Coding Jadi Cara Baru Bikin Belajar Anak TK Lebih Seru dan Bermakna

GIRIMU.COM — Siapa bilang coding hanya untuk anak remaja atau mahasiswa teknik? Di tangan para guru TK Aisyiyah di Kabupaten Gresik, coding justru menjadi cara baru yang membuat pembelajaran anak usia dini lebih asyik, kreatif, dan menyenangkan.

Kamis (12/2/2026), Pimpinan Daerah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (PD IGABA) Kabupaten Gresik menggelar Workshop Kompetensi Guru PAUD Aisyiyah di TK ABA 36 PPI, Manyar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satu materi yang paling menyita perhatian peserta disampaikan oleh Ria Pusvitasari, MPd, guru SD Muhammadiyah Manyar sekaligus penggagas Teachers Lab, sebuah ruang berbagi praktik baik antarguru. Dalam pemaparannya, ia menegaskan, bahwa kualitas guru tidak ditentukan oleh banyaknya jam mengajar, melainkan dari kesungguhan dalam melakukan observasi dan refleksi terhadap proses belajar anak.

“Guru yang baik bukan guru yang memiliki jam mengajar paling banyak, tetapi guru yang sering melakukan observasi dan refleksi terhadap pembelajarannya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, pembelajaran sejatinya harus berpusat pada anak. “Bukan bagaimana guru mengajar, tetapi bagaimana siswa belajar,” tegasnya.

Menurutnya, mengajar dengan tulus dan ikhlas merupakan “tabungan jiwa” yang kelak menjadi kebaikan dan keberkahan. Pembelajaran tidak boleh monoton, tetapi harus bermakna dan memberi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.

Coding untuk Anak TK

Dalam workshop tersebut, para guru diperkenalkan dengan konsep pembelajaran coding yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Coding tidak diajarkan dalam bentuk rumus atau bahasa pemprograman yang rumit, melainkan melalui pendekatan bermain.

Ada dua metode yang diperkenalkan:
* Unplugged coding, yaitu belajar coding tanpa layar. Anak diajak bermain menyusun instruksi sederhana, bergerak mengikuti perintah, atau memecahkan teka-teki berbasis langkah-langkah logis.
* ⁠Plugged coding, yaitu menggunakan perangkat digital dengan platform ramah anak, seperti code.org dan blockly.games.

Menariknya, workshop ini lebih banyak diisi praktik langsung daripada teori. Para guru mencoba sendiri berbagai aktivitas yang nantinya bisa diterapkan di kelas. Suasana pelatihan berlangsung aktif, penuh diskusi, dan dipenuhi antusiasme.

Pembelajaran coding di tingkat TK bukan bertujuan menjadikan anak sebagai programer. Lebih dari itu, coding melatih kemampuan berpikir komputasional sejak dini, yakni kemampuan menyusun langkah-langkah sederhana secara runtut dan logis.

Selain itu, dengan coding anak belajar memecahkan masalah ketika menghadapi tantangan, berani mencoba lagi saat melakukan kesalahan, serta merasakan percaya diri ketika berhasil menyelesaikan tugas. Aktivitas ini juga menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari kognitif, bahasa, sosial-emosional, hingga motorik.

Di sisi lain, coding juga menjadi tantangan positif bagi guru. Pembelajaran menjadi lebih kreatif, variatif, dan sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. Guru didorong untuk terus berinovasi dan merefleksikan praktik mengajarnya agar benar-benar berpusat pada anak.

Workshop ini menegaskan, bahwa teknologi tidak harus menjauhkan anak dari dunia bermain. Justru melalui pendekatan yang tepat, coding bisa menjadi sarana bermain yang cerdas dan menyenangkan. Dengan belajar sambil bermain, anak tumbuh lebih logis, kreatif, dan percaya diri. Sementara guru mengajar dengan hati yang tulus, menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna dan membahagiakan. (*)

Kontributor: Luthfi Dyah Radintari

Author