Girimu.com — Pengajian Ahad Pagi (PAP) yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik pada Ahad (16/8/2026) mengangkat tema “Meneladani Perjuangan Nabi Meraih Kemenangan”. Pengajian yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa Giri Kebomas itu menghadirkan KH Dr Mohammad Sulthon Amien, MM, sebagai penceramah.
Di hadapan ratusan jamaah yang memadati masjid, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ini mengupas fondasi kemenangan di masa Rasulullah Muhammad SAW. Salah satunya adalah ekosistem tim yang kokoh dalam menjalankan misi dakwah
Dr Sulthon menyampaikan, perjuangan besar menuntut pilar pendukung yang bertakwa dan memiliki peran yang komplementer. Di zaman Nabi Muhammad, di antaranya ada sahabat sekaligus mertuanya Abu Bakar As-Shiddiq yang memiliki kepercayaan dan kesetiaan mutlak, sahabat Umar bin Khattab yang memiliki ketegasan dan strategi terbuka, ada juga Hamzah bin Abdul Muntholib yang memiliki keberanian dengan julukan singa Allah, yang berevolusi dari sekedar pembela keluarga menjadi perisai fisik terkuat kaum Muslimin di fase awal.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Surabaya ini mengungkapkan keteladanan Rasulullah SAW juga dapat dipelajari dari keteguhan di tengah musibah yang dihadapi.
“Iman tidak memberikan kekebalan dari musibah, melainkan memberikan daya tahan untuk melewatinya,” ungkapnya.
Pada fase-hase awal perjuangan Nabi Muhammad, lanjut Dr Sulthon, serangan itu tidak hanya berupa fisik. Perang ekonomi terjadi dengan pemboikotan sosial selama 3 tahun menderita ekstrem hingga terdengar tangisan kelaparan dari luar lembah. Namun, bencana itu tidak membuat umat lemah. Pemboikotan justru menyatukan barisan, memperkuat akar ketakwaan, dan berakhir dengan keretakan koalisi musuh.
Di sinilah, lanjutnya, peran Rasulullah dalam menavigasi krisis dan kegagalan. Pola pikir yang melampaui zamannya menjadi sebuah manisfestasi sempurna dari apa yang di dunia modern disebut sebagai growth minset (pola pikir berkembang). Rasulullah pantang menyerah dan tetap menawarkan visi meski terus ditolak berkali-kali. Belajar dari kegagalan, ia memproses tragedi memilukan menjadi evolusi strategi, dan kemampuannya dalam mengadopsi taktik dan teknologi asing yang belum pernah ada.
Pria kelahiran Sidoarjo, 10 Maret 1957 ini juga menyampaikan pola pikir yang dilakukan Rasulullah saat membedah kegagalan di bukit Uhud. Di sini tengungkap pelanggaran instruksi langsung komandonya untuk tetap di bukit dan tidak tergoda ghonimah (harta rampasan). Tetapi pasukannya justru mengabaikan komando tersebut, sehingga berakhir dengan kekalahan.
Belajar dari krisis kegagalan itu, tambahnya, Rasulullah di saat menghadapi koalisi besar musuh dalam perang Khandaq meninggalkan taktik militer tradisional Arab dan mengadopsi ilmu dari luar. Adalah Salman Al-Farisi (militer Persia) yang menawarkan ide meminjam inovasi luar selama tidak bertentangan dengan prinsip agama. Selain itu, Rasulullah juga mempraktikkan lead of example, tidak hanya memberikan instruksi, tetapi ikut memanggul tanah dan memecahlan batu besar dalam pembuatan parit. Disamping itu, di tengah kondisi yang sangat sulit, Rasulullah tetap menananmkan optimisme akan kemenangan umat Islam.
Direktur Utama Parahita Diagnostic Center, jaringan laboratorium klinik dengan sekitar 18 cabang di seluruh Indonesia dan 900 lebih karyawan ini menyimpulkan kajian ahad pagi ini, bahwa kemenangan tidak datang kebetulan, melainkan dari eksekusi variable-variabel ketakwaan.
Dengan Iman yang kokoh dikolaborasikan dengan kesabaran dan inovasi yang memiliki ketahanan konsistensi waktu, hasilnya adalah sebuah kemenangan. Sejarah perjalanan Rasulullah merupakan aplikasi nyata dari prinsip dasar kehidupan yang ada dalam Al-Quran, sebuah suri teladan yang jelas dan pantas untuk dijadikan pedoman. (*)
