{"id":20746,"date":"2023-06-05T12:15:37","date_gmt":"2023-06-05T04:15:37","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/06\/05\/mengulik-sejarah-tradisi-penulisan-kitab-tafsir-di-muhammadiyah\/"},"modified":"2023-06-05T12:15:37","modified_gmt":"2023-06-05T04:15:37","slug":"mengulik-sejarah-tradisi-penulisan-kitab-tafsir-di-muhammadiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=20746","title":{"rendered":"Mengulik Sejarah Tradisi Penulisan Kitab Tafsir di Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div itemprop=\"text\">\n<p><strong>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2014<\/strong> Secara historis, tradisi penulisan tafsir di Muhammadiyah telah cukup lama. Jauh sebelum adanya Tafsir At-Tanwir, Muhammadiyah telah memulai proyek penulisan tafsir Al-Quran.<\/p>\n<p>Menurut Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Aly Aulia dalam \u201cJurnal Tarjih\u201d tahun 2014, seperti dikutip dari muhammadiyah.or.id, tradisi tafsir Muhammadiyah setidaknya dapat dibedakan menjadi tiga periode.<\/p>\n<h4>Awal abad ke-20 hingga tahun 1960-an<\/h4>\n<p>Dalam periode pertama ini, penafsiran di Muhammadiyah didominasi oleh pemikiran KH Ahmad Dahlan yang menekankan pada pengembangan metode pengkajian amaliy (etos kerja) terhadap ajaran Al-Quran.<\/p>\n<p>Pelajaran dari KH Ahmad Dahlan ini kemudian dikompilasikan oleh muridnya H Hadjid menjadi buku dengan judul \u201cKH Ahmad Dahlan: 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Quran\u201d.<\/p>\n<p>Spirit yang diusung dalam \u201cTafsir Kiai Dahlan\u201d ini menjadi etos tafsir Muhammadiyah. Etos yang diusung ialah tafsir Muhammadiyah itu berorientasi amal sosial dengan pondasi tauhid yang kokoh.<\/p>\n<p>Karya lainnya pada periode ini ialah \u201cTafsir Al-Quran: Djoez Ke Satoe\u201d yang disusun secara kolegial (kolektif) oleh Lajnah Tafsir yang terdiri dari beberapa ulama Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Mereka adalah KR H Hadjid, KH M Mansoer, KH A Badawi, KH Hadikoesoemo, KH Farid, H Aslam, dan para ulama lainnya.<\/p>\n<p>Corak yang ditampilkan dari karya ini ialah adanya susunan tematik di dalamnya. Misalnya surah Al-Baqarah dikelompokkan menjadi ayat 1-5 mengenai Al-Quran sebagai petunjuk bagi orang bertakwa, ayat 6-7 mengenai sikap orang kafir, ayat 8-20 mengenai sikap orang munafik, dan seterusnya.<\/p>\n<h4>Tahun 1970-an hingga 1980-an<\/h4>\n<p>Periode ini terbit beberapa tafsir yang ditulis secara individual oleh ulama-ulama Muhammadiyah. Misalnya, \u201cTafsir Sinar\u201d yang disusun menurut nuzul (turunnya) surat dalam Al-Quran karya H Abdul Malik Ahmad.<\/p>\n<p>Penyusunan yang unik berdasarkan tertib turunnya ayat ini membuat para pembaca dapat memahami rentetan usaha dan perjuangan Nabi SAW.<\/p>\n<p>Contoh lain yang lebih terkenal ialah \u201cTafsir Al-Azhar\u201d karya Hamka. Selain itu, ada pula \u201cTafsir Al-Bayan\u201d karya Hasbi Ash-shiddiq. Kedua tafsir ini mengurai Al-Quran secara lengkap 30 juz.<\/p>\n<p>Keduanya mencoba untuk menerjemahkan pesan-pesan Al-Quran dalam bahasa, diksi, dan pilihan isu yang khas Indonesia.<\/p>\n<p>Pun demikian dengan \u201cTafsir Al-Hidayah\u201d karya Saad Abdul Wahid yang membagi kitab tafsirnya menjadi topik-topik besar seperti akidah dan hukum.<\/p>\n<h4>Dekade 1990-an<\/h4>\n<p>Pada periode ini lahir \u201cTafsir Tematik Al-Quran Tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama\u201d yang ditulis secara kolektif oleh tim khusus.<\/p>\n<p>Tafsir ini tampak sekali sebagai respons isu pluralitas budaya dan agama yang sedang marak pada penghujung abad ke-20. Namun, tafsir ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Pada 2015, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menerbitkan \u201cTafsir At-Tanwir\u201d. Para penulis \u201cTafsir At-Tanwir\u201d merupakan barisan para ulama sekaligus akademisi yang bernaung di Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Tafsir yang bercorak tahlili cum maudhui ini memiliki empat etos utama: ibadah, ekonomi, sosial, dan keilmuan.<\/p>\n<p>Menurut Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ayub, \u201cTafsir At-Tanwir\u201d ini merupakan kulminasi dari usaha-usaha sebelumnya.<\/p>\n<p>\u201cPada aspek yang lebih fundamental, tafsir ini tentu sangat peka terhadap perubahan sejarah dan kaitannya dengan kontekstualisasi pesan-pesan Al-Quran. Namun, seperti tradis tafsir Muhammadiyah pada umumnya, eksplorasi makna tetap diikat oleh kajian semantik sehingga tidak arbiter dan subjektif,\u201d ucap Ayub.***<\/p>\n<div class=\"majalahpro-core-banner-aftercontent majalahpro-core-center-ads\">\n<!-- Otomatis --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rotiyu.id\/?hl=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bandungmu.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/iklan-roti-kotak.jpg\"\/><\/a><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p><script async defer crossorigin=\"anonymous\" src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js#xfbml=1&#038;version=v9.0&#038;appId=1703072823350490&#038;autoLogAppEvents=1\" nonce=\"4G7nS4tr\"><\/script><script async defer src=\"https:\/\/platform.instagram.com\/en_US\/embeds.js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/mengulik-sejarah-tradisi-penulisan-kitab-tafsir-di-muhammadiyah\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2014 Secara historis, tradisi penulisan tafsir di Muhammadiyah telah cukup <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=20746\" title=\"Mengulik Sejarah Tradisi Penulisan Kitab Tafsir di Muhammadiyah\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":20747,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-20746","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20746","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20746"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20746\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20746"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=20746"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=20746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}