Breaking News
Categories
  • #muktamar muhammadiyah aisyiyah 48
  • Acara
  • Berita Organisasi
  • Berita Sekolah
  • Cerpen
  • Featured
  • Gerak
  • Kabar
  • Kegiatan Mahasiswa
  • Kegiatan Sekolah
  • Keislaman
  • Muhammadiyah News Network
  • Muhammadiyah or id
  • Palestina
  • Pendidikan dan Pelatihan
  • Politik
  • PWMU CO
  • Resensi buku
  • Srawung Sastra
  • Tarjih
  • TVMU
  • Uncategorized
  • Video
  • wawasan
  • Stasiun Malabar – bandungmu.com

    Aug 26 202228 Dilihat

    BANDUNGMU.COM — Pada 1917-1923, pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah stasiun radio terbesar dengan sistem operasi tercanggih pada saat itu.

    Bahkan saking modernnya, stasiun pemancar yang dirancang oleh insinyur elektro kenamaan lulusan Jerman bernama Cornelis Johannes de Groot itu sempat diperhitungkan dan masuk sejarah perkembangan radio dunia.

    Pasalnya Stasiun Malabar menjadi penghubung komunikasi antara Indonesia – Belanda sejauh 12.000 kilometer.

    Mengutip laman Wikipedia, keunggulan tersebut terdapat pada sistem pemancar tanpa kabel (nirkabel)-nya yang merupakan satu-satunya dan pertama di dunia.

    Stasiun Malabar ini berlokasi di Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Dalam ulasan sejarah komunikasi di Bandung lewat buku “Tjitaroemplein-Bandung (2014)”, Sudarsono Katam menyebut jika sistem pemancar tersebut merupakan yang pertama di dunia.

    Hal ini karena menggunakan sistem peluncur listrik untuk mengangkat gelombang sebesar 750 Volts dan daya 1 MA. Dari situ gelombang radio ribuan kilowatt bisa terbangun.

    Bahkan, dengan tanpa kabel sehingga tidak terganggu kegiatan perang dunia pertama pada zamannya.

    Stasiun Radio Malabar adalah sebuah transmisi radio VLF di Malabar, Indonesia, untuk jaringan radio ke Belanda.

    Itu karena stasiun ini memakai salah satu alat transmisi paling kuat yang pernah dibuat yang memiliki kekuatan 2400 kW.

    Stasiun Radio Malabar memakai jaringan yang dibentangkan antara dua gunung sebagai antena.

    Perang Dunia I

    Berawal dari keinginan untuk menghubungkan Belanda dengan Hindia Belanda secara nirkabel, didorong oleh situasi Perang Dunia I yang tidak memungkinkan ketersediaan kabel, serta rentan secara teknis dan politis, dipililah koneksi gelombang panjang untuk menghubungkan kedua negara tersebut.

    Willem Smit & Co’s Transformatorenfabriek memasok kumparan besar dan beberapa trafo. Sementara generator dipasok oleh Smit Slikkerveer.

    Sebagai pendukung tenaga listrik dibangun PLTA Dago, PLTA Plengan,  PLTA Lamadjang, dan PLTU di Dayeuhkolot.

    Antena dibentangkan sepanjang 2 kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun untuk memancarkan gelombang radio.

    Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Antena dibangun mengarah ke Belanda yang berjarak 12.000 kilometer dari Gunung Puntang.

    Media propaganda

    Stasiun Radio Malabar diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock pada 05 Mei 1923.

    Beberapa hari sebelum peresmian, badai tropis dengan kilatan-kilatan petir telah merusak sejumlah peralatan penting termasuk pemancar. Hal ini membuat peresmian terancam diundur.

    Namun, ternyata peresmian tetap dilakukan dengan cara mengirim pesan telegraf radio kepada Ratu Belanda dan Menteri Urusan Koloni, tetapi tidak ada jawaban dari stasiun di Belanda.

    Baru pada 06 Mei 1923 malam, pemancar dapat berfungsi dengan baik. Pesan pertama yang dirimkan dari Belanda adalah dari Kantor Berita Aneta.

    Meski demikian, pada 05 Mei 1923 tetap dijadikan tanggal peresmian Stasiun Radio Malabar.

    Untuk mengenang peristiwa telekomunikasi tersebut didirikan dua patung laki-laki tanpa busana yang tengah mengapit tiga perempat bola dunia.

    Patung pertama menaruh tangan tangannya di mulut yang menandakan tengah berteriak.

    Sementara patung yang satu lagi menaruh tangan kanannya di telinga seolah sedang mendengarkan.

    Stasiun Radio Malabar sempat menjadi media propaganda Jepang dengan melakukan kontak dengan Hooshoo Kanri Kyoku di berbagai daerah lain di daerah pendudukannya.

    Masa kehancuran

    Setelah Jepang hengkang dari Indonesia dan Belanda ingin menguasai kembali Indonesia para pejuang republik di Bandung Selatan menghancurkan Stasiun Radio Malabar.

    Stasiun radio tersebut hancur bersamaan dengan peristiwa Bandung Lautan Api karena tidak ingin. Stasiun Radio ini digunakan oleh belanda untuk Menghubungi ke belanda.***

    ____

    Sumber: Wikipedia

    Editor: FA




    sumber berita ini dari bandungmu.com

    Author

    Share to

    Related News

    MIAS bungah

    Siswa MIAS Bungah Jadi “Guru Kecil...

    by Feb 03 2025

    Suasana ceria menyelimuti halaman TK di sekitar MI ASSA’ADAH MIAS Bungah saat para siswa madrasah ...

    SD Muhammadiyah 1 Wringinanom

    SD Muhammadiyah 1 Wringinanom Gelar Pawa...

    by Feb 02 2025

    SD Muhammadiyah 1 Wringinanom (SD Muwri) memperingati Isra’ Mi’raj 1446 H/2025 M dengan menggela...

    Kajian Ahad Pagi

    Ustadz Abdul Basith: “Kesalehan Bukan ...

    by Feb 02 2025

    Girimu.com – Kesalehan harus didasari dengan keimanan dan keikhlasan, bukan dijadikan alasan untuk...

    SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo

    Peringatan Isra Miraj di Spemia: Bangun ...

    by Feb 02 2025

    SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo (Spemia) memperingati Isra Miraj 1446 H pada Jumat (31/01/25). Acara i...

    MIAS Bungah

    Siswa MI ASSA’ADAH MIAS Bungah Antusia...

    by Feb 01 2025

    Girimu.com – Siswa MI ASSA’ADAH MIAS Bungah kembali menunjukkan semangat mereka dalam kegiatan P...

    Boneka tole

    Kak Tatik Respati dan Boneka Tole Hibur ...

    by Feb 01 2025

    Kak Tatik Respati, dengan boneka Tole sebagai teman bercerita, memukau santri TPQ At Taqwa Pulopanci...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top