Di tengah hingar-bingar perayaan Idul Adha, ada pemandangan berbeda di Mojopetung, Dukun, Gresik. Ratusan warga menikmati daging kurban yang dibungkus rapi dengan daun jati dan besek, bukan kantong plastik sekali pakai. Ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan gerakan ‘Green Idul Adha’ yang dipelopori Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Aisyiyah (PRA) setempat, sebuah ikhtiar nyata menjaga bumi di Hari Raya Kurban. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Al-Muhajirin Mojopetung ini mengedepankan pengelolaan qurban bebas plastik, mulai dari persiapan hingga pendistribusian, Minggu (26/5/2026).
Inisiatif ini merupakan buah kolaborasi antara Pimpinan Cabang Aisyiyah Dukun dengan PRM dan PRA Mojopetung. Endang Nurhayati, ketua PCA Dukun, melontarkan apresiasi tinggi atas program yang mengajarkan nilai kepedulian lingkungan ini. “Alhamdulillah dengan program green Idul Adha ini mengajarkan kepada kita nilai kepedulian lingkungan, kelestarian lingkungan, dan ramah lingkungan,” ujarnya, sembari berterima kasih kepada jajaran PRM dan PRA Mojopetung atas dukungan dan partisipasi dalam lomba green Idul Adha.
Alfah, koordinator kegiatan green Idul Adha sekaligus sekretaris PCA Dukun, menjelaskan maksud dan tujuan program ini kepada Zakariyah, Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin Mojopetung. Ia menyebut inisiatif ini sebagai bentuk nyata ajaran Islam tentang menjaga bumi. “Muhammadiyah punya gerakan Eco Pesantren dan Eco Community. Idul Adha ini kami jadikan momentum mengedukasi warga agar ibadah qurban juga berdampak baik untuk lingkungan,” katanya.
Persiapan matang dimulai sehari sebelum hari H. Koordinator lomba memimpin tim ibu-ibu mengumpulkan daun jati, sementara tim PRM sibuk mendata penerima, mengatur teknis penyembelihan, dan menyiapkan sarana pengangkutan. “Sehari ini kami kerja keras yang luar biasa. Bapak-bapak cari bambu, ibu-ibu mengumpulkan daun jati. Ayunda Nasyiah juga ikut bantu mengumpulkan daun jati dan blarak,” cerita Sukariyah, Ketua PRA Mojopeting. Ia merasakan perbedaan yang kentara: “Rasanya beda, lebih guyub, lebih seru dan lebih bersih moment Idul Adha tahun ini.”
Antusiasme warga juga tak kalah tinggi. Banyak yang merasa senang mendapat daging dengan wadah alami. “Terimakasih Bu, tempatnya unik, dagingnya bersih dari bahan kimia, lingkunganku makin bersih,” ucap Suhailah, salah satu warga.
Usai shalat Id, warga bergegas menuju lapangan Masjid Al Muhajirin untuk menyaksikan proses penyembelihan 6 ekor sapi serta 41 ekor kambing. Proses pengemasan pun langsung dimulai. Daging dipotong, ditimbang, lalu dibungkus daun jati sebelum dimasukkan ke dalam besek. Tidak ada kantong plastik sama sekali yang terpakai.
Tim distribusi yang terdiri dari pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta beberapa ibu Aisyiyah turut mengantarkan daging dari rumah ke rumah menggunakan sepeda dan mobil kolbak. Tepat pukul 14.00, sebanyak 1.300 bungkus daging telah tersalurkan ke semua warga Mojopetung.
Konsep Green Idul Adha ini diharapkan menjadi pembelajaran berkelanjutan. “Kami ingin anak-anak melihat langsung: beribadah itu tidak merusak. Justru qurban bisa jadi gerakan cinta lingkungan,” harap Alfah.
Senada, Faris Hidayat memotivasi warga agar semangat ini tidak berhenti di Idul Adha. “Kalau besek dan daun jati bisa dipakai buat daging qurban, kenapa belanja di pasar masih pakai plastik? Mudah-mudahan ini jadi titik balik kebiasaan kita,” tegasnya.
Green Idul Adha PRM-PRA Mojopeting ditutup dengan makan bersama dan foto keluarga besar Muhammadiyah-Aisyiyah. Panitia menargetkan tahun depan cakupan bisa lebih luas, melibatkan ranting-ranting tetangga.
