Harmoni Takbir dalam Hening Nyepi: Refleksi Toleransi Berkemajuan

wawasan2 Dilihat
banner 468x60

Oleh  M. Islahuddin

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia kembali membawa kita pada sebuah persimpangan ruang dan waktu yang unik. Tahun ini, gema takbir yang menandai kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, berpapasan di pintu yang sama dengan keheningan khidmat Hari Raya Nyepi. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah ujian kematangan bagi tenun kebangsaan kita. Dalam kacamata Islam Berkemajuan, situasi ini menuntut kita untuk mengedepankan sinergi antara kesalihan ritual dan kesalihan sosial.

Munculnya narasi “Jangan menggurui Muhammadiyah soal toleransi” di ruang publik belakangan ini bukanlah sebuah ungkapan kesombongan, melainkan sebuah pernyataan fakta historis. Muhammadiyah, sebagai gerakan tajdid yang lahir lebih dari satu abad silam, telah memiliki rekam jejak yang matang dalam menavigasi pluralitas di Indonesia. Toleransi bagi Muhammadiyah bukanlah komoditas politik musiman, melainkan manifestasi dari teologi al-Ma’un yang diterjemahkan ke dalam sistem organisasi yang disiplin.

Kedisiplinan organisasi inilah yang menjadi kunci. Muhammadiyah memiliki prosedur internal yang jelas melalui mekanisme Tarjih dan maklumat pimpinan yang berlandaskan pada kemaslahatan umum. Ketika situasi menuntut adanya penyesuaian seperti pelaksanaan takbiran di tengah suasana Nyepi Muhammadiyah tidak bertindak atas dasar emosi sesaat, melainkan melalui pertimbangan syar’i dan rasional yang mendalam.

Sinergi Akal dan Wahyu dalam Moderasi
Mengacu pada diskursus mengenai hidayah, Allah SWT telah menganugerahkan hidayah al-‘aql (akal rasio) dan hidayah al-wahyi (wahyu/agama) kepada manusia sebagai bekal menjalankan tugas kekhalifahan. Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami dan merumuskan sesuatu demi kesejahteraan hidup , sementara wahyu memberikan arah moral agar akal tidak terjebak dalam kepentingan egoistis semata.

Dalam menghadapi persinggungan takbiran dan Nyepi, penggunaan akal yang jernih (tafakkur) menjadi krusial. Akal merupakan kunci untuk mendapatkan pengetahuan, baik dari fenomena alam maupun fenomena sosial (ayat kawniyah). Melalui akal, kita memahami bahwa esensi takbir adalah mengagungkan kebesaran Allah, yang bisa dilakukan tanpa harus mengganggu kekhusyukan tetangga kita yang sedang melaksanakan ibadah dalam sunyi. Wahyu memberikan perintah untuk bertakwa, namun akal memberikan metodologi bagaimana ketakwaan itu diwujudkan dalam ruang publik yang majemuk.

Al-Quran sering menekankan pentingnya menjadi Ulul Albab orang-orang yang menggunakan akal budi dan hati nurani secara seimbang. Seorang Ulul Albab tidak akan melihat perbedaan sebagai ancaman, melainkan sebagai objek perenungan (tadabbur) untuk mengambil pelajaran.

Toleransi dalam pandangan Muhammadiyah adalah toleransi yang aktif dan konstruktif. Hal ini tercermin dalam bagaimana organisasi menyiapkan prosedur bagi warganya: misalnya, mengimbau agar takbiran dilakukan di dalam masjid tanpa pengeras suara luar yang berlebihan di wilayah yang mayoritas merayakan Nyepi. Ini bukan bentuk “mengalah” yang melemahkan aqidah, melainkan bentuk kemuliaan akhlak yang disempurnakan oleh wahyu. Akal yang sehat akan menuntun pada kesimpulan bahwa syiar agama tidak selalu berbanding lurus dengan volume suara, melainkan pada kedalaman makna dan dampak kedamaian yang ditimbulkannya.

Menuju Indonesia yang Berkemajuan
Situasi bertemunya malam takbiran dengan hari Nyepi adalah momentum emas bagi kita untuk mempraktikkan “Darul Ahdi wa Syahadah” melihat Indonesia sebagai negara kesepakatan dan tempat pembuktian ketakwaan kita. Muhammadiyah, dengan watak moderasi (wasathiyah), memandang bahwa martabat manusia ditentukan oleh kemampuannya menggunakan akal pikiran dan hati nurani dalam menghadapi persoalan sosial.

Mereka yang gagal menggunakan akal budinya dalam melihat keberagaman sering kali terjebak dalam konflik yang tidak perlu, yang oleh teks-teks agama digambarkan sebagai kondisi yang mengabaikan fitrah kemanusiaan. Sebaliknya, dengan mengedepankan hidayah al-adyan yang inklusif, kita mampu memilah mana yang hak dan mana yang batil dalam konteks hidup bernegara.

Sebagai penutup, kedewasaan kita dalam beragama sedang diuji. Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat fenomena ini sebagai kesempatan untuk memperkuat integrasi nasional. Mari kita agungkan nama Tuhan dalam sanubari yang paling dalam, sembari menghormati kesunyian sesama saudara sebangsa. Inilah wujud nyata dari Islam yang mencerahkan, Islam yang tidak hanya sibuk dengan ritual vertikal, tapi juga peka terhadap harmoni horisontal.

Dengan memadukan dorongan wahyu untuk berbuat baik dan ketajaman akal untuk mencari solusi teknis di lapangan, kita dapat memastikan bahwa malam takbiran tahun ini tetap syahdu tanpa mencederai heningnya Nyepi. Itulah sebenar-benarnya bukti bahwa kita adalah umat yang berpikir (la’allakum ta’qilun). (*)

*) M. Islahuddin, Kader Muda Muhammadiyah, Guru di SMA Muhammadiyah 1 Gresik.

Editor