Girimu.com — Sebanyak 475 siswa kelas 3–6 SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik atau Berlian Primary School mendapatkan pesan inspiratif untuk terus mengawal mimpi dan cita-cita dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Upacara bendera yang digelar tepat pada Hari Kemerdekaan tersebut menjadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk merefleksikan makna kemerdekaan sekaligus mensyukuri perjuangan para pahlawan. Rasa syukur tersebut diharapkan tidak berhenti dalam bentuk seremonial, tetapi diwujudkan melalui semangat untuk menyongsong kemerdekaan-kemerdekaan baru di masa depan.
“Syukur yang tidak sekadar, tetapi diwujudkan dalam semangat menyongsong kemerdekaan-kemerdekaan di masa depan,” ungkap Dr. H. Arfan Muammar, M.Pd., Wakil Ketua PDM Gresik yang hadir dan membersamai upacara di Berlian Primary School.
Gantungkan Cita-Cita Setinggi Langit
Dalam amanatnya, Arfan mengajak seluruh siswa mengingat kembali pesan founding father Indonesia, Ir. Soekarno.
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” kenangnya.
Menurutnya, setiap anak harus memiliki cita-cita. Mimpi tersebut dapat berbeda-beda, mulai dari menjadi dokter, guru, profesor, tentara, pilot, insinyur, hingga presiden.
“Mimpi itu harus kalian miliki sejak dini. Mimpilah setinggi langit, lalu gapailah dengan berjuang, gapailah dengan belajar,” tandasnya.
Ketua Program Studi S2 Pendidikan Islam tersebut menegaskan bahwa mimpi tidak cukup hanya diucapkan. Mimpi perlu dikawal melalui perjuangan, proses belajar, doa, dan kesabaran.
Untuk menguatkan pesannya, Arfan menyampaikan kisah inspiratif tentang seorang anak yang pernah bekerja sebagai pengupas jagung di Indiana, Amerika Serikat.
Anak tersebut hidup sederhana dan mendapatkan upah berdasarkan jumlah jagung yang berhasil dikupas. Namun, di tengah keterbatasannya, ia memiliki kebiasaan membaca.
Suatu ketika, ia menemukan buku berjudul The Life of Washington. Karena harga buku tersebut cukup mahal baginya, ia menabung dari hasil pekerjaannya hingga akhirnya mampu membeli buku itu.
Setelah membaca buku tersebut, muncul tekad dalam dirinya untuk mengubah kehidupan. Ia tidak ingin selamanya menjadi pengupas jagung dan mulai bermimpi menjadi presiden.
Mimpi tersebut kemudian diperjuangkan dengan pergi ke kota, bekerja, belajar, dan mencari beasiswa. Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya mencapai cita-cita. Sosok tersebut adalah Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16.
“Maka anak-anak, kalau punya mimpi, perjuangkan. Jangan putus asa. Jika jatuh, maka bangun lagi,” ungkapnya memberi semangat.
Empat Langkah Mengawal Mimpi
Arfan kemudian mengajak para siswa memahami bahwa perjalanan menuju cita-cita membutuhkan proses. Menurutnya, terdapat empat hal penting yang perlu dilakukan untuk meraih mimpi, yaitu bermimpi, berjuang, yakin kepada Allah, dan berdoa dengan sabar.
“Apa pun mimpinya harus selalu disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh. Diawali dengan bermimpi, lalu berjuang. Dan yakin Allah yang akan mengabulkan, maka jangan lupa berdoa kepada Allah dengan sabar,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda dalam mencapai cita-cita. Ada yang membutuhkan waktu puluhan tahun, sementara yang lain dapat mencapainya lebih cepat.
Salah satu kebiasaan yang dapat membantu seseorang mendekat pada cita-cita, menurut Arfan, adalah membaca.
“Setiap orang berbeda kapan tercapainya. Salah satu yang dapat mengantarkan pada mimpi adalah rajin membaca,” pesannya.
Belajar dan Disiplin sebagai Bekal
Dalam amanatnya, Arfan juga mengutip nasihat Imam Syafi’i tentang pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu.
“Barangsiapa yang tidak mau menahan lelahnya belajar, maka dia akan merasakan pedihnya kebodohan.”
Nasihat tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Ia mengajak anak-anak untuk tetap disiplin dalam belajar, mengaji, salat, dan bermain sesuai waktunya.
“Maka, anak-anakku, disiplinlah dalam belajar. Biasanya liburan waktunya balas dendam, bukan demikian. Harus tetap disiplin kapan belajar, mengaji, salat, dan kapan bermain,” nasihatnya.
Menurutnya, kedisiplinan yang dibangun sejak usia dini akan menjadi bekal penting ketika anak-anak tumbuh dewasa.
“Disiplinlah pada diri kalian, nanti kalau sudah besar dunia akan lunak pada diri kita,” pesannya.
Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Berlian Primary School akhirnya tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi siswa untuk memaknai kemerdekaan melalui semangat belajar, disiplin, keberanian bermimpi, dan kesungguhan dalam berjuang.
Semangat para pahlawan diharapkan dapat diteruskan oleh generasi muda melalui perjuangan di bidang pendidikan. Kemerdekaan hari ini disyukuri dengan belajar, sementara kemerdekaan masa depan dipersiapkan dengan mimpi dan perjuangan.
