{"id":13293,"date":"2022-10-10T22:44:15","date_gmt":"2022-10-10T14:44:15","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/10\/10\/napak-tilas-sejarah-kh-ahmad-dahlan-bersama-cicitnya-pwmu-co\/"},"modified":"2022-10-10T22:44:15","modified_gmt":"2022-10-10T14:44:15","slug":"napak-tilas-sejarah-kh-ahmad-dahlan-bersama-cicitnya-pwmu-co","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=13293","title":{"rendered":"Napak Tilas Sejarah KH Ahmad Dahlan Bersama Cicitnya | PWMU.CO"},"content":{"rendered":"<div>\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"579\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress.jpg\" alt=\"Napak tilas sejarah\" class=\"wp-image-260309\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress.jpg 800w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-300x217.jpg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-150x109.jpg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-768x556.jpg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-120x86.jpg 120w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-750x543.jpg 750w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\"\/><figcaption>Munichy B Edrees <\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>PWMU.CO<\/strong>\u2013 Napak tilas sejarah KH Ahmad Dahlan bersama <a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/cicit-ahmad-dahlan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">cicit KH Ahmad Dahlan<\/a>, Ustadz <a href=\"https:\/\/www.caknun.com\/2017\/purna-bhakti-pak-munichy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Ir Munichy Bachron Edrees <\/a>MArch, menutup rangkaian acara Pelatihan Nasional Mubaligh Muda Muhammadiyah (PNM3) angkatan ke-13.<\/p>\n<p>Acara terakhir napak tilas sejarah KH Ahmad Dahlan ini digelar oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah di <a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/masjid-gedhe-kauman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Masjid Gedhe <\/a>Kauman Yogyakarta, Sabtu (8\/10\/2022).<\/p>\n<p>Di awal paparan, <a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/munichy-b-edrees\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Munichy B. Edrees <\/a>menjelaskan, perjuangan \u00a0KH Ahmad Dahlan sangat luar biasa. Meninggal di usia relatif muda pada usia 54 tahun.<\/p>\n<p>\u201dKH Ahmad Dahlan dulu mendirikan Muhammadiyah bertujuan untuk mengembalikan Islam semurni- murninya sesuai dengan al-Quran dan sunnah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kemudian, kata Munichy B. Edrees, KH Ahmad Dahlan di dalam beragama itu bukan tekstual tapi kontekstual. Sehingga mengatakan al-Quran bukan sekadar dibaca dan dihafalkan. Tapi diamalkan di dalam kehidupan.<\/p>\n<p>\u201dKarena al-Quran itu bukan tulisan dan buku, tapi firman Allah swt. Makanya KH Ahmad Dahlan sering merujuk kepada al-Quran dan hadist Nabi Muhammad saw,\u201d sambung mantan Ketua Umum Ikatan\u00a0Arsitek\u00a0Indonesia\u00a0(IAI).<\/p>\n<p>Dia menambahkan, dulu Nabi Muhammad saw pernah khawatir kalau Quran itu hanya dibaca. Kalau al-Quran nanti tinggal dibaca, maka al-Quran nanti tinggal tulisan. Kalau tinggal tulisan, maka Islam itu tinggal nama.<\/p>\n<p>\u201dBanyak orang yang mengatakan Islam. Tapi sangat jauh orang yang mengamalkan al-Quran, syariat Islam. Karena orang sekarang rata-rata pintar pidato dan kultum di masjid, tapi tidak paham Quran,\u201d sambungnya.<\/p>\n<p>Maka terjadilah konflik jamaah di dalam masjid. Karena banyak yang tidak paham Quran. Menurut dia, makhluk paling buruk di muka bumi adalah ulama yang tidak paham al-Quran. Kebanyakan menafsirkan al-Quran semaunya sendiri. Karena itu KH Ahmad Dahlan dulu mengatakan, al-Quran itu diamalkan.<\/p>\n<h4><strong>Mengamalkan Surat al-Maun<\/strong><\/h4>\n<p>Kemudian dia bercerita, suatu ketika dalam pengajian rutin Subuh, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan tafsir surat al-Maun berulang-ulang selama beberapa hari tanpa diganti surat lainnya.<\/p>\n<p>Seorang santri Kiai Ahmad Dahlan penasaran. Lalu ia memberanikan diri bertanya kepada sang Guru. \u201dMengapa materi pengajian tidak ditambah dan hanya mengulang-ulang surat al-Ma\u2019un saja?\u201d tanya santri bernama Sudjak itu.<\/p>\n<p>Mendengar pertanyaan itu, Kiai Ahmad Dahlan kembali bertanya kepada santrinya,\u201dApakah kalian sudah benar-benar mengerti akan maksud surat al-Maun?\u201d<\/p>\n<p>Para santri serentak menjawab bahwa mereka tidak hanya paham, bahkan sudah hafal. Kemudian Kiai Dahlan bertanya kepada mereka, apakah arti ayat-ayat yang sudah dihafal tersebut sudah diamalkan?<\/p>\n<p>Para santri menjawab dengan bertanya,\u201dApa yang harus diamalkan, bukankah surat al-Maun sering dibaca ketika shalat?\u201d<\/p>\n<p>Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan kepada muridnya, bukan itu yang dimaksud dengan mengamalkan, tapi apa yang sudah dipahami dari ayat ini untuk bisa dipraktikkan dan dikerjakan dalam wujud nyata.<\/p>\n<p>Karena itu, Kiai Ahmad Dahlan masih mengulang surat al-Maun sampai santri-santrinya melakukan aksi terhadap ayat ini. \u201dKetahuilah Quran itu diamalkan, bukan hanya dipelajari dan dihafalkan,\u201d tutur Kiai Dahlan.<\/p>\n<p>Kemudian santrinya disuruh mencari orang fakir miskin. Pada saat itu masih zaman penjajahan sehingga banyak sekali anak fakir miskin. Jadi mudah mencarinya.<\/p>\n<p>Munichy B Edrees mengatakan, berangkat dari sana, jika sekarang melihat aset Muhammadiyah sangat banyak sekali, itu gara-gara mengamalkan surat al-Maun.<\/p>\n<p>\u201dBetapa dahsyatnya jika kita hidup itu mengamalkan al-Quran. Quran\u00a0 itu yang membimbing orang masuk surga,\u201d tuturnya.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"800\" height=\"498\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-260310\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2.jpg 800w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2-300x187.jpg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2-150x93.jpg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2-768x478.jpg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Munuchi-B-Edress-2-750x467.jpg 750w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\"\/><figcaption>Munichy B. Edrees<\/figcaption><\/figure>\n<h4><strong>Istiqamah<\/strong><\/h4>\n<p>Munichy menambahkan, KH Ahmad Dahlan itu orangnya istiqamah. Berpegang kepada sunnah Rasul dan sangat cerdas.<\/p>\n<p>KH Ahmad Dahlan dulu prihatin terhadap masyarakat Jawa. Banyak yang menyembah pohon. Masih percaya kepada yang irasional. \u201dItu akibat orang pada waktu itu taqlid kepada orang-orang tua,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Maka itu diberantas oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah jadi anti taqlid. Pada waktu itu KH Ahmad Dahlan memberantas namanya TBC (Tahayul, Bid\u2019ah, Churofat).<\/p>\n<p>Keistiqamahan KH Ahmad Dahlan itu karena selalu ingat mati. \u201dOrang yang cerdas itu orang yang ingat mati. Karena dengan ingat mati, akan menyiapkan bekal,\u201d ujarnya. Di kamar Kiai Dahlan ada tulisan pesan kepada dirinya untuk selalu ingat mati.<\/p>\n<p>\u201dKH Ahmad Dahlan orangnya itu sedikit bicara banyak bekerja. Tapi setiap yang diomongkan itu semuanya bermanfaat. Karena semuanya merujuk dari al-Quran dan as-Sunnah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kemudian dia bercerita, dahulu ada tamu kiai dari Semarang yang mendatangi KH Ahmad Dahlan. Setelah masuk, tamunya melihat foto-foto di ruang tamu. Foto kegiatan Hizbul Wathan, dan Kongres Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Kiai dari Semarang bilang ke KH Ahmad Dahlan,\u201dKiai, foto-foto itu dicopot saja. Itu haram karena Nabi dulu tidak pernah majang foto.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian KH Ahmad Dahlan bertanya. \u201dTadi kamu dari Semarang ke sini naik apa?\u201d<\/p>\n<p>Tamu itu menjawab,\u201dNaik kereta api.\u201d<\/p>\n<p>\u201dKamu bid\u2019ah,\u201d kata KH Ahmad Dahlan. \u201dKarena kamu ke sini tidak naik unta.\u201d<\/p>\n<p>Paparan napak tilas sejarah KH Ahmad Dahlan pun berakhir.<\/p>\n<p>Penulis <strong><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/alfain-jalaluddin-ramadlan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Alfain Jalaluddin Ramadlan<\/a><\/strong>\u00a0 Editor <strong>Sugeng Purwanto<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/260308\/10\/10\/napak-tilas-sejarah-kh-ahmad-dahlan-bersama-cicitnya\/\">sumber berita<\/a> by <a href=\"\">[pwmu.co]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Munichy B Edrees PWMU.CO\u2013 Napak tilas sejarah KH Ahmad Dahlan bersama cicit <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=13293\" title=\"Napak Tilas Sejarah KH Ahmad Dahlan Bersama Cicitnya | PWMU.CO\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":13294,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440,439],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2322],"class_list":["post-13293","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","category-pwmu-co"],"authors":[{"term_id":2322,"user_id":8,"is_guest":0,"slug":"pwmu-co","display_name":"PWMU CO","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f15f1d1322b4c7ebbc526efeb445a60ad49b675f17de7d9b1484949e600541a?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"PWMU","last_name":"CO","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13293","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13293"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13293\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13294"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13293"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=13293"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=13293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}