Flores berduka, diguncang gempa, dan Muhammadiyah langsung menyambutnya dengan tangan terbuka. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu tak buang waktu, segera menggalang kekuatan kemanusiaan untuk menjamin kebutuhan dasar ribuan masyarakat terdampak tetap terjangkau. Dari layanan kesehatan, permakanan, paket keluarga, dukungan psikososial, hingga pendidikan darurat, air bersih, sanitasi, dan hunian darurat, semua berjejer rapi di enam kabupaten yang menjadi arena bencana, memastikan tak ada yang terlewat.
Respons tanggap darurat ini dikelola dengan membuka Pos Koordinasi (Poskor) di enam kabupaten tersebut, ditambah rencana pendirian pos pelayanan di sembilan titik layanan Muhammadiyah. Fase kritis ini direncanakan berlangsung selama 30 hari penuh, melibatkan berbagai unsur relawan dan sumber daya Muhammadiyah, baik dari daerah setempat maupun dari luar wilayah.
Untuk mendukung layanan kesehatan yang vital, MDMC menyiapkan delapan tim Emergency Medical Team (EMT). Tak sendirian, relawan dari Jawa Timur, Kupang, dan Bima turut dimobilisasi untuk memperkuat respons di lapangan. Bahkan, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UMY, UAD, dan Universitas Muhammadiyah Kupang ikut bahu-membahu dalam pelayanan bersama masyarakat dan pemerintah setempat.
Indrayanto, Ketua Pos Koordinasi (Poskor) MDMC, menegaskan bahwa penguatan koordinasi adalah kunci. “Manajemen penanganan darurat ini kami lakukan dengan memperkuat koordinasi di wilayah terdampak dan membuka pos pelayanan di sejumlah titik layanan Muhammadiyah. Relawan dari berbagai daerah bersama masyarakat dan pemerintah setempat bahu-membahu memastikan layanan dasar dapat diberikan kepada warga terdampak,” ujar Indrayanto.
Salah satu wilayah yang kini menjadi fokus utama pelayanan adalah Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Hingga Ahad (16/8) pukul 15.00 WITA, tim gabungan masih sibuk melakukan pendataan dan verifikasi kondisi warga di empat desa pesisir: Naga Rama, Nanga Baling, Nanga Baur, dan Kelurahan Pota. Fokus pendataan di sana bukan tanpa alasan, sebab wilayah itu dihuni banyak penyintas dengan kerusakan bangunan dan infrastruktur yang cukup parah.
Tim yang terdiri dari mahasiswa KKN Pena UMY, KKN Universitas Muhammadiyah Kupang, bersama Puskesmas, Koramil, Polsek, dan Camat Sambi Rampas, bekerja sama mendata kondisi warga. Data itu mencakup kondisi korban, kerusakan permukiman, fasilitas umum, serta kebutuhan mendesak masyarakat di wilayah terdampak.
Di lapangan, Posko Induk telah berdiri kokoh di halaman SMK Muhammadiyah Manggarai Timur. Posko ini menjadi pusat denyut layanan masyarakat, mencakup pengobatan, dapur umum, serta layanan informasi dan pendataan warga yang terdampak.
Sementara itu, Posko Sekretariat, yang berpusat di Kantor SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, terus mengintegrasikan data dari lapangan. Proses pendataan dilakukan secara berjenjang bersama pemerintah desa, lalu diverifikasi ulang oleh tim di lapangan. Tujuannya satu: agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan pendataan sementara, kebutuhan prioritas masyarakat kini terjejal pada air bersih, makanan siap saji, perlengkapan bayi dan balita, tenda keluarga, terpal, selimut, matras, obat-obatan dasar, perlengkapan sanitasi, serta layanan kesehatan keliling.
Melalui respons bersama ini, MDMC dan Lazismu berupaya keras memastikan masyarakat terdampak memperoleh haknya untuk mendapatkan bantuan dan layanan dasar selama masa tanggap darurat. Momentum menyongsong 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat abadi akan pentingnya kepedulian sosial dan gotong royong bagi mereka yang kini tengah menghadapi cobaan.
