{"id":18116,"date":"2023-02-08T09:49:24","date_gmt":"2023-02-08T01:49:24","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/02\/08\/cikapundung-lokasi-distribusi-media-cetak-di-kota-bandung-yang-dulu-jadi-primadona\/"},"modified":"2023-02-08T09:49:24","modified_gmt":"2023-02-08T01:49:24","slug":"cikapundung-lokasi-distribusi-media-cetak-di-kota-bandung-yang-dulu-jadi-primadona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=18116","title":{"rendered":"Cikapundung, Lokasi Distribusi Media Cetak di Kota Bandung yang Dulu Jadi Primadona"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div itemprop=\"text\">\n<p><strong>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 <\/strong>Sepatutnya kita mengenang kembali bagaimana masa jaya kawasan Cikapundung Kota Bandung yang menjadi lokasi distribusi media cetak yang menjadi primadona zaman dahulu.<\/p>\n<p>Kawasan Cikapundung di Kota Bandung menjadi saksi kejayaan surat kabar dan media cetak lainnya beberapa dekade ke belakang. Kawasan Cikapundung, lokasi tepatnya berada di Jalan Dr Ir Soekarno.<\/p>\n<p>Sejak 1970-an, sepanjang jalan ini, hingga Jalan Banceuy, menjadi salah satu pusat distribusi surat kabar di Kota Bandung. Di tempat ini, aneka surat kabar dalam bentuk koran, majalah, tabloid, masih cukup lengkap dijual. Setidaknya untuk skala satu Kota Bandung, kawasan ini yang menjual surat kabar dengan variasi media terbanyak.<\/p>\n<p>Jadi, jika kita mencari surat kabar yang tidak dijumpai di pedagang koran eceran, boleh jadi kita akan menemukannya di sini. Sejak pukul 04.00 WIB, hiruk pikuk sudah mulai terasa di kawasan ini. Para loper (pengantar) koran nampak berdatangan.<\/p>\n<p>Dengan menggunakan sepeda motor yang sudah dipasangi tas khusus di bagian jok belakang, loper-loper koran ini bersiap mengambi koran-koran dari agen untuk dijual sepagi mungkin.<\/p>\n<p>Setidaknya, di tengah gempuran media online atau daring dan teknologi, potret tersebut masih dijumpai hari ini. Walau konon tidak sepadat dulu, masih ada kesibukan sejak pukul empat dinihari di tempat ini.<\/p>\n<p>Mamay, penjual kopi dan gorengan di kawasan ini, mengenang keriuhan tersebut. Hampir 30 tahun, wanita yang tinggal di Jalan Pangarang ini berjualan di Cikapundung.<\/p>\n<p>\u201cSegini mah sepi banget atuh. Enggak sampai 10 kali lipatnya (dulu suasananya sangat ramai),\u201d ungkap Mamay sembari melayani pembeli di lapaknya, dikutip dari laman resmi Pemkot Bandung.<\/p>\n<p>Sipenmaru atau seleksi penerimaan mahasiswa baru yang kini dikenal dengan SNMPTN atau SBMPTN adalah momentum yang tidak terlupakan buat Mamay.<\/p>\n<p>Saat itu, mahasiswa yang mendaftar ke perguruan tinggi negeri sudah mengantre sejak pukul 11 malam. \u201cKalau sekarang sih enggak tahu itu diumuminnya di mana,\u201d ucap wanita yang sampai sekarang mengaku tak menggunakan gawai tersebut.<\/p>\n<p>Kenangan yang diakui Mamay sudah punah ialah kehadiran surat kabar edisi sore. Dua puluh tahun lalu, suasana di Cikapundung bahkan masih ramai hingga sore hari. Agen koran biasanya akan mendapat kiriman koran sore dari beberapa media cetak yang mengeluarkannya.<\/p>\n<p>Aktivitas di kawasan ini diakui Mamay sangat menguntungkan bagi usaha yang dijalankannya. Para loper koran, pemilik agen, hingga pembeli koran biasanya akan mampir dan jajan di lapak Mamay. \u201cKalau sekarang sih jam tujuh pagi sudah bubar, sudah dirapikan kembali,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<h4><strong>Bersaing dengan media online<\/strong><\/h4>\n<p>Kisah klasik di Cikapundung tersebut tampaknya harus rela tergerus gempuran teknologi. Sejak era konvergensi media cetak ke daring dekade 2010, penyusutan omzet mulai dirasakan para agen koran di Cikapundung.<\/p>\n<p>Eneng misalnya. Wanita yang tinggal di Sukajadi ini sudah menjadi agen koran sejak akhir dekade 1990-an. Ia mengaku omzet yang didapatnya menurun hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan 20 tahun silam.<\/p>\n<p>Ia ditemani seorang putrinya saat menjaga agen koran. Ia sibuk melayani pesanan koran dari loper-loper yang membeli koran dari lapaknya. \u201cDulu itu bisa sampai 15 juta per-hari (hasil penjualan). Sekarang sih sekitar 1,5 juta saja,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Bila dipukul rata, awal dekade 2000-an, dalam sehari Eneng bisa menjual hingga 1.500 eksemplar koran. Jumlah itu menyusut hingga sekitar 180 eksemplar saja pada 2022. \u201cTapi mau bagaimanapun, kehadiran teknologi enggak bisa ditolak. Mungkin sekarang kebiasaan orang sudah bergeser,\u201d ucap Eneng.<\/p>\n<h4><strong>Masih ada pembeli<\/strong><\/h4>\n<p>Kendati jumlah penjualannya menyusut jauh, tetapi para agen koran dan loper menyebut surat kabar masih punya segmen pembeli. Koko selaku pemilik agen koran mengakui hal tersebut.<\/p>\n<p>Saat ditanya ketersediaan surat kabar media tertentu, ia menjelaskan ada surat kabar yang memang dijual untuk segmen pembeli umum. Namun, ada pula surat kabar yang hanya dijual kepada mereka yang berlangganan. \u201cBiasanya kantor-kantor dan beberapa rumah di kawasan tertentu masih pesan. Enggak banyak lagi, tetapi masih cukup,\u201d terang Koko.<\/p>\n<p>Selain Koko, masih ada Agus Mulyana. Pria yang berprofesi sebagai loper koran ini mengaku jika surat kabar yang diantarnya belum sepenuhnya kehilangan pembeli.<\/p>\n<p>\u201cTiap hari mengantar koran. Waktu azan subuh, saya sudah ada di sini. Karena memang harus pagi kan,\u201d ucap pria yang sudah menekuni profesi ini sejak 1993.<\/p>\n<p>Saat membawa dan mengantar koran, Agus membawa sekitar 120 eksemplar koran dari empat media nasional dan lokal yang cukup mainstream. Keempatnya menurut Agus masih punya banyak pembeli.<\/p>\n<p>\u201cEnggak bisa dibandingin sama dulu. Namun, kalau ukurannya sekarang orang pada pindah ke online, bisa bawa sebanyak ini (eksemplar koran) dan laku, itu sudah cukup bagus penjualannya,\u201d terang Agus.<\/p>\n<p>Meski sebagian besar akses pemberitaan sudah bergeser ke dunia maya, tetapi tak bisa dimungkiri, media cetak pernah jadi nomor satu di hati para pembaca.<\/p>\n<p>Di tengah kemudahan mengakses informasi, tidak ada salahnya mengenang masa lampau dengan berkunjung dan membeli surat kabar di sini. Bagi siapa pun yang mencari surat kabar di Cikapundung, sebaiknya datang di antara pukul 05.00 hingga 07.00 WIB.<\/p>\n<p>Setelah membeli koran, kita bisa membacanya sembari menikmati suasana pagi di Kota Bandung, tepatnya di Cikapundung Riverspot.***<\/p>\n<div class=\"majalahpro-core-banner-aftercontent majalahpro-core-center-ads\">\n<!-- Otomatis --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rotiyu.id\/?hl=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bandungmu.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/iklan-roti-kotak.jpg\"\/><\/a><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=1703072823350490&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"4G7nS4tr\"><\/script><script async defer src=\"https:\/\/platform.instagram.com\/en_US\/embeds.js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/cikapundung-lokasi-distribusi-media-cetak-di-kota-bandung-yang-dulu-jadi-primadona\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 Sepatutnya kita mengenang kembali bagaimana masa jaya kawasan Cikapundung <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=18116\" title=\"Cikapundung, Lokasi Distribusi Media Cetak di Kota Bandung yang Dulu Jadi Primadona\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":18117,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-18116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18116\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18116"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=18116"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=18116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}