Girimu.com — Lantunan kalimat talbiyah menggema dari Mas’udah, SAg, pembimbing manasik haji yang diikuti oleh 123 siswa Kelompok Bermain dan TK Aisyiyah 5 Bungah di pelataran Masjid Ahmad Dahlan Sidayu, Gresik pada Selasa (12/5/2026). Barisan para bocah dengan pakain Muslim warna putih mengikuti arahan untuk melakukan rangkaian “ibadah haji”, mulai berniat sebelum pemberangkatan, membaca kalimat talbiyah, wukuf, thawaf, sai, melempar jumroh, dan tahalul, semua itu dilakukan dengan penuh kegembiraan.
Tujuan dari kegiatan manasik haji untuk anak-anak adalah mengenalkan rukun Islam kelima, mengajarkan tata cara ibadah haji, serta menanamkan nilai agama, moral, dan kesabaran sejak dini melalui simulasi yang menyenangkan.
“Kebetulan pekan ini topik kami adalah Ibadah Haji ke Tanah Suci. Jadi, kami ingin mengenalkan secara langsung kepada anak-anak proses dan langkah-langkah pelaksanaan ibadah haji itu seperti apa. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mendengar cerita dari guru atau melihat videonya saja, namun juga merasakan pengalaman langsung. Harapan kami, apa yang dipelajarinya di sini akan membentuk memori jangka panjang tentang arti ketaatan sekaligus kecintaan pada agama dan rukun Islam kelima. Dengan begitu karakter disiplin dan mandiri juga terbangun sejak dini,” ujar Khumayah, SPd, Kepala TK Aisyiyah 5 Bungah.
Dikatakan, pelaksanaan manasik haji bagi para siswanya itu merupakan yang perdana dilakukan. Tentu, lanjutnya, hal ini menjadi pengalaman tersendiri tak hanya bagi anak-anak, namun juga bagi para guru.
Sementara Evi Maya Safitri, Kepala Kelompok Bermain (KB) Aisyiyah Bungah, juga menyampaikan, kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian pembelajaran ibadah haji. Dikatakan, dari awal anak-anak sudah dikenalkan tentang apa itu haji, apa saja yang diperlukan untuk berangkat haji, seperti menyiapkan paspor, tiket pesawat, tas selempang, hingga kerikil untuk lempar jumroh. Dengan demikian, pembelajaran nyata anak-anak ini lebih berfokus pada pendekatan belajar sambil bermain yang melibatkan eksplorasi langsung, pengalaman kontekstual, dan interaksi sosial.
Di akhir kegiatan anak-anak dibekali satu botol kecil air mineral dengan label ‘Zam-Zam’. Syamil, salah satu siswa kelompok A menyampaikan kegembiraannya saat mengikuti manasik haji. Bahkan, dengan polosnya ia izin untuk membawa pulang “air Zam-Zam”-nya.
“Bu ini air Zam-Zam-nya gak tak minum, tak bawa pulang aja buat oleh-oleh ibuku,” kata Syamil yang mengundang tawa dari guru-guru pendamping.
Kegiatan manasik haji ini menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan bagi anak-anak, sehingga mampu memberikan kesan emosional yang kuat. Dari kegiatan simulasi manasik haji ini, diharapkan tertanam memori positif dalam perkembangan kejiwaan anak, sehingga menumbuhkan kecintaan pada ajaran agama Islam. (*)
