seperti ini yang ia impikan. Mencoba hal baru sebanyak banyaknya. Ponsel itu tak berhenti mengetik, dengan rasa bingung yang menghalangi pikiran Zae. Sungguh semua pertanyaan itu keluar dengan liar. Entah berapa kali dia bertanya kepadaku.
“Pak, jangan dulu, bosan kita tanyain yah”
Memang sedikit mengarah ke bergurau, namun percayalah di dalam hatinya benar-benar takut gurunya itu muak dengan semua pertanyaan mereka. Hari di mana kulit-kulit buah itu akan menampilkan diri mereka setelah dicuci dan dijemur oleh matahari sore.
Kursi plastik tak berpenghuni terletak di pojok kanan. Itu menarik perhatian mereka berdua dengan raungan kipas angin di dekatnya. Smartboard menampilkan sebuah tulisan “Temu Kader Lingkungan Sekolah Muhammadiyah”.
Untuk pertama kalinya, kedua telingaku siap menerima materi, satu, dua hingga tiga materi telah kusimak dengan seksama.
Saatnya membuat eco enzyme. Toples kerupuk menunjukkan pesonanya. Namun, berbeda ukuran, toples itu hanya berukuran lima liter dari yang seharusnya dua puluh liter. Zae dan Kani sudah menerka akan seperti ini.
Tawa keduanya pecah saat melihat perbandingan ukuran toples dan wadah cat milik sekolah lain. Hal itu membuat bahan organik dan air harus menyesuaikan toples mereka. Kulit semangka tak beraturan. Tak jarang kulit itu terpental akibat pisau yang tak tajam. Berbeda dengan Zae yang nampak damai memarut gula merah.
Perasaan lebih dari sekedar senang dan bangga saat aku berhasil meraih apa yang kuimpikan sedari kecil. Hari itu, Kani bukan hanya belajar membuat eco enzyme, tetapi juga terus melangkah dan mencoba lebih banyak hal di depan sana. (*)
*) Afika Dwi Ramadhani, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Gresik, Jawa Timur.
