Oleh: Abdul Rokhim Ashari
GIRIMU.COM —Pagi itu, layar ponsel menyala tanpa henti. Notifikasi berdatangan, berderet rapi: ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri dari berbagai grup dan kontak pun datang silih berganti. Kalimatnya indah; sebagian puitis, sebagian religius, sebagian lagi mencoba jenaka. Hampir semuanya terasa “sempurna”. Terlalu sempurna, bahkan.
Di balik deretan pesan itu, ada satu hal yang terasa sama: tidak ada wajah. Tidak ada suara. Tidak ada jeda canggung sebelum berjabat tangan dan saling memaafkan.
Dulu, lebaran punya ritme yang berbeda. Orang-orang bersiap sejak jauh hari. Tiket dipesan, koper dirapikan, dan perjalanan panjang ditempuh dengan satu tujuan sederhana: pulang, bertemu keluarga dan kerabat. Kehadirannya menyambung yang sempat renggang. Tidak ada yang instan, tapi justru di situlah letak maknanya.
Kini, cukup beberapa detik. Ketik perintah, pilih gaya bahasa, kirim. Selesai!
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita mengucapkan selamat hari raya. Dengan bantuan teknologi, siapa pun bisa menghasilkan ucapan yang terdengar hangat dan menyentuh. Kata-kata yang dulunya perlu direnungkan, kini bisa diproduksi dalam hitungan detik.
Fenomena ini bukan kebetulan. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi berbasis AI meningkat drastis. Ia masuk ke ruang kerja, ruang belajar, bahkan ruang personal. Ucapan Lebaran pun ikut terdigitalisasi, menjadi cepat, praktis, dan seragam.
Namun, di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang. Sebuah pesan yang disusun dengan bantuan mesin, seindah apa pun bunyinya, tetaplah teks. Ia tidak membawa getar suara. Ia tidak menyimpan keraguan yang jujur. Ia tidak menghadirkan kehangatan yang hanya muncul ketika dua orang saling menatap dan berkata, “Saya minta maaf.”
Di sebuah rumah sederhana di kampung, suasana itu masih terasa. Pintu terbuka, tamu datang, tangan disambut. Ada senyum, ada haru, kadang ada air mata yang tertahan. Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada diksi rumit. Tapi semuanya terasa utuh.
Silaturahim bekerja dengan cara yang tidak bisa digantikan teknologi. Ia menghadirkan manusia secara utuh; dengan suara, ekspresi, dan rasa. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, silaturahim bukan sekadar kebiasaan, tetapi nilai yang dijaga lintas generasi. Ia menjadi ruang untuk merajut ulang hubungan, memperbaiki yang retak, dan menguatkan yang masih tersambung.
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan hal yang sejalan: interaksi langsung menciptakan ikatan emosional yang lebih dalam dibanding komunikasi digital. Ada energi yang berpindah ketika seseorang hadir secara fisik—sesuatu yang tidak bisa ditransfer melalui layar.
Itulah sebabnya, setiap tahun, jutaan orang tetap memilih mudik. Meski macet, meski mahal, meski melelahkan. Mereka pulang bukan karena efisiensi, tetapi karena kebutuhan yang lebih mendasar: bertemu.
Di sisi lain, tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Ada yang terhalang jarak, waktu, atau kondisi. Dalam situasi seperti ini, teknologi menjadi jembatan yang penting. Pesan singkat, panggilan video, hingga ucapan berbasis AI membantu menjaga hubungan tetap terhubung.
Masalahnya muncul ketika jembatan itu berubah menjadi tujuan. Ketika ucapan cukup dikirim tanpa niat untuk hadir, ketika silaturahim cukup digantikan oleh broadcast message, di situlah makna mulai bergeser. Yang tersisa bukan lagi hubungan, melainkan rutinitas. Bukan lagi ketulusan, melainkan formalitas.
Lebaran, sejatinya, bukan tentang seberapa indah kita menyusun kata “maaf”. Ia tentang keberanian untuk merendahkan diri, keikhlasan untuk mengakui kesalahan, dan kesungguhan untuk memperbaiki hubungan. Semua itu membutuhkan lebih dari sekadar teks.
Kecerdasan buatan tidak salah. Ia hanyalah alat yang canggih, cepat, dan membantu. Ia bisa merangkai kata, memperindah kalimat, bahkan menyentuh emosi. Tapi ia tidak bisa menggantikan langkah kaki yang datang ke rumah seseorang. Ia tidak bisa menggantikan genggaman tangan yang hangat. Ia tidak bisa menggantikan kehadiran.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat, kita justru perlu memperlambat diri, setidaknya untuk hal-hal yang penting. Mengirim ucapan digital, tentu tidak masalah. Menggunakan AI, itu bagian dari perjalanan roda zaman. Tapi jangan berhenti di sana.
Luangkan waktu untuk menelepon. Sempatkan untuk berkunjung. Duduk bersama, meski sebentar. Karena pada akhirnya, yang diingat bukanlah seberapa indah kalimat yang kita kirim, tetapi momen ketika kita benar-benar hadir.
Di hari raya, kemewahan bukan lagi soal teknologi, melainkan tentang waktu dan hati yang kita berikan. Dan silaturahim, dengan segala kesederhanaannya, tetap menjadi cara paling jujur untuk menyampaikannya. (*)
*) Abdul Rokhim Ashari, Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik, Jawa Timur.
