{"id":12018,"date":"2022-09-11T17:21:12","date_gmt":"2022-09-11T09:21:12","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/09\/11\/pak-ar-ketum-pp-muhammadiyah-yang-lebih-nu-dari-orang-nu-pwmu-co\/"},"modified":"2022-09-11T20:26:32","modified_gmt":"2022-09-11T12:26:32","slug":"pak-ar-ketum-pp-muhammadiyah-yang-lebih-nu-dari-orang-nu-pwmu-co","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=12018","title":{"rendered":"Pak AR, Ketum PP Muhammadiyah yang Lebih NU dari Orang NU | PWMU.CO"},"content":{"rendered":"<div>\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full\" width=\"1040\" height=\"780\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-255882\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23.jpeg 1040w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23-300x225.jpeg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23-150x113.jpeg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23-768x576.jpeg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.23-750x563.jpeg 750w\" sizes=\"auto, (max-width: 1040px) 100vw, 1040px\"\/><figcaption>Jamaah Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah Tulungagung, 4 September 2022 (Aji Damanuri\/PWMU.CO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pak AR, Ketum PP Muhammadiyah yang Lebih NU dari Orang NU; Liputan Kontributor PWMU.CO Tulungagung <strong><strong><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/aji-damanuri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Aji Damanuri<\/a><\/strong><\/strong>.<\/p>\n<p><strong>PWMU.CO<\/strong> \u2013 Setelah memaparkan <a href=\"https:\/\/pwmu.co\/255874\/09\/11\/gus-dur-muhammadiyah-tulen-yang-dititipkan-di-nu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">kelebihan dan kebanggaan terhadap Muhammadiya<\/a><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/255874\/09\/11\/gus-dur-muhammadiyah-tulen-yang-dititipkan-di-nu\/\">h<\/a>, Nurbani Yusuf mengajak sekitar 800 warga Muhammadiyah Tulungagung bermuhasabah kekurangan Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Pada Pengajuan Ahad Pagi di Masjid al-Fattah Tulungagung itu, dia mengajak jamaah merenungkan apa yang hilang dari Muhammadiyah sekarang, Ahad (4\/9\/22). Menurut Ketua Komunitas Padang Mahsyar di Kota Batu ini, Jawa Timur, ada delapan hal yang mulai hilang di Muhammadiyah.<\/p>\n<h4><strong>Tradisi Pesantren<\/strong><\/h4>\n<p>Pertama, tradisi pesantren. Nurbani menegaskan, \u201cPendiri Muhammadiyah itu santri pesantren kemudian berkiprah di masyarakat dan disebut kiai. Ingat, pendiri Muhammadiyah itu kiai, bukan ustadz!\u201d<\/p>\n<p>Karena itu, Nurbani mnegimbau, tokoh-tokoh Muhammadiyah harus dipanggil kiai, bukan ustadz. \u201cApalagi ustadz yang mengganggu Muhammadiyah. Kiai itu tradisi pesantren yang hilang di Muhammadiyah. Padahal gelar itu bukan hanya sebuah nama namun mengandung tanggung jawab keberlangsungan dakwah,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-pwmu-co-portal-berkemajuan wp-block-embed-pwmu-co-portal-berkemajuan\"\/>\n<h4><strong>Akhlak<\/strong><\/h4>\n<p>Kedua, akhlak. Menurutnya, sistem akhlak di Muhammadiyah dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah itu perlu dirinci dan diajarkan secara masif. \u201cBagaimana akhlak anak-anak kita kepada gurunya?\u201d tanya dia.<\/p>\n<p>Nurbani mengingatkan, \u201cKita sering mengkritik saudara sebelah keterlaluan dalam menghormati kiainya sampai menimbulkan kultus, itu juga keterlaluan! Namun perlakuan warga Muhammadiyah terhadap para tokohnya juga sangat keterlaluan cueknya.\u201d<\/p>\n<p>Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gunungsari itu kemudian bertanya, \u201cPernahkan Bapak Ibu mendoakan Kiai Dahlan? Kiai Suja? Ki Bagus Hadikusumo? Mendoakan para pendiri dan tokoh Muhammadiyah itu adalah bentuk penghormatan dan kecintaan!\u201d<\/p>\n<p>Lagi-lagi Nurbani melontarkan pertanyaan retorik, \u201cPernahkan Bapak Ibu berziarah ke makam para pendiri dan tokoh Muhammadiyah? Ziarah itu sunnah. Datang ke kuburan ada caranya. Mengucapkan salam, melepas alas kaki, tidak menginjak kuburan, menghadap kiblat, mendoakan ahli kubur dan yang kita ziarahi itu adalah sunnah!\u201d\u00a0<\/p>\n<p>\u201cBagaimana, warga Muhammadiyah kok tidak mau ziarah?\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Jika memang tidak setuju dengan prilaku peziarah kelompok lain yang memuja-muja kuburan, dia memang menegaskan tidak melakukannya. Tapi dia mengimbau melakukan yang sesuai sunnah.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMasak ya setelah menghadiri muktamar di Solo nanti kita malah jalan-jalan ke Pasar Klewer dan tidak ada keinginan berziarah ke makam para pendiri Muhammadiyah?\u201d tanya Nurbani.<\/p>\n<p>Dia menyimpulkan, akhlak itu penghormatan sesuai sunnah, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Seperti akhlak terhadap orang tua, para guru, tetangga, sesama pengurus, maupun kelompok lain. \u201cSistem akhlak di Muhammadiyah perlu disegarkan lagi sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW!\u201d sarannya.<\/p>\n<p>Terkait akhlak, Nurbani pernah punya pengalaman mencengangkan. Suatu saat, dia diundang salah satu pesantren NU dan dijaga oleh Kokam dan Banser. Usai acara\u2013saat ramah tamah\u2013Nurbani mengobrol dengan salah satu tokoh senior. Lalu ada yang berbisik, \u201cPak Kiai, kalau Njenengan belum memulai makan, maka tidak ada yang berani makan.\u201d<\/p>\n<p>Nurbani agak terkejut kemudian mulai makan dan diikuti dengan yang lainnya. Dalam hati Nurbani membatin, \u201cBiasanya saya didahului yang lain, bahkan kadang kiainya tidak kebagian.\u201d<\/p>\n<p>Setelah ramah tamah, Nurbani kembali mengobrol dengan beberapa tokoh. Karena cukup gayeng dan asyik, maka memakan waktu yang lama.<\/p>\n<p>Ada yang membisikinya lagi, \u201cKiai, kalau panjenengan belum pamit, panitia semua tidak berani pulang.\u201d Menyadari hal itu, Nurbani segera pamit. Begitu indahnya akhlak yang ditunjukkan yang ini mulai luntur di Muhammadiyah.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full\" loading=\"lazy\" width=\"1092\" height=\"806\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-255876\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24.jpeg 1092w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24-300x221.jpeg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24-150x111.jpeg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24-768x567.jpeg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/WhatsApp-Image-2022-09-10-at-20.29.24-750x554.jpeg 750w\" sizes=\"auto, (max-width: 1092px) 100vw, 1092px\"\/><figcaption>Pengasuh Komunitas Padang Mahsyar Kota Batu Nurbani Yusuf dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah Tulungagung, 4 September 2022 (Aji Damanuri\/PWMU.CO)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><strong>Filsafat<\/strong><\/h4>\n<p>Ketiga, filsafat. Nurbani menyatakan, tradisi berpikir di Muhammadiyah progresif sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran segar dan solutif. Dia menilai, tradisi berpikir ini juga melahirkan banyak tokoh di Muhammadiyah.<\/p>\n<p>\u201cKebebasan berpikir di Muhammadiyah itu tidak mungkin sesat. Karenanya, jangan sampai warga Muhammadiyah ikut-ikutan memberi lebel liberal kepada para tokoh kita padahal belum pernah mengkaji pemikirannya secara lengkap dan tuntas. Dawam Raharjo liberal, Prof Amin Abdulah liberal, Harun Nasution liberal, dan lain-lain,\u201d jelas dia.<\/p>\n<p>Stigma itu, kata Nurbani, diembuskan kelompok non Muhammadiyah yang kadang juga diikuti sebagian warga Muhammadiyah. \u201cSemua yang lahir di Muhammadiyah lahir dari tradisi berpikir, tradisi berfilsafat,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<h4><strong>Tasawuf<\/strong><\/h4>\n<p>Keempat, tasawuf. Nurbani menyadari, sering kali di antara mereka menganggap tasawuf itu sesat hanya karena melihat praktik yang tidak sesuai sunnah. \u201cBuya Hamka pernah menulis Tasawuf Modern, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggagas Tasawuf Ihsan, ini cukup bagi kita,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dia menginbau, yang tidak sesuai sunnah, tidak perlu diikuti.\u00a0 \u201cTapi tasawuf dalam arti taqarrub tetap penting dilakukan dalam rangka membangun spiritualitas umat. Misalnya berdzikir dari setelah shalat Subuh dengan membaca kalimah thayyibah sampai waktu syuruk dan dilanjutkan shalat Dhuha adalah salah satu bentuk tasawuf yang mestinya dilakukan supaya amal usaha kita ada keberkahan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Berdasarkan pengamatannya, tasawuf ini juga hilang di Muhammadiyah. \u201cKonon Pak AR Fakhrudin itu kalau dzikir bakda shalat lama sekali. Sampai dikatakan lebih NU dari orang NU, sementara warga Muhammadiyah jarang melakukan dzikir lama,\u201d ujarnya. <\/p>\n<h4><strong>Seni Musik<\/strong><\/h4>\n<p>Kelima, seni musik. Musik itu, kata Nurbani, melembutkan hati. Muhammadiyah tidak mengharamkan musik, salafi yang mengharamkan. \u201cBagi Muhammadiyah, status musik tergantung pada kemanfaatannya. Jika menimbulkan ketaatan maka boleh, jika menimbulkan kemaksiatan ya dilarang,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Bahkan, lanjutnya, musik bisa jadi media pembelajaran. \u201cTradisi shalawat dan pujian di NU itu sangat menolong kefasihan dalam membaca al-Quran karena meskipun belum tahu artinya tetapi lisannya terbiasa melafalkan kalimat-kalimat Arab,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, inilah sebab mereka mayoritas lebih fasih membaca al-Quran disbanding orang Muhammadiyah. Katanya, \u201cKan aneh jika warga Muhammadiyah lebih familiar dengan konser-konser Korea dibanding lagu-lagu religi berbahasa Arab?\u201d<\/p>\n<h4><strong>Politik<\/strong><\/h4>\n<p>Keenam, politik. \u201cPemilu langsung itu membuat suara kita tidak begitu diperhitungkan, kadang gagap dalam berpolitik praktis. Maka perlu formula agar kiprah Muhammadiyah dipanggung politik tetap diperhitungkan,\u201d jelas Nurbani.<\/p>\n<p>Dia menekankan, \u201cNegara ini lahir dari rahim Muhammadiyah. Sudah seharusnya kita berbakti membangun negeri ini. Warga Muhammadiyah dalam politik praktis tidak boleh golput! Harus tetap cerdas dalam pilihan!\u201d\u00a0<\/p>\n<p>Nurbani mengungkap, ada tiga parpol yang dekat dengan Muhammadiyah. Oleh karena itu, dia mengajak warga Muhammadiyah cerdas dalam berpolitik.<\/p>\n<h4><strong>Ideologi<\/strong><\/h4>\n<p>Ketujuh, ideologi. Ini yang katanya sering dia kritik. Sebab, tidak ada satu kata yang jelas ketika ditanya ideologi Muhammadiyah itu apa. Padahal, dia menyatakan, kelompok lain jelas branding ideologisnya.<\/p>\n<p>\u201cKetika disebut NU, pasti aswaja. Salafi ideologinya wahabi, HTI ideologinya khilafah, protestan ideologinya kapitalis, dan seterusnya,\u201d urai Nurbani.<\/p>\n<p>\u201cTapi ketika menyebut ideologi Muhammadiyah, masih harus berpikir keras, apakah Dahlanisme atau apa? Banyak tokoh mengidentifikasi warga kita menjadi MUNU, Marhaen, Musa, dan lain-lain, tetapi belum menegaskan ideologi Muhammadiyah,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Mungkin bisa jadi ideologi Muhammadiyah itu ideologinya berkemajuan, sambung Nurbani, tapi harus ada kesepakatan dalam satu kata saja untuk menunjukkan ideologinya. \u201cSetelah seabad perjalanan, supaya tidak digerogoti ideologi lain yang ingin menguasai, Muhammadiyah harus mentahfidhkan ideologinya,\u201d sarannya.<\/p>\n<h4><strong>Fatwa<\/strong><\/h4>\n<p>Terkahir, fatwa. \u201cKelompok lain banyak mengeluarkan fatwa dalam semua hal, bahkan yang remeh. Mereka berfatwa dengan tegas dan keras. Sementara mencari fatwa tarjih di Google amatlah susah! Makanya, Majelis Tarjih harus responsif terhadap masalah-masalah sosial,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ada satu fatwa tentang rokok yang dikritik Nurbani Yusuf. Meskipun beliau tidak merokok dan tunduk terhadap fatwa itu, menurutnya ada yang mengganjal tentang alasan pengharaman rokok.<\/p>\n<p>Dalam guyonannya, warga Muhammadiyah diminta memiliki dua kartu. \u201cKartu Tanda Muhammadiyah (Katam) dan NU (Kartanu) supaya selamat di akhirat nanti dari adzab neraka,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Dia menjelaskan, \u201cKalau ditanya masyarakat, mengapa mendukung keharaman rokok maka menunjukkan Katam. Jika sudah meninggal dan ditanya malaikat apakah merokok atau tidak maka Kartanu yang dikeluarkan. Jadi selamat!\u201d<\/p>\n<p>Intinya, selain responsif, Muhammadiyah juga harus lebih cermat dalam berfatwa. \u201cCoba, seseorang diminta merokok setiap hari selama dua bulan dan yang satu lagi diminta setiap hari makan sate-gulai kambing selama dua bulan juga. Siapa kira-kira yang masuk rumah sakit duluan?\u201d tanya Nurbani. Jamaah langsung tertawa.<\/p>\n<p>Dia menegaskan, \u201cFatwa rokok itu dzanni bukan qat\u2019iy, beda dengan keharaman darah dan daging babi sehingga fatwa ijtihadi tersebut bisa dikoreksi. Selama masih belum direvisi ya kita dukung!\u2019<\/p>\n<p>Begitulah paparan Nurbani yang perlu dipikirkan warga Muhammadiyah sebagai bentuk kritik dan kecintaan terhadap persyarikatan.\u00a0 (*)<\/p>\n<p>Editor <strong>Mohammad Nurfatoni<\/strong>\/<strong>SN<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/255949\/09\/11\/pak-ar-ketum-pp-muhammadiyah-yang-lebih-nu-dari-orang-nu\/\">sumber berita<\/a> by <a href=\"\">[pwmu.co]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jamaah Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah Tulungagung, 4 September 2022 (Aji <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=12018\" title=\"Pak AR, Ketum PP Muhammadiyah yang Lebih NU dari Orang NU | PWMU.CO\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":12019,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[101,440,439],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2322],"class_list":["post-12018","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-kabar","category-muhammadiyah-news-network","category-pwmu-co","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2322,"user_id":8,"is_guest":0,"slug":"pwmu-co","display_name":"PWMU CO","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f15f1d1322b4c7ebbc526efeb445a60ad49b675f17de7d9b1484949e600541a?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"PWMU","last_name":"CO","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12018"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12018\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12022,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12018\/revisions\/12022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12019"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12018"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=12018"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=12018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}