Harapan di Ujung Keraguan

Penulis: Fiqi Palupi

Ada kalanya seseorang jatuh cinta pada sosok yang terasa begitu dekat, tetapi pada saat yang sama begitu jauh untuk digapai. Begitulah yang dirasakan Jimy. Setiap hari ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Caty.

Semakin hari, hubungan mereka semakin akrab. Mereka saling menyapa, sesekali berbincang, bahkan tertawa bersama. Namun di dalam hati Jimy, ada sebuah tembok yang sulit ia runtuhkan.
Tembok itu bernama perbedaan.

Menurutnya, Caty adalah perempuan yang berasal dari keluarga berada. Cantik, ramah, dan disukai banyak orang. Sedangkan dirinya hanyalah lelaki biasa dari keluarga sederhana yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski begitu, hati tidak pernah bertanya tentang status ataupun kasta ketika memilih seseorang untuk dicintai.

Semua berawal dari sebuah pertemuan singkat di tepi jalan desa. Pagi itu, Jimy melihat Caty berjalan sendirian. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Deg ….”
Jimy menundukkan kepala sejenak.

“Ketemu lagi sama dia. Aku sapa nggak ya? Kalau aku sapa nanti gimana? Tapi kalau nggak, kapan lagi?”

Pergulatan itu memenuhi pikirannya. Rasa malu dan keinginan untuk menyapa saling bertarung di dalam dadanya.

Pandangan mereka sempat bertemu. Jimy menarik napas panjang. Kali ini ia memberanikan diri.

“Hai… mau ke mana?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Caty tersenyum kecil.
“Oh, ini mau pulang ke rumah.”

Jawaban itu sederhana. Sangat sederhana. Namun bagi Jimy, kalimat pendek itu terasa seperti hadiah yang mampu membuat harinya lebih cerah. Mereka berbincang beberapa menit sebelum akhirnya berpisah.

Pertemuan yang singkat itu ternyata meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati Jimy. Malam pun tiba. Langit desa nampak indah dengan taburan bintang yang berkelip dan rembulan yang bersinar terang. Angin malam berembus pelan, menemani Jimy yang berbaring di kursi santai di depan rumahnya. Tatapannya lurus ke langit. Namun pikirannya kembali kepada Caty.

“Apa mungkin aku bisa mendapatkan dia?” gumamnya dalam hati.

“Aku ini siapa? Sedangkan dia… cantik, baik, keluarganya berada. Rasanya mustahil.”

Jimy menghela napas panjang.

“Jangankan menjadi orang yang istimewa di hatinya, mengenal keluarganya saja mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan.”

Malam semakin larut. Jarum jam terus bergerak tanpa terasa. Sudah hampir tiga jam Jimy memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Ia membangun harapan, lalu menghancurkannya sendiri dengan berbagai keraguan. Sampai akhirnya rasa lelah menyadarkannya. Jimy duduk perlahan dan menatap kembali langit malam. Lalu ia tersenyum tipis.

“Ah, sudahlah. Kalau memang Tuhan menakdirkan kami bersama, sejauh apa pun jalannya pasti akan dipertemukan. Dan kalau memang bukan untukku, setidaknya aku pernah merasakan bagaimana indahnya mengagumi seseorang.”

Ia bangkit dari kursinya.

“Daripada memikirkan sesuatu yang belum pasti, lebih baik aku istirahat. Besok aku harus bekerja lebih giat lagi. Siapa tahu, masa depan yang lebih baik sedang menungguku.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Jimy memilih menyerahkan segala kegelisahannya kepada Tuhan. Di bawah langit yang dipenuhi bintang, ia menutup hari dengan sebuah harapan sederhana:
Jika Caty memang ditakdirkan untuknya, semoga Tuhan menjaga perasaannya hingga waktu yang tepat tiba. (*)

*) Fiqi Palupi, Waka Humas MTs Muhammadiyah Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Editor