Baitul Arqam Spemdalas: Membingkai Kecantikan Batin Muslimah di Era Digital

Reporter: Ain Nurwindasari

Berita Sekolah1623 Dilihat

SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) kembali menghelat Baitul Arqam bagi siswi kelas VIII putri. Dua hari penuh, Jumat-Sabtu, 22-23 Mei 2026, lingkungan sekolah itu disulap menjadi ajang penguatan karakter keislaman dan pembiasaan ibadah, mengajak para peserta menyelami makna sejati menjadi seorang muslimah di tengah riuhnya zaman.

Selama kegiatan, siswi terlibat dalam beragam agenda ibadah yang interaktif. Mulai dari muraja’ah, screening ibadah, forum diskusi muslimah, qiyamul lail, hingga salat berjamaah dan refleksi diri bersama pendamping. Semua dirancang agar mereka tak sekadar mencerna teori, melainkan turut merasakan pengalaman spiritual dan kebersamaan yang lekat di hati.

Salah satu materi yang paling menarik berjudul “Muslimah Cantik dengan Akhlak”, dibawakan oleh Fatma Hajar Islamiyah, guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan SD Muhammadiyah 2 GKB sekaligus ketua umum Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik. Ia memaparkan, status muslimah adalah kemuliaan, sebuah karunia dari Allah. Seorang muslimah, katanya, bukan hanya dituntut menjaga rupa lahiriah, melainkan wajib memperindah diri dengan akhlak karimah, keimanan teguh, dan ketaatan kepada Ilahi.

Peserta diajak memahami, identitas muslimah adalah kehormatan yang tak boleh lekang. Hijab, bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol keimanan dan kemuliaan diri. Di tengah geliat dunia digital, para siswi diingatkan untuk sigap menghadapi tantangan zaman dengan bekal ilmu dan iman, menjadikan media sosial sebagai ladang menebar kebaikan dan dakwah positif. Pentingnya sabar, khusyuk beribadah, dermawan, menjaga kehormatan, serta peduli sesama juga turut ditekankan. Sebab, kecantikan sejati muslimah bersemayam pada akhlak, tutur kata, sikap, dan kedekatannya dengan Allah.

Fatma Hajar Islamiyah juga mengingatkan, merawat diri adalah bentuk syukur atas nikmat Tuhan. Muslimah boleh berhias secara wajar, asalkan tetap dalam batas syariat dan menjaga kehormatan. Kebersihan, penampilan, dan aurat, tutur Fatma, adalah bagian tak terpisahkan dari identitas muslimah berakhlak mulia. Ia menekankan, remaja muslimah kini harus punya percaya diri sebagai perempuan Islam yang teguh memegang nilai-nilai agama di tengah derasnya arus modernisasi. “Menjadi muslimah itu privilege. Cantik bukan hanya tentang penampilan, tetapi bagaimana seorang muslimah menjaga akhlak, ibadah, dan kehormatannya. Di era digital ini, muslimah harus cerdas menggunakan media sosial dan menjadikannya sebagai ladang amal serta sarana menyebarkan kebaikan,” ungkapnya lugas.

Ain Nurwindasari, Wakil Kepala Sekolah bidang ISMUBA SMP Muhammadiyah 12 GKB, menambahkan, Baitul Arqam ini menjadi wadah pembentukan karakter muslimah yang kokoh secara spiritual maupun sosial. “Baitul Arqam bukan sekadar kegiatan menginap atau rutinitas tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran siswi agar menjadi muslimah yang berakhlak mulia, disiplin dalam ibadah, dan mampu menjaga identitas dirinya di tengah tantangan zaman. Kami berharap pembiasaan yang dilatih selama kegiatan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Senada, Nur Izzatus Sofiah, Ketua Panitia sekaligus Korbid Pembiasaan Putri kelas 7 dan 8, menjelaskan kegiatan disusun dengan konsep pembiasaan dan refleksi diri. Tujuannya, agar peserta tak hanya mendapat materi, tapi juga pengalaman spiritual langsung. “Kami ingin para siswi merasakan suasana kebersamaan dalam ibadah, belajar saling mengingatkan dalam kebaikan, serta memahami bahwa menjadi muslimah itu adalah kemuliaan. Melalui forum diskusi, screening ibadah, dan qiyamul lail, siswa diajak lebih dekat kepada Allah sekaligus membangun kepedulian terhadap teman-temannya,” pungkasnya.

Lewat Baitul Arqam ini, sekolah berharap para siswi tumbuh menjadi muslimah yang taat beribadah, berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat ukhuwah antar-siswa, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membiasakan mereka menjaga kehormatan diri di tengah perkembangan zaman. Nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya dipahami di kepala, melainkan mengakar dalam perilaku dan kebiasaan sehari-hari. Spemdalas berharap, siswi tak hanya unggul akademik, tapi juga memiliki akhlak mulia dan semangat menebar kebaikan.

Editor