Girimu.com – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, Prof Syamsul Sodiq, mengingatkan pentingnya sekolah menjadi ruang tumbuhnya kreativitas dan transformasi sosial bagi siswa. Hal itu disampaikannya saat mengisi kajian dan iftar Ramadan 1447 Hijriah yang digelar keluarga besar SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik di Aula H. Amanullah Adnan, Jumat (6/3/2026).
Dalam kajian tersebut, Syamsul memaparkan tiga pokok bahasan utama, yakni siswa inklusif dan progresif, guru mulia yang berperan sebagai pengajar sekaligus pendidik dan dai, serta pentingnya sinergi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Menurutnya, sekolah tidak boleh menjadi tempat yang justru membatasi kreativitas peserta didik.
“Sekolah bukan tempat mendongengkan sejarah pengetahuan. Sekolah bukan tembok penjara. Dan sekolah bukan sarana pemanggungan kekuasaan orang dewasa,” ujarnya.
Ia juga mengutip penelitian Tony Buzan yang menunjukkan bahwa tingkat kreativitas manusia menurun seiring bertambahnya usia. Murid taman kanak-kanak memiliki tingkat kreativitas sekitar 95–98 persen. Angka itu turun menjadi 50–70 persen pada murid sekolah dasar, 30–50 persen pada siswa SMP hingga mahasiswa, dan kurang dari 20 persen pada orang dewasa.
Karena itu, proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi dan pengetahuan awal siswa. Syamsul menirukan pandangan David Ausubel tentang konsep pembelajaran bermakna.
“Satu-satunya faktor terpenting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang sudah diketahui oleh pembelajar. Pastikan itu dan ajari dia sesuai dengan itu,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa mengajar tidak hanya sekadar membuat siswa mengetahui dan menghafal materi. Guru harus mampu memilih dan mengorganisasikan materi pembelajaran secara sistematis dengan pendekatan student centered learning. Selain itu, guru juga perlu memanfaatkan pengatur grafis dalam pembelajaran literasi serta menggunakan instrumen penilaian autentik.
Syamsul menambahkan bahwa guru Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik dan dai yang memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
“Keislaman bukan hanya Allah ada di dalam jiwamu, tetapi kehidupan Islam menjadi nyata melalui perilakumu,” tegas guru besar Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya itu.
Ia juga menekankan pentingnya karakter guru Muhammadiyah yang memiliki ibadah kuat, kecerdasan intelektual, tubuh sehat, serta akhlak yang baik.
Di akhir kajian, Syamsul mengingatkan pentingnya sinergi dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurutnya, pengelola sekolah harus mengubah sikap kepenguasaan menjadi sikap pelayanan.
“Sekolah kader atau sekolah internasional bukan ladang penghasilan, tetapi tempat pengabdian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penyelenggara pendidikan perlu merumuskan arah sekolah berdasarkan visi pendirian lembaga, memahaminya secara bersama, serta mendokumentasikan setiap kesepakatan dan proses pengelolaan secara sistematis.
Kajian Ramadan tersebut diikuti oleh guru, tenaga kependidikan, dan keluarga besar SD Almadany sebagai bagian dari penguatan nilai spiritual dan refleksi pendidikan di bulan suci Ramadan.







