CMA ke-8 Gresik Bekali Mubalighat dengan 7 Kunci Dakwah

Reporter: Fitri Wulandari

Berita Sekolah20 Dilihat
banner 468x60

Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Gresik menggelar pertemuan Corps Muballighat Aisyiyah (CMA) ke-8 se-Kabupaten Gresik, Ahad (12/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Waroeng Aznia, Jalan Kalipang, Kecamatan Balongpanggang, tersebut membekali peserta dengan tujuh kemampuan penting dalam menjalankan tugas dakwah.

Pertemuan ini diikuti perwakilan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) dari 18 kecamatan di Kabupaten Gresik. Panitia membagi peserta menjadi tiga wilayah kerja, yakni wilayah utara, tengah, dan selatan.

Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Gresik, Khoiriyah, mengatakan CMA menjadi ruang belajar bersama bagi para mubalighat sebelum menjalankan tugas dakwah di cabang masing-masing.

“Kita sama-sama belajar untuk menjadi mubalighat ‘Aisyiyah di wilayah cabang masing-masing,” kata Khoiriyah.

Ia kemudian menyampaikan tujuh bekal yang harus dimiliki seorang mubalighat. Bekal pertama ialah menata niat sebelum menjalankan tugas dakwah.

Menurut Khoiriyah, perjalanan dakwah akan terasa lebih ringan apabila seseorang menjalankannya dengan niat karena Allah.

“Niat ibarat fondasi bangunan. Jika fondasinya kuat, seluruh bangunan juga akan kokoh,” ujarnya.

Bekal kedua ialah memperbanyak membaca. Seorang mubalighat harus terus menambah wawasan, terutama tentang materi yang berkaitan dengan persoalan keagamaan dan kehidupan masyarakat.

Ketiga, mubalighat harus menyiapkan materi secara matang sebelum menyampaikannya kepada peserta kajian.

“Ibu-ibu juga perlu menyiapkan kemungkinan pertanyaan dari peserta agar penyampaian materi lebih terarah,” jelasnya.

Khoiriyah mencontohkan pembahasan surat pendek seperti Al-Ikhlas. Meskipun pendek, mubalighat perlu menguraikan kandungannya secara luas karena berkaitan dengan pemahaman tauhid.

Bekal keempat ialah menguasai minimal satu tema secara mendalam. Penguasaan tersebut akan membantu mubalighat ketika mendapat permintaan mendadak untuk mengisi kajian.

Kelima, mubalighat perlu memiliki variasi mukadimah agar penyampaian materi tidak monoton.

Keenam, mubalighat harus memiliki selera humor yang proporsional dan mampu membaca ayat Al-Qur’an dengan baik. Humor dapat mencairkan suasana tanpa mengurangi keseriusan materi.

Ketujuh, mubalighat harus menyesuaikan materi dan cara penyampaian dengan kondisi audiens.

“Jika audiensnya masyarakat umum, hindari istilah-istilah yang kurang familier. Sisipkan juga hal-hal menarik yang dapat menambah semangat peserta,” pesannya.

Khoiriyah menambahkan, materi dakwah ‘Aisyiyah harus mengacu pada empat pilar utama, yakni akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.

Ia berharap kegiatan CMA terus berjalan sehingga para mubalighat memiliki kesempatan untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan berdakwah.

“Semoga kita selalu mendapat kesehatan dan kesempatan sehingga dapat bertemu kembali dalam pertemuan CMA berikutnya,” tuturnya.

Bahas Isu Perempuan Kontemporer

Setelah sambutan, peserta mengikuti materi bertema Tafsir Ayat-Ayat Perempuan yang disampaikan Nurfadhilah.

Materi tersebut menjadi pengantar bagi peserta untuk memahami kedudukan dan peran perempuan berdasarkan perspektif Al-Qur’an.

Acara kemudian berlanjut dengan praktik penyampaian materi dakwah. Setiap wilayah kerja membahas isu perempuan kontemporer.

Wilayah utara membawakan tema Poligami dalam Islam dan Perempuan Bekerja di Luar Rumah.

Wilayah tengah membahas Izin Puasa Sunah bagi Perempuan dan Donor ASI.

Sementara itu, wilayah selatan mengangkat tema Rukhsah bagi Perempuan Hamil, Menyusui, dan Nifas serta Perempuan sebagai Konten Kreator Dakwah.

Perwakilan PDA Gresik menutup rangkaian kegiatan dengan materi Penguatan Istinbat Hukum.

Sesi tersebut bertujuan memperkuat pemahaman peserta agar setiap materi dakwah memiliki dasar hukum yang jelas dan sesuai dengan manhaj Muhammadiyah.

Editor