{"id":16680,"date":"2022-12-18T23:32:20","date_gmt":"2022-12-18T15:32:20","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/12\/18\/sejarah-karedok-kuliner-khas-indonesia-bernilai-tinggi\/"},"modified":"2022-12-18T23:32:20","modified_gmt":"2022-12-18T15:32:20","slug":"sejarah-karedok-kuliner-khas-indonesia-bernilai-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=16680","title":{"rendered":"Sejarah Karedok, Kuliner Khas Indonesia Bernilai Tinggi"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div itemprop=\"text\">\n<p><strong>BANDUNGMU.COM<\/strong> \u2013 Jika Anda suka salad, semestinya Anda juga bisa menikmati karedok. Makanan khas asal Jawa Barat ini menyajikan aneka sayuran segar yang disajikan dengan bumbu kacang yang gurih.<\/p>\n<p>Mengutip indonesiakaya.com, karedok merupakan \u201cjenis makanan khas Sunda untuk teman nasi (saat makan),\u201d kata budayawan Ajip Rosidi dalam \u201cEnsiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya\u201d, termasuk Budaya Cirebon dan Betawi.<\/p>\n<p>Ajip menambahkan, ada tiga macam karedok, yaitu karedok leunca, karedok terong, dan karedok kacang panjang. Karedok leunca berbahan leunca yang masih hijau.<\/p>\n<p>Bumbunya terdiri atas garam, terasi, kencur, gula,\u00a0bawang putih, serta\u00a0serawung (kemangi). Bumbu dilembutkan dalam cobek, disusul leunca dan kemangi digerus tapi tidak sampai lembut betul. Kalau sudah padu, karedok leunca siap dihidangkan.<\/p>\n<p>Karedok terong berbahan utama terong lalap (bukan terung\u00a0sayur). Kadang-kadang ditambah kacang panjang, mentimun, tauge, kol, dan\u00a0serawung.<\/p>\n<p>Bumbunya terdiri atas garam, terasi, gula merah, kencur, asam, dan oncom. Bahan-bahannya diiris-iris, kecuali serawung\u00a0dan tauge, lalu diaduk dengan bumbu yang telah dilembutkan.<\/p>\n<p>Sementara karedok kacang panjang pada dasarnya sama dengan karedok terong, tetapi di sini kacang panjang yang menjadi primadonanya. Selain itu, ada tambahan juga pada bumbunya, yaitu cabe.<\/p>\n<p>Sebagai makanan, karedok bukan hanya nikmat tapi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Bahan-bahan sayuran yang masih mentah dan segar dipercaya memiliki nilai serat yang tinggi.<\/p>\n<p><strong>Dua versi<\/strong><\/p>\n<p>Ada dua versi mengenai asal-usul karedok. Versi pertama, berdasarkan cerita lisan, menyebut karedok berasal dari Desa Karedok, sebuah perkampungan yang terletak di seberang Sungai Cimanuk, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.<\/p>\n<p>Cerita bermula dari aktivitas Pangeran Soeria Atmadja, bupati Sumedang (menjabat 1882-1919), ngalintar atau menangkap ikan di sungai dengan jala di Leuwi Kiara yang berada di aliran Sungai Cimanuk. Dia kelelahan, lalu rehat di Kampung Dobol. Perutnya juga keroncongan.<\/p>\n<p>Mengetahui yang beristirahat adalah pemimpin mereka, penduduk kampung menyuguhkan nasi dan karedok terong.<\/p>\n<p>Pangeran Soeria Atmadja memakan suguhan itu dan merasakan kelezatannya. Sepulang dari Kampung Dobol, dia bercerita kepada sesepuh Sumedang tentang hidangan lezat itu.<\/p>\n<p>Bahkan kemudian mengajak mereka mendatangi kampung itu dan menyantap karedok. Sejak itu, nama Kampung Dobol diubah menjadi jadi Desa Karedok.<\/p>\n<p>Versi kedua asal-usul karedok bisa dirunut dari kebiasaan orang Sunda makan lalapan. Bukti tertua jejak lalap bisa dirunut dari keterangan pada Prasasti Taji (901) yang ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur. Prasasti itu merekam sebuah hidangan bernama Kuluban Sunda yang berarti lalap.<\/p>\n<p>Hal itu diungkapkan Fadly Rahman, sejarawan dari Universitas Padjadjaran sekaligus penulis buku sejarah kuliner Nusantara, dalam diskusi \u201cSunda dan Budaya Lalapan: Melacak Akar Historis Kuliner Sunda\u201d, Selasa, 27 Januari 2015.<\/p>\n<p>Dalam artikel berjudul \u201cSunda dan Budaya Lalaban: Melacak Masa Lalu Budaya Makan Sunda\u201d, dimuat \u201dJurnal Metahumaniora\u201d Vol. 8 No. 3 (2018), Fadly Rahman juga mencatat jejak lalap dalam Prasasti Panggumulan (902) dari Sleman, Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Prasasti itu menyebut makanan dari sayuran bernama\u00a0rumwah-rumwah (lalap mentah), kuluban (lalap yang direbus), dudutan (lalap mentah yang diambil dengan cara dicabut dari akarnya),\u00a0dan\u00a0tetis (sejenis sambal atau petis).<\/p>\n<p>Kemudian sebuah naskah Sunda tinggalan abad ke-16,\u00a0Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), menyebut \u201dkalingana asak deung atah\u201d\u00a0(sebenarnya hanya mentah dan masak).<\/p>\n<p>\u201cMungkin sekali ini menunjuk kepada konteks lalap yang dikonsumsi mentah dan dimasak sebagaimana disebut dalam Prasasti Panggumulan dari abad ke-10 M,\u201d ujar Fadly.<\/p>\n<p><strong>Konsumsi nabati<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Fadly, hingga awal abad ke-20, kebiasaan makan orang Sunda tetap identik dengan konsumsi nabati. Setidaknya dalam beberapa riset botani yang dilakukan sarjana kolonial, istilah\u00a0groenten gerechten\u00a0(makanan sayuran) acap menyebut kata\u00a0<em>lalab<\/em>\u00a0sebagai makanan\u00a0orang Sunda.<\/p>\n<p>Unus Suriawiria, ahli mikrobiologi Institut Teknologi Bandung, dalam bukunya\u00a0\u201cLalab dalam Budaya dan Kehidupan Masyarakat Sunda\u201d menjelaskan bahwa kegemaran masyarakat Sunda makan lalap sejalan dengan budayanya yang mementingkan harmoni manusia dengan alam.<\/p>\n<p>Disebutkan Unus, jenis lalap didokumentasikan dua orang Belanda, yaitu JJ Ochse dan RC Bakhuizen van den Brink, dalam buku \u201cIndische Groenten (Sayur-sayuran Hindia)\u201d yang terbit pada 1931.<\/p>\n<p>Buku itu diterjemahkan Isis Prawiranagara dengan judul \u201cLalab-lalaban tahun 1943\u201d. Pada pengantarnya, disebutkan lalap tidak hanya berwujud daun seperti daun singkong, pepaya, selada, dan puluhan jenis daun lainnya.<\/p>\n<p>Lalap bisa berupa umbi (kunyit, kencur), buah muda (pepaya, mentimun, leunca), bunga (kenikir, honje\/kecombrang), bahkan biji-bijian (biji nangka, dan petai).<\/p>\n<p>Cara mengonsumsinya, dimakan mentah atau direbus\/dikukus. Ada juga yang diolah dengan bumbu. Bisa diolah jadi sajian lotek, karedok, ulukutek, atau reuceuh.<\/p>\n<p>Jadi, lalap ataupun karedok tidak bisa lepas dari kebiasaan orang Sunda menyantap sesuatu yang dekat dari kehidupan mereka.<\/p>\n<p>Unus Suriawiria menyebut kebiasaan orang Sunda berkarib dengan alam ikut mempengaruhi menu makan mereka sehari-hari.<\/p>\n<p>Kebiasaan memakan sesuatu yang diolah langsung dari alam juga mencerminkan pandangan hidup orang Sunda tentang kesederhanaan.<\/p>\n<p>Kenikmatan dapat diperoleh dari sesuatu yang sederhana. Apalagi sajian sederhana ini menyehatkan.<\/p>\n<p>Kenikmatan dan kesehatan. Dua hal ini jadi kebutuhan bagi setiap orang dimanapun mereka hidup. Tak heran jika karedok kemudian dimakan pula oleh orang di luar Jawa Barat.***<\/p>\n<p>__<\/p>\n<p>Sumber: indonesiakaya.com<\/p>\n<p>Editor: FA<\/p>\n<div class=\"majalahpro-core-banner-aftercontent majalahpro-core-center-ads\">\n<!-- Otomatis --><\/p>\n<p><!-- Composite Start --><\/p>\n<p><!-- Composite End --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rotiyu.id\/?hl=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bandungmu.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/iklan-roti-kotak.jpg\"\/><\/a><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=1703072823350490&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"4G7nS4tr\"><\/script><script async defer src=\"https:\/\/platform.instagram.com\/en_US\/embeds.js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/sejarah-karedok-kuliner-khas-indonesia-bernilai-tinggi\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM \u2013 Jika Anda suka salad, semestinya Anda juga bisa menikmati karedok. <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=16680\" title=\"Sejarah Karedok, Kuliner Khas Indonesia Bernilai Tinggi\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":16681,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-16680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16681"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16680"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=16680"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=16680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}