Gresik tak henti merangkul dunia. Kali ini, sebuah sudut ibu kota Inggris, London, bertandang ke SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) lewat program Smart Talk with Foreigner. Zahra Riaz Mehdi Hamza Ali, mahasiswi University College London (UCL), langsung dari jantung Britania Raya, hadir berbagi cerita, membongkar seluk-beluk kota multikultural itu di hadapan 161 siswa International Class Program (ICP) selama sebulan penuh, dari 27 Juli hingga 24 Agustus 2026. Pembukaan kegiatan berlangsung meriah di Hall Andalusia Spemdalas pada Rabu, 29 Juli 2026, diikuti siswa ICP kelas VII, VIII, dan IX.
Program Smart Talk with Foreigner sendiri merupakan agenda tahunan unggulan Spemdalas. Koordinator ICP, Wiwik Indrawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar bahasa Inggris yang autentik, berinteraksi langsung dengan tamu internasional, sekaligus memperluas wawasan global siswa.
“Tahun ini kami menghadirkan Zahra Ali, mahasiswa University College London (UCL), yang berbagi tentang kehidupan dan budaya di London,” kata Wiwik.
Berangkat dari evaluasi tahun sebelumnya, ICP menargetkan interaksi yang lebih aktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, mendorong siswa lebih berani menggunakan bahasa Inggris secara langsung. Wiwik berharap, “Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan komunikasi lintas budaya, dan semangat menjadi generasi yang berwawasan global.” Rangkaian pembelajaran tak berhenti pada sesi pembukaan yang diisi kuis interaktif dan presentasi “All About London”. Selama hampir sebulan, Zahra akan terlibat dalam berbagai aktivitas kreatif seperti Creative Design bertema Story Chain, My Creative Identity Board, Future Me, hingga Design for a Better World.
Siswa juga akan merasakan fun games, sesi chit-chat, berbagi pengalaman dengan sekolah mitra, mengeksplorasi warisan budaya dan kuliner tradisional Gresik, program Seeds of Success, peringatan Hari Kemerdekaan RI, sampai pesta perpisahan.
Sosok Zahra Ali sendiri bukan sembarang mahasiswa. Ia memiliki pengalaman sebagai content editor, video editor, digital illustrator, dan clinical administrator di London.
Keaktifannya dalam kegiatan sukarela di bidang pendidikan, layanan kesehatan, dan organisasi mahasiswa menjadikannya terbiasa bekerja di lingkungan multikultural. Dalam presentasi “All About London”, Zahra membawa siswa Spemdalas menelusuri ibu kota Inggris dari berbagai sudut. Bukan hanya ikon populer seperti Tower of London, Big Ben, London Eye, Buckingham Palace, dan The Shard, ia juga memperkenalkan kehidupan masyarakat multikultural London melalui kawasan Chinatown, Brick Lane, Brixton, dan Edgware Road. Peserta juga memperoleh wawasan tentang kuliner khas, kehidupan sekitar 1,32 juta Muslim di sana, sistem transportasi modern seperti London Underground (Tube) dan bus tingkat merah, hingga universitas bergengsi seperti University College London (UCL), London School of Economics (LSE), dan King’s College London (KCL).
Sesi tanya jawab berlangsung hangat, siswa antusias menggali lebih dalam soal kehidupan mahasiswa, budaya masyarakat, dan pengalaman tinggal di London. Zahra menjelaskan alasannya memilih tema “All About London”: “Since I’m currently studying and living in London, I wanted to give students a glimpse of everyday life there—not just the famous landmarks, but also the multicultural community, student life, food, and public transport.” Ia berharap materi itu membuka mata siswa bahwa London bukan sekadar ikon wisata, melainkan masyarakat multikultural yang terbuka pada keberagaman.
Zahra mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia dan antusiasme siswa Spemdalas. “I was really impressed by how warm and welcoming everyone was. The students were enthusiastic, respectful, and eager to communicate in English, which made the session very enjoyable. I also loved the positive learning atmosphere at your school. It was wonderful to see students who are curious about different cultures and excited to learn from international guests,” ujarnya.
Menurutnya, semangat belajar dan keberanian siswa berkomunikasi dalam bahasa Inggris adalah modal penting untuk menjadi generasi berwawasan global.








