{"id":16821,"date":"2022-12-23T07:59:33","date_gmt":"2022-12-22T23:59:33","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/12\/23\/bandung-dalam-buku-kenangan-bandungmu-com\/"},"modified":"2022-12-23T07:59:33","modified_gmt":"2022-12-22T23:59:33","slug":"bandung-dalam-buku-kenangan-bandungmu-com","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=16821","title":{"rendered":"Bandung dalam Buku Kenangan &#8211; bandungmu.com"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div itemprop=\"text\">\n<p><strong>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 <\/strong>Bandung menjadi kota dengan beribu cerita indah dan kenangan manis di dalamnya. Kenangan mengenai Kota Bandung banyak diekspresikan dengan berbagai bentuk, salah satunya di dalam buku.<\/p>\n<p>Mengutip buku \u201cJejak-Jejak Bandung\u201d karya Atep Kurnia, berikut bagaimana gambaran Bandung yang terangkum dalam tiga buku kenangan.<\/p>\n<p>Mungkin kita perlu membaca buku Orhan Pamuk yang berjudul <em>Istanbul-Hatiralar ve sehir <\/em>(2003). Buku ini diinggriskan menjadi <em>Istanbul: Memories and the City <\/em>dan diterbitkan pada tahun 2005.<\/p>\n<p>Saya sendiri membaca tinjauan bukunya dari internet. Menurut tulisan-tulisan yang saya baca, <em>Istanbul<\/em> merupakan serpihan-serpihan memoar dan esai panjang Pamuk tentang kehidupan di Istanbul.<\/p>\n<p>Nobelis sastra 2006 ini menggambarkan kecintaannya kepada kota Istanbul. Dia memang seorang <em>Istanbullu<\/em> sejati (akhiran \u201c-lu\u201d atau \u201c-li\u201d pada kata tersebut miripi \u201c-er\u201d pada jata \u201cLondoner\u201d).<\/p>\n<p>Kecuali tinggal sebentar di New York, ia belum pernah tinggal jauh dari kota kelahirannya, Istanbul. Sampai kini ia tinggal di lantai atas apartemen tempat masa kecilnya.<\/p>\n<p>Kota Bandung pun mungkin seperti Istanbul, telah menjadi teks. Ia barangkali seperti novel, cerita pendek, atau puisi. Sebagaimana sebuah teks, Kota Bandung bisa dibentuk dan dibuat oleh siapa saja.<\/p>\n<p>Tentu saja bila Kota Bandung telah menjadi kenangan. Atau pengalaman. Sedangkan yang disebut kenangan tentu saja sebentuk gagasan atau kesan yang berkumpul dan membekas dalam pikiran tentang sesuatu.<\/p>\n<p>Kenangan ini selalu membayangi benak orang yang pernah tinggal dan bermukim di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini.<\/p>\n<p>Siapa saja yang terkenang dengan Kota Bandung? Dalam jagat sastra Sunda paling tidak tercatat tiga judul buku kenangan tentang Bandung. Yang menurut titimangsa: <em>Bandung Baheula<\/em> (1961, 1969), <em>Keur Kuring di Bandung<\/em> (1983), dan <em>Basa Bandung Halimunan<\/em> (2001).<\/p>\n<p><strong>Tiga Menulis Bandung<\/strong><\/p>\n<p><em>Bandung Baheula<\/em> disusun oleh R.A. Moh. Affandie (1913-1972). Ia adalah seniman pedalangan, sastrawan, juga wartawan. Karena kompetensinya dalam ilmu pedalangan, ia jadi guru pada dalang di Jawa Barat.<\/p>\n<p>Yang menarik, <em>Bandung Baheula<\/em> karya Moh. Affandie ini seolah-olah mengalami metamorfosis. <em>Bandung Baheula<\/em> yang pertama terbit tahun 1961 (satu jilid, 58 hal, Pustaka Nirwana). Namun pada 1969, buku tersebut muncul menjadi 2 jilid.<\/p>\n<p><em>Bandung Baheula 1<\/em> terbit dalam 91 halaman. Sedangkan jilid keduanya terbit dalam 100 halaman.<\/p>\n<p>Bahkan di belakang jilid kedua, ada advertensi jilid ketiganya. Katanya buku tersebut bakal memuat 10 tulisan. Tapi nyatanya sampai kini buku tersebut tidak muncul dalam penerbitan.<\/p>\n<p>Jild pertama terdiri 9 tulisan.<em> Kaayaan Bandung Baheula, Patih Djago, Kawiwirangan, Djadjaten Ki Lebe, Gara-gara Bidjil Semar, Menak Loreng, Musuh anu teu Karuhan, Wawantjara jeung Pa Singa, dan Istilah + Tetelahan<\/em>.<\/p>\n<p>Jilid kedua terdiri dari 10 tulisan: <em>Djurig Tegallega, Kasengsrem ku Iti Narem, Dedengkot \u201cDritnot\u201d, \u201cSinjoh Goong\u201d, Bagong bisa ngomong, Keur Djaman Rame Worstelen, Teu Njana yen Ririwana, Bioskop Baheula, Surahan djeung Katjapangan, dan Gelung Tjijoda<\/em>.<\/p>\n<p>Buku kedua adalah <em>Keur Kuring di Bandung<\/em>. Buku ini disusun oleh Sjarif Amin. Ia adalah wartawan dan sastrawan Sunda kawakan.<\/p>\n<p>Ia sudah bekerja di surat kabar <em>Sipatahoenan<\/em> sejak tamat MULO. Dan sejak 1930-an ia juga sudah menulis karya sastra Sunda dalam surat kabar tersebut dan mingguan <em>Bidjaksana<\/em>.<\/p>\n<p>Dalam menulis karya sastra ia biasanya menggunakan nama aslinya, sementara dalam menulis berita ia menggunakan sandiasma Mh. Koerdie.<\/p>\n<p><em>Keur Kuring di Bandung <\/em>terbit pertama kali pada 1983. Diterbitkan oleh PT Pelita Masa. Buku ini memuat beberapa karangan mengenao Bandung dulu, ketika umur Sjarif Amin muda. Yaitu antara tahun 1920-an sampai 1940-an.<\/p>\n<p>Ada 17 tulisan yang dihidangkan di buku ini. <em>Bale Nyungcung, Ngabuburit, Sampalan Tengah Nagara, Sate Mang Api jeung Oncom Milo, Lada Ngeunah, Empres jeung Bung Karno, Ketuk Tilu jeung Penca Istri, Nayuban jeung Jaarbeurs, Prak-prakan Dangdan, Nyaring ti Peuting, Pasarbaru, Pasar Peuting, Ekskeursi jeung Bungbun di Citarum, Geugeut ka Iteuk, Barang Yapan, Kebon Raya jeung Goreng Hayam Bang Sawal, <\/em>dan <em>Peuting Panungtung<\/em>.<\/p>\n<p>Sedangkan buku yang ketiga adalah <em>Basa Bandung Halimunan<\/em>. Buku ini direka Us Tiarsa. Wartawan dan pengarang Sunda ini lahir 1 April 1943. Sebagai wartawan ia ikut mendirikan dan menjadi redaktur majalah <em>Gondewa<\/em> (1972-1975). Selain itu, ia aktif di mingguan <em>Galura<\/em>.<\/p>\n<p>Untuk pertama kalinya buku ini diterbitkan oleh Yayasan Galura, 2001. Isinya mengenai rupa-rupa perkara yang berkaitan dengan kehidupan di Kota Bandung antara tahun 1950-1960-an. Buku ini asalnya berupa tulisan-tulisan yang pernah dimuat dalam SKM Galura.<\/p>\n<p>Isinya dibagi menjadi 6 bagian. Pertama, <em>Jarambah.<\/em> Seterusnya: <em>Lalajo, Dahareun, Pacinan, Papakean,<\/em> dan <em>Wawangunan.<\/em> Masing-masing bagian terdiri dari empat sampai enam judul tulisan.<\/p>\n<p>Tapi bagian pertamanya terdiri dari 20 judulu tulisan. Yang jelas ada bercerita mengenai: Kompa, tentang Konfrensi Asia Afrika (KAA), kerbau (<em>Si Magrib<\/em>), <em>Si Nurmi<\/em> (orang gila), <em>Direnten <\/em>(Kebun Binatang).<\/p>\n<p><strong>Huzun<\/strong><\/p>\n<p>Mengapa R.A. Moh. Affandie menjuduli karyanya <em>Bandung Bahuela<\/em>. Ia menjawabanya dalam kata pengantar:<\/p>\n<p><em>\u201cNu mawi didjudulan kitu, patali sareng eusina ieu buku diwangun ku rupi-rupi dongen (tjarios) nu ngandung sadjarah, nu bahanna kenging ngempelkeun sareng maluruh ti sepuh-sepuh nu kantos ngalamanana.\u201d<\/em><\/p>\n<p>(Diberi judul demikian karena berkaitan dengan isi buku ini yang terdiri dari pelbagai kisah yang mengandung sejarah, yang bahannya dikumpulkan dan diperoleh dari para tetua yang pernah mengalaminya).<\/p>\n<p>Sjarif Amin dalam pengantarnya (<em>minangka pangjajap, 7<\/em>) menulis:<\/p>\n<p><em>\u201cNgajojoan jaman eta <\/em>(jaman masih muda \u2013 pen), <em>ieu karangan teh. Jaman nu parantos sirna, henteu aya dikieuna. Mung kalaresan, sautak-saeutik aya tapakna nyangkaruk dina emutan, namper jadi dekdek angen.\u201d<\/em><\/p>\n<p>(Karangan ini dipilih dari kejadian masa itu. Masa yang kini sudah tiadak. Hanya saja sedikit banyak kebetulan masih membekas di benak saya).<\/p>\n<p>Dan kata Us Tiarsa:<\/p>\n<p><em>\u201cKaayaan sarupa kitu teh ngahaja ditulis sakadar pikeun eunteung wae. Itung-itung mulangkeun panineungan. Malah mandar aya mangpaatna pikeun warga Bandung kiwari. Tangtu we pamohalan ari Bandung kudu mulang deui ka jaman harita onaman.\u201d<\/em><\/p>\n<p>(Keadaan demikian sengaja ditulis sekedar untuk bercermin. Hitung-hitung sebagai peringatan. Dengan harapan agar ada manfaatnya bagi warga Bandung sekarang. Tentu saja kita tidak akan mungkin dapat kembali ke Bandung saat itu).<\/p>\n<p>Apa yang dapat kita pelajari dari ketiga buku kenangan tentang Bandung di atas? Dari sisi Pamuk, barangkali ketiga penulis di atas mengalami kemurungan dalam hatinya. Sehingga menimbulkan apa yang disebut Pamuk sebagai <em>huzun.<\/em><\/p>\n<p>Ia mengartikan <em>huzun <\/em>sebagai \u201csebuah keadaan menerima sekaligus menampik\u201d. Tetapi <em>huzun <\/em>bukanlah keadaan yang dialami sendirian, melainkan menjadi emosi komunal, bukan melankoli orang perorang, tetapi dialami jutaan orang.<\/p>\n<p>Rasa ini pula yang barangkali menjadi alasan buku-buku kenangan tetnag Bandung ditulis, yaitu dalam suara dari ujung realitas, di tengah antara yang diketahui telah terjadi dan yang diyakini secara imajinatif benar.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, semua usaha untuk mendefinisikan Bandung sebagai kenangan berhenti pada Bandung sebagai potret diri R.A. Moh Affandie, Sharif Amin, dan Us Tiarsa.***<\/p>\n<div class=\"majalahpro-core-banner-aftercontent majalahpro-core-center-ads\">\n<!-- Otomatis --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rotiyu.id\/?hl=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bandungmu.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/iklan-roti-kotak.jpg\"\/><\/a><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=1703072823350490&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"4G7nS4tr\"><\/script><script async defer src=\"https:\/\/platform.instagram.com\/en_US\/embeds.js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/bandung-dalam-buku-kenangan\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 Bandung menjadi kota dengan beribu cerita indah dan kenangan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=16821\" title=\"Bandung dalam Buku Kenangan &#8211; bandungmu.com\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":16822,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-16821","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16821","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16821"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16821\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16821"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16821"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16821"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=16821"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=16821"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}