GIRIMU.COM — Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Muhammadiyah 5 Gresik berlangsung dengan cara yang berbeda dan penuh pengalaman nyata, Selasa (27/1/2026. Pada materi teks negosiasi, siswa tidak hanya belajar melalui buku di kelas, tetapi diajak praktik langsung ke pasar sapi untuk memahami proses negosiasi secara riil di lapangan.
Didampingi guru Bahasa Indonesia, Isnaini Titawati, para siswa berinteraksi langsung dengan peternak dan pedagang. Mereka belajar menanyakan harga, menilai kualitas ternak, hingga melakukan tawar-menawar dengan bahasa yang santun dan komunikatif. Suasana belajar terasa lebih hidup karena siswa benar-benar terjun dalam situasi negosiasi yang sesungguhnya.
Tidak hanya berlatih sebagai pembeli, siswa juga berperan sebagai penjual. Mereka memasarkan produk hasil praktik dari kompetensi keahlian peternakan, seperti kohe/kotoran hewan olahan (pupuk kandang) dan bibit tanaman Indigofera sebagai pakan ternak berkualitas. Dalam proses ini, siswa belajar menawarkan produk, menjelaskan manfaatnya, hingga bernegosiasi harga dengan calon pembeli di pasar.
Menurut Isnaini Titawati, kegiatan ini membuat pembelajaran teks negosiasi menjadi lebih bermakna. “Siswa tidak hanya memahami struktur teks negosiasi, tetapi juga mempraktikkan langsung bagaimana menyampaikan penawaran, menghadapi penolakan, dan mencapai kesepakatan secara santun,” jelasnya.
Salah satu siswa, Fya Aulia, mengungkapkan kesannya. “Awalnya saya gugup menawarkan pupuk kandang ke pembeli, tapi setelah mencoba ternyata seru. Saya jadi belajar cara berbicara yang meyakinkan dan tetap sopan saat menawar,” ujarnya. Ia juga merasa kegiatan ini membuatnya lebih percaya diri karena belajar langsung dari situasi nyata.
Melalui kegiatan ini, pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya memahami teks negosiasi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan jual beli yang sesungguhnya. Pengalaman di pasar sapi ini menjadi bekal berharga bagi siswa untuk menghadapi dunia usaha dan dunia kerja di masa depan. (*)
Kontributor: Isnaini Titawati






