{"id":18268,"date":"2023-02-13T22:30:22","date_gmt":"2023-02-13T14:30:22","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/02\/13\/menikmati-menu-rumahan-di-warung-kopi-imah-babaturan\/"},"modified":"2023-02-13T22:30:22","modified_gmt":"2023-02-13T14:30:22","slug":"menikmati-menu-rumahan-di-warung-kopi-imah-babaturan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=18268","title":{"rendered":"Menikmati Menu Rumahan di Warung Kopi Imah Babaturan"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div itemprop=\"text\">\n<p><strong>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2014<\/strong> Kamu suka nongkrong di warung kopi yang biasanya hanya menjual minuman dan makanan ringan seperti mie dan gorengan? Warung kopi yang satu ini lain daripada yang lain.<\/p>\n<p>Ya, inilah warung kopi Imah Babaturan (yang artinya rumah tema). Warung ini berdiri pada Oktober 2015. Warung kopi Imah Babaturan menjadi salah satu warkop yang juga menjual menu makanan berat.<\/p>\n<p>Berada di Jalan Kebon Bibit Nomor 3 Tamansari, Kota Bandung, Imah Babaturan memiliki konsep \u201cseperti makan di rumah teman\u201d. Owner Imah Babaturan Muhammad Nurul Hudha menceritakan filosofi singkat dari nama warkop miliknya.<\/p>\n<p>\u201cJika berfilosofi, Imah Babaturan itu artinya rumah teman. Kalau ingat zaman sekolah dulu main ke rumah teman itu, ibunya masak apa saja kok terasa enak. Jadi, kita ingin membuat suasana yang hangat di sini. Orang datang ke tempat makan yang baru, tetapi rasanya tidak asing, seperti ke rumah teman sendiri,\u201d tutur Hudha seperti bandungmu.com kutip dari bandung.go.id.<\/p>\n<p>Meski masih pagi, sejak pukul 07.00 WIB, Imah Babaturan sudah dipadati pengunjung. Ada yang habis berolahraga bersama teman dan keluarga, meeting, atau bahkan sengaja berkunjung sendiri.<\/p>\n<p>Saat masuk Imah Babaturan, pengunjung memesan makan terlebih dahulu dan langsung membayar. Setelah itu, bisa duduk di tempat yang diinginkan di kursi mana saja.<\/p>\n<h4>Tongseng dan gulai kambing<\/h4>\n<p>Salah satu hal menarik dari Imah Babaturan yakni ada pada furniturnya. Alat masak, alat makan, dan tempat duduk, semuanya tampak sederhana. Menurut cerita Hudha, kursi dan meja tersebut diperoleh dari sebuah madrasah.<\/p>\n<p>\u201cAda madrasah yang mau jual bangku-bangkunya. Kebetulan karena saat itu budget kita masih minim, belum bisa beli furnitur di IKEA. Jadi, ya beli dari madrasah saja,\u201d ujar Anggia Bonyta, istri Hudha, yang juga merupakan owner Imah Babaturan.<\/p>\n<p>Tidak ada menu andalan di sini karena semua menu merupakan favorit dari konsumen. Namun, Hudha mengatakan menu paling \u201ctua\u201d di sini adalah tongseng kambing dan gulai kambing tulangan.<\/p>\n<p>Setelah berjalan, mereka pun memiliki banyak menu lainnya yang tidak kalah favorit. Misalnya cumi cabai hijau, nasi goreng ayam kampung, dan nasi goreng kambing.<\/p>\n<p>\u201cMenu kita tidak banyak sehingga semua pelanggan punya favoritnya masing-masing. Bahkan ada menu mingguan juga di sini yang berganti setiap Jumat. Jadi, menu itu adanya Jumat-Kamis pada pekan berikutnya,\u201d jelas Hudha.<\/p>\n<p>Hudha mengaku, jika menu mingguan tidak memiliki pola pergantian khusus. Semuanya disesuaikan dengan keinginan dan kemampuan saat itu. \u201cMenu buat di rumah juga ini tuh sebenarnya. Tidak ada pola dan rumus pergantian menunya. Bergantung minggu ini mau makan apa, ya kita bikin saja sekalian dijual,\u201d ungkap Hudha.<\/p>\n<h4>Pengunjung dari Papua<\/h4>\n<p>Alhasil, menu mingguan ini justru menjadi data tarik tersendiri bagi pengunjung Imah Babaturan. Banyak pelanggan yang menanti menu mingguan favoritnya ada. Bahkan, sampai ada yang datang dari Papua untuk sengaja melipir ke Imah Babaturan demi menyantap menu kesukaannya.<\/p>\n<p>\u201cIni juga untuk menyiasati menu reguler yang tidak banyak tadi karena dapur kita kecil. Sehingga orang bisa makan menu yang lain ketika datang ke sini selain menu reguler. Biar tidak bosan dan selalu punya alasan untuk datang ke Imah Babaturan,\u201d ujar Anggia.<\/p>\n<p>Baginya, tidak ada waktu spesifik untuk rutin mengeluarkan menu terbaru. Ia hanya mengingat-ingat menu apa saja yang pernah dimasak ibunya dulu. Semua menu yang tiba-tiba teringat akan muncul di menu mingguan.<\/p>\n<p>Delapan tahun berdiri, Imah Babaturan telah mempekerjakan 20 orang karyawan. Ini pun menjadi hal unik dari Imah Babaturan. Tidak seperti waiters di tempat makan lain, penampilan karyawan di sini tergolong nyentrik.<\/p>\n<p>Hudha menuturkan, jika memang ia dan sang istri tidak pernah melihat background dari para karyawannya. Utamanya hanya dua, yang penting jujur dan mau bekerja keras.<\/p>\n<p>\u201cTeman-teman yang membantu kita ini dulunya rada badung. Kebanyakan anak jalanan, tidak sekolah, anak band yang badung. Ketika kita menerima mereka di sini, syaratnya memang cuma dua: mau kerja dan jujur,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>\u201cKalau sengaja di konsep seperti ini sih tidak. Mungkin memang belum banyak tempat yang bisa menerima anak-anak seperti ini sehingga mereka kesulitan untuk bekerja. Kami salah satunya yang bisa menerima mereka apa adanya,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Namun, ada salah satu kendala yang sampai saat ini dialami para pengunjung, yakni parkiran. Terutama bagi pengemudi mobil. \u201cAkhirnya kami berpikir, apa solusi dari permasalahan ini. Buat teman-teman yang datang ke Imah Babaturan dan parkir di Baltos, silakan perlihatkan tiket parkirnya ke kasir. Nanti dapat minuman gratis dari kita,\u201d katanya.<\/p>\n<h4>Soal lahan parkir<\/h4>\n<p>Ia berharap, di tahun ini para UMKM kuliner bisa dipermudah untuk perizinan dan hal lainnya, seperti parkir. Jangan sampai usaha yang telah mereka bangun dari awal jadi dikorbankan hanya karena tidak memiliki lahan parkir<\/p>\n<p>\u201cKami pun sudah mencoba untuk mencari solusi dengan cara tadi ya. Untuk perizinan sertifikasi lain tentang makanan juga sebisa mungkin tolong dipermudah bagi para UMKM,\u201d harapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Misni, salah satu pengunjung yang baru pertama kali datang ke sini mengatakan, ia langsung suka setelah mencicipi makanan di sini. \u201cSebenarnya dari dulu sudah tahu, cuma baru sempat ke sini dan beneran suka! Dari mulai suasananya sampai makanannya,\u201d ungkap Misni.<\/p>\n<p>Menu kesukaannya adalah nasi goreng ayam kampung dan cumi cabai hijau. \u201cTerutama nasi goreng ayam kampung sama cumi cabai hijaunya, joss banget. Bakalan datang lagi nyobain menu yang lain,\u201d akunya.<\/p>\n<p>Imah Babaturan buka dari pukul 07.00-10.00 malam. Jika Anda ingin mencicipi menu Imah Babaturan, tapi lokasinya jauh dari rumah, di sini juga menyediakan menu reguler dalam kemasan frozen.<\/p>\n<p>Silakan main ke Bandung. Jangan lupa mampir ke Imah Babaturan untuk manjakan perut dengan menu rumahan enak. Bisa mengajak kekasih, teman, keluarga, atau siapa saja orang tercinta.***<\/p>\n<p>___<\/p>\n<p>Sumber: bandung.go.id<\/p>\n<p>Editor: FA<\/p>\n<div class=\"majalahpro-core-banner-aftercontent majalahpro-core-center-ads\">\n<!-- Otomatis --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rotiyu.id\/?hl=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bandungmu.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/iklan-roti-kotak.jpg\"\/><\/a><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=1703072823350490&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"4G7nS4tr\"><\/script><script async defer src=\"https:\/\/platform.instagram.com\/en_US\/embeds.js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/menikmati-menu-rumahan-di-warung-kopi-imah-babaturan\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2014 Kamu suka nongkrong di warung kopi yang biasanya hanya <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=18268\" title=\"Menikmati Menu Rumahan di Warung Kopi Imah Babaturan\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":18269,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-18268","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18268"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18268\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18269"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18268"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=18268"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=18268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}