{"id":17921,"date":"2023-01-31T22:50:13","date_gmt":"2023-01-31T14:50:13","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/01\/31\/dinamika-ide-monoteisme-agama-ibrahim\/"},"modified":"2023-01-31T22:50:13","modified_gmt":"2023-01-31T14:50:13","slug":"dinamika-ide-monoteisme-agama-ibrahim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=17921","title":{"rendered":"Dinamika Ide Monoteisme Agama Ibrahim"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Pada sekitar tahun 2091 SM, ketika Ibrahim dan kaumnya diusir oleh penduduk Syria dan Jordania, mereka melanjutkan pengembaraan (ekspansi) sampai ke Palestina. Di Palestina, Ibrahim dan kaumnya sempat tinggal selama beberapa waktu lamanya.<br \/>Palestina kuno dihuni oleh bangsa Kanaan (Fenisia) dan Amor. <\/p>\n<p>Dari segi kebudayaan, mereka banyak meniru bangsa Akkad (pagan). Tetapi bangsa Palestina kuno memiliki dewa-dewa tersendiri. Mereka tidak menyembah <em>Shamash, Sin,<\/em> ataupun <em>Ishtar<\/em> di Mesopotamia. Berbeda dengan penduduk kota Ur, bangsa Palestina kuno memiliki tiga dewa utama: <em>El, Baal, dan Yam.<\/em> Selain ketiga dewa ini, bangsa Palestina kuno juga mengenal dewa Yah <em>(Yahoo).<\/em><\/p>\n<p><em>El<\/em> adalah ayah para dewa. <em>El<\/em> memiliki istri bernama Asherah dan melahirkan sebanyak 70 dewa. Di antara sekian banyak putra <em>El<\/em> terdapat <em>Baal <\/em>dan<em> Yam.<\/em> Dewa Baal yang dilukiskan secara antropopatis berseteru dengan Yam. Kemenangan pada Dewa Yam dan dia ditunjuk oleh Dewa El sebagai raja para dewa.<\/p>\n<p>Perlu dicatat dalam hal ini bahwa pada masa kehidupan Nabi Ibrahim, nama tuhan yang selalu disembahnya tidak teridentifikasi nama-Nya. Ibrahim tidak pernah mengetahui secara eksplisit siapa nama tuhannya. Namun dalam keyakinannya telah terpatri bahwa tuhannya adalah \u201cmaha tunggal\u201d, bersifat imanen dan transenden.\u201d<\/p>\n<p>Baru setelah Ibrahim menetap di Kanaan, dia menyeru tuhannya dengan sebutan \u201cEl\u201d. Namun sekali-kali perlu diingat, nama<em> El,<\/em> dalam tradisi bangsa Kanaan adalah sebutan untuk salah satu dewa mereka. <em>El<\/em> adalah \u201cDewa Ayah\u201d bagi bangsa Kanaan.<\/p>\n<p>Tampaknya, Ibrahim sedang membuat asosiasi bahwa nama tuhannya, <em>El,<\/em> berada di atas segala dewa. Sebab <em>El<\/em> adalah \u201cDewa Ayah\u201d yang secara hirarkhis dalam sistem kekeluargaan dianggap sebagai pemimpin atau sosok yang memiliki otoritas tertinggi.<\/p>\n<p>Sekalipun Ibrahim telah mengadopsi nama pagan untuk menyebut tuhannya, tetapi secara subtantif dia terus membangun makna tuhan yang hakiki berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Tidak masalah nama tuhan mengunakan nama pagan, tetapi sifat-sifat Dzat-Nya tidak dapat diserupakan dengan makhluk.<\/p>\n<p>Fenomena unik monoteisme ini memang dapat dipahami. Orang-orang Ibrani pada masa kehidupan Nabi Ibrahim memang tidak memiliki bahasa yang dapat diungkapkan dengan tulisan. Bahasa mereka tidak berkembang, karena hanya sebatas bahasa dalam bentuk \u201cujaran.\u201d Sebagai bangsa nomaden, mereka jelas tidak dapat mengembangkan seni bahasa sehingga tertinggal jauh oleh bangsa-bangsa yang menetap.<\/p>\n<p>Dalam rumpun bahasa-bahasa Smitik, termasuk di dalamnya bahasa Arab, nama Tuhan diungkapkan dengan kata <em>\u201cIlah,\u201d \u201cIl,\u201d <\/em>dan<em> \u201cEl\u201d<\/em> (Nurcholish Madjid, 1992: xxii). Kata <em>Ilah<\/em> jelas menunjukkan arti \u201csesuatu yang disembah\u201d (tuhan). Begitu juga dengan <em>Il<\/em> dan <em>El<\/em> (Ibrani: <em>Elohim<\/em>). Misalnya, nama putra Ibrahim adalah Ismail <em>(Isma-El)<\/em> yang sesungguhnya berasal dari kata <em>\u201cIsma\u201d <\/em>dan <em>\u201cEl\u201d<\/em> (Il). Artinya, \u201cTuhan telah mendengar.\u201d<\/p>\n<p>Ibrahim telah berdoa kepada tuhannya supaya segera dikaruniai keturunan. Sebab, usianya makin uzur. Begitu juga dengan Sarah yang tidak kunjung hamil. Pada saat Ibrahim telah diberi izin oleh Sarah untuk menikahi Hajar, maka Tuhan menganugerahkan seorang anak kepadanya. Anak tersebut kemudian diberi nama Ismail <em>(Isma-El).<\/em><\/p>\n<p>Sekalipun Ibrahim mengadopsi konsep kepercayaan Pagan bangsa Palestina kuno tentang nama <em>El,<\/em> tetapi dia tidak menyerupakan tuhannya dengan benda-benda dan tidak menyifatinya dengan sifat-sifat manusia. Baginya, tuhan melebihi segala-galanya. Inilah sejarah penggunaan nama <em>El <\/em>atau<em> Ilah.<\/em><\/p>\n<p>Sejarawan Israel Wilson menyebut rombongan hijrah Ibrahim dan kaumnya dengan sebutan \u201corang-orang Ibrani\u201d (Hebrew). Sebab, mereka telah menyeberangi sungai Euphrat dan Jordan. Oleh para sejarawan, peristiwa penyeberangan sungai Euphrat dan Jordan yang dilakukan oleh Ibrahim as. dan kaumnya dijadikan sebagai bukti untuk penamaan atas bangsa ini sebagai \u201cBangsa Ibrani.\u201d Karena secara kebahasaan, kata <em>\u201cIbrani\u201d<\/em> berarti \u201cmenyeberang.\u201d<\/p>\n<p>Dalam proses menetap di Kanaan ini, kaum Ibrahim as. mengalami keterasingan. Sebab, kaum Ibrahim as. pada dasarnya adalah bangsa nomaden yang tidak memiliki peradaban. Secara psikologis mereka sulit berbaur dan berinteraksi dengan penduduk setempat. <\/p>\n<p>Apalagi telah jelas bahwa penduduk setempat memiliki kepercayaan yang berlawanan dengan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim as. Penduduk setempat menganut keyakinan Paganisme dengan menjadikan dewa-dewa <em>(El, Baal, <\/em>dan<em> Yam)<\/em> sebagai sesembahan. Sementara ajaran Nabi Ibrahim as. menyembah Tuhan Yang Satu, yang tidak terlihat dan tidak dapat dipersepsi secara antropomorphis.<\/p>\n<h2>Mempromosikan Monoteisme<\/h2>\n<p>Pada sekitar 2091 SM, Ibrahim dan kaumnya melanjutkan pengembaraan menuju Shikem (sekarang Nablus). Di tempat ini, Ibrahim menjalankan misinya, yakni menyebarkan ajaran monoteisme. Mulai di Shikem ini, Ibrahim mengubah konsep dakwahnya. <\/p>\n<p>Dakwah tidak bisa hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga harus lewat keteladanan personal. Karena itu, atas dasar ini, Ibrahim membangun sebuah \u201caltar pemujaan\u201d untuk menyebut nama Tuhannya dan melakukan kurban. Tujuannya agar penduduk setempat mengetahui model peribadatannya.<\/p>\n<p>Tampaknya, inilah awal sejarah misionaris dalam agama-agama samawi. Ibrahim yang menetap sebentar di Shikem mengubah model dakwahnya dari konsep seruan-seruan secara lisan menjadi model keteladanan personal. Pada setiap penduduk setempat, Ibrahim memberikan keteladanan moral yang luhur. <\/p>\n<p>Kita perlu mengetahui bahwa sosok Ibrahim, di samping sebagai sosok yang kokoh pada pendirian, juga tergolong orang yang lemah lembut, berbudi luhur, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Semua orang sudah tahu dengan karakteristik sosok Nabi Ibrahim ini. Tetapi, dia merasa kesulitan untuk memperkenalkan tuhannya kepada penduduk setempat. Oleh karena itu, dia membangun \u201caltar pemujaan\u201d di Shikem. Di depan altar Ibrahim melakukan ritual menyebut nama tuhannya dan berkurban binatang sembelihan.<\/p>\n<p>Apa yang dilakukan oleh Ibrahim ini tidak lain dalam rangka memperkenalkan tuhannya kepada penduduk setempat. Ibrahim seakan-akan sedang berbicara lewat simbol pemujaan di depan altar, bahwa seluruh hidupnya, segala kebaikan yang dimilikinya, hanya didedikasikan kepada tuhannya. Dengan cara demikian, penduduk setempat lebih mudah memahami bahwa tuhan yang disembah oleh Ibrahim memang sangat menghendaki budi luhur.<\/p>\n<p>Setelah menetap di Shikem beberapa lama, Ibrahim dan kaumnya terus bergerak melanjutkan pengembaraan hingga sampai di<em> Betel.<\/em> Seperti biasa, Ibrahim membangun kembali \u201caltar pemujaan\u201d untuk menunjukkan model peribadatan baru, monoteisme, yang berbeda dengan peribadatan penduduk setempat. Nama <em>\u201cBetel\u201d<\/em> jika diunut berdasarkan asal katanya dalam bahasa Ibrani hampir sama seperti kata Bait Allah dalam bahasa Arab. Kata Betel dalam bahasa Ibrani berasal dari kata <em>\u201cBet\u201d<\/em> berarti \u201cRumah\u201d dan <em>\u201cEl\u201d <\/em>berarti \u201cTuhan.\u201d Sama seperti dalam bahasa Arab untuk kata <em>\u201cBait Allah.\u201d<\/em> <strong><em>(Bersambung)<\/em><\/strong><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>***<\/strong><\/p>\n<p><em>*Tulisan Dinamika Ide Monoteisme Agama Ibrahim<\/em> <em>ini merupakan tulisan keenam dari serial Legasi Arab Pra Islam. Serial ini merupakan serial lanjutan dari serial <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"http:\/\/Ibtimes.id\/tag\/fikih-peradaban-islam-berkemajuan\" target=\"_blank\">Fikih Peradaban Islam Berkemajuan<\/a> yang ditulis oleh sejarawan Muhammadiyah, <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/alif.id\/read\/author\/muarif\/\" target=\"_blank\">Muarif. <\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Baca juga Seri 1 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/ikhtiar-menulis-sejarah-pendekatan-budaya\/\" target=\"_blank\">Ikhtiar Menulis Sejarah Pendekatan Budaya<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 2 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/alquran-wahyu-yang-menyejarah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Alquran, Wahyu yang Menyejarah <\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 3 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/kisah-dalam-alquran-tujuan-dan-ragam-qashash\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Kisah dalam Alquran: Tujuan dan Ragam Qashash <\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 4 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/khalifatullah-fil-ardh-manusia-sebagai-aktor-peradaban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Khalifatullah fil Ardh: Manusia sebagai Aktor Peradaban <\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 5 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/ras-merupakan-kekeliruan-besar-sanggahan-atas-teori-ras\/\" target=\"_blank\">Ras Merupakan Kekeliruan Besar: Sanggahan Atas Teori Ras<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 6 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/evolusi-kebudayaan-tidak-ada-bangsa-pilihan\/\" target=\"_blank\">Evolusi Kebudayaan: Tidak Ada Bangsa Pilihan<\/a><\/em><\/p>\n<p><em><em>Seri 7 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/relasi-kebudayaan-dan-kekuasaan\/\" target=\"_blank\">Relasi Kebudayaan dan Kekuasaan<\/a><\/em><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 8 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/pengaruh-kebudayaan-persia-di-timur-tengah\/\" target=\"_blank\">Pengaruh Kebudayaan Persia di Timur Tengah<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 9 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/pengaruh-kepercayaan-majusi-bagi-bangsa-arab\/\" target=\"_blank\">Pengaruh Kepercayaan Majusi bagi Bangsa Arab<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 10 Fikih Peradaban Islam Berkemajuan: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/pengaruh-kebudayaan-romawi-di-timur-tengah\/\" target=\"_blank\">Pengaruh Kebudayaan Romawi di Timur Tengah<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 1 Legasi Arab Pra Islam: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/bukan-jazirah-arab-tapi-syibhu-jazirah-arab\/\" target=\"_blank\">Bukan \u201cJazirah Arab\u201d, tapi \u201cSyibhu Jazirah Arab\u201d<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 2 Legasi Arab Pra Islam: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/siapakah-bangsa-arab-itu\/\" target=\"_blank\">Siapakah Bangsa Arab Itu?<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 3 Legasi Arab Pra Islam: <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/ibtimes.id\/nenek-moyang-bangsa-arab\/\" target=\"_blank\">Nenek Moyang Bangsa Arab<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Seri 5 Legasi Arab Pra Islam: <a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/perkembangan-ide-monoteisme-agama-ibrahim\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Perkembangan Ide Monoteisme Agama Ibrahim<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>Editor: Yusuf<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/dinamika-ide-monoteisme-agama-ibrahim\/\">sumber ini berita dari ibtimes.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada sekitar tahun 2091 SM, ketika Ibrahim dan kaumnya diusir oleh penduduk <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=17921\" title=\"Dinamika Ide Monoteisme Agama Ibrahim\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":17922,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1463],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2325],"class_list":["post-17921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-wawasan","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2325,"user_id":13,"is_guest":0,"slug":"ibtimes-id","display_name":"Ibtimes.id","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6ddfcba50a81c483153313f64c939c18bea3fc7aaeb40ee764c3e4cb1e2177da?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17921\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17921"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=17921"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=17921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}