{"id":23254,"date":"2023-08-31T21:41:36","date_gmt":"2023-08-31T13:41:36","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/08\/31\/repetisi-ayat-dalam-al-quran-1-pengertian-pendapat-para-ulama-dan-ragamnya\/"},"modified":"2023-08-31T21:41:36","modified_gmt":"2023-08-31T13:41:36","slug":"repetisi-ayat-dalam-al-quran-1-pengertian-pendapat-para-ulama-dan-ragamnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=23254","title":{"rendered":"Repetisi Ayat dalam Al-Qur&#8217;an (1): Pengertian, Pendapat Para Ulama dan Ragamnya"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Al-Qur\u2019an merupakan <em>mukjizat <\/em>terbesar sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia. Al-Qur\u2019an pula merupakan mukjizat <em>ma\u2019nawi <\/em>dan kekal abadi sepanjang masa hingga akhir zaman. Oleh karenanya, al-Qur\u2019an tidak hanya bisa dilihat\/diamati dari satu aspek keunikan saja, akan tetapi ia selalu bersifat multidimensi. Karenanya, salah satu kemukjizatannya yang utama dan pertama di dalam al-Qur\u2019an adalah mukjizat dari segi bahasa, lebih lagi ketika turunnya al-Qur\u2019an di masa itu bangsa Arab lebih di dominasi dengan lingkungan komunitas yang dimana puisi dan sastra merupakan bidang keahliannya.<\/p>\n<p>Maka, untuk menundukan bangsa Arab, Allah menurunkan al-Qur\u2019an yang mempunyai mukjizat dalam bentuk teks bahasa dengan susunan dan ritme yang sangat indah serta menakjubkan. Kemudian salah satu bentuk dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Al-Qur%27an\">mukjizat<\/a> bahasa tersebut adalah dengan mengulang-mengulang (repetisi) redaksi ayat-ayat atau kisah tertentu, sehingga banyak di jumpai di dalam al-Qur\u2019an ayat-ayat yang beredaksi mirip bahkan banyak juga pengulangan redaksi yang sama. Fenomena ini merupakan realitas menarik yang tidak dapat dihindari oleh para ulama maupun <em>mufassir. <\/em>Berikut penjelasannya.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pengertian <em>al-Tikrar (Repetisi)<\/em><\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/h2>\n<p>Secara bahasa <em>Takrar atau Takrir <\/em>merupakan masdar dari <em>Fi\u2019il Madli; Karrara <\/em>bermakna <em>Raddada <\/em>dan <em>a\u2019ada. <\/em>Sedang menurut Ibn Manzur <em>Takarar <\/em>adalah <em>I\u2019adat al-Syai\u2019i miraran (mengulangi sesuatu secara terus menerus). <\/em>Beda halnya menurut para <em>bulaghah (para ulama Balaghah) <\/em>menurut mereka <em>Takrar; dalalat al-Lafdzi \u2018ala al-Ma\u2019na muraddadan (kata yang menunjukan makna karena adanya repetisi). <\/em>Sebagaimana contoh dalam sebuah ayat <em>Kalla Sawfata\u2019lamun summa kalla sawfa ta\u2019lamun. <\/em>Kedua ayat tersebut menunjukan ayat yang kedua berfungsi sebagai penegas <em>(ta\u2019kid) <\/em>dan untuk menakut-nakuti atau mencegah.<\/p>\n<p>Sedangkan di dalam al-Qur\u2019an fenomena tersebut sudah menjadi lumrah adanya, bahkan merupakan fenomena tersebut sudah banyak di lirik sejal lama dan telah banyak para ulama al-Qur\u2019an membukukan dengan tema khusus dan di masukan di dalam sub tema karyanya. Seperti Al-Karmani dengan <em>Asrar al-Takrar fi al-Qur\u2019an, <\/em>Al-Iskafi dengan <em>Durrat al-Tanzil wa Gurrat al-Ta\u2019wil; fi Bayan al-Ayat al-Mutasyabihat fi kitabillah al-\u2018Aziz, <\/em>maupun al-Zarkasyi di dalam sub tema <em>\u2018Ulum al-Qur\u2019an<\/em> dan Ibnu Qutaibah dalam sub tema kitab <em>Ta\u2019wil Musykil al-Qur\u2019an <\/em>dengan judul <em>Bab Takrar wa al-Kalam wa Ziyadah.<\/em><\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perdebatan Para Ulama<\/h2>\n<p>Meskipun demikian, ibarat gading yang tak retak tentulah banyak pro kontra mengenai <em>al-Tikrar (repetisi) <\/em>ayat ini di kalangan para ulama, dan bahkan menjadi sasaran para orientalis dalam melemahkan Aqidah umat Islam melalui kitab sucinya. Dalam hal ini salah satu kelompok yang menolak <em>al-Tikrar <\/em>ini menganggap bahwa mereka <em>\u201ckarena adanya kekhawatiran munculnya kesan Tautology (majaz berupa pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata yang berlebih dan tidak diperlukan dalam penafsiran) dalam al-Qur\u2019an.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Lebih-lebih dari kalangan orientalis menganggap bahwa <em>\u201cjika redaksi al-Qur\u2019an tidak banyak yang ulang niscaya al-Qur\u2019an hanya tersisa beberapa kertas saja.\u201d <\/em>Juga John Wansbrough dalam bukunya <em>Qur\u2019anic Studies <\/em>menebarkan kecurigaan dan mempertanyakan keaslian al-Qur\u2019an berdasarkan analisis sastranya terhadap duplikat atau repetisi di dalam al-Qur\u2019an. Sebagaimana yang ia ungkapkan <em>\u201cbanyak terdapat pengulangan yang sebenarnya isinya identik, seperti pengulangan 31 ayat dalam surat al-Rahman, hal tersebut disebabkan susunan al-Qur\u2019an menjadi tidak sistematik dan monoton.\u201d<\/em><\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading\">***<\/h2>\n<p>Namun demikian, hal itu justru dibantah oleh ulama tafsir <em>(<a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/untuk-para-mufassir-jadilah-penafsir-al-quran-yang-inklusif\/\">mufassir)<\/a> <\/em>bahwa hal itu perlu untuk dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap ayat \u2013 ayat yang diulang redaksinya, karenanya dengan kajian tersebut akan diperoleh satu pemahaman yang utuh atas makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang diulang tersebut. Terlebih dari kajian tersebut akan membantu mengungkap rahasia atau hikmah yang ada dibalik pengulangan ayat sehingga kesan negatif seperti di atas tadi akan hilang dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali bahwa <em>\u201cmeskipun di dalam al-Qur\u2019an terdapat banyak pengulangan kata, namun disana tidak ada pengulangan makna.\u201d <\/em>Diungkapkan pula oleh al-Zarkasyi memberikan statementnya bahwa <em>\u201cadanya takrar (repetisi\/pengulangan) dalam al-Qur\u2019an, justru semakin memperindah susunan kalimat, terutama kata-kata yang memiliki makna yang saling berkaitan satu sama lain.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Lebih-lebih hal tersebut dikuatkan juga oleh al-Zamakhsyari dalam karya monumentalnya <em>al-Kasysyaf <\/em>yaitu <em>\u201cFungsi pengulangan adalah menetapkan makna dalam jiwa dan memantapkannya di dalam hati. Bukankah cara yang tepat untuk menghafalkan pengetahuan dan ilmu itu dengan mengulang-ulang supaya dapat dicerna dan dihafal. Segala sesuatu manakala lebih sering diulang maka akan lebih menetap dalam hati, lebih mantap dalam ingatan dan jauh dari kelalaian.\u201d <\/em>Demikianlah bahwa repetisi redaksi dalam al-Qur\u2019an bukanlah repetisi yang kering makna melainkan sarat dengan pesan dan hikmah.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Karakteristik Repetisi Redaksi dalam al-Qur\u2019an<\/h2>\n<p>Karakteristik repetisi redaksi yang terdapat di dalam al-Qur\u2019an terbagi menjadi 3 bagian:<\/p>\n<p><em>Pertama, <\/em>repetisi kisah dalam al-Qur\u2019an. <em>Kedua, <\/em>repetisi redaksi mengenai penciptaan manusia <em>Ketiga, <\/em>repetisi redaksi ayat-ayat taqwa.<\/p>\n<p>Adapun yang <em>pertama<\/em> repetisi kisah dalam al-Qur\u2019an. Salah satu fenomena repetisi yang terdapat dalam al-Qur\u2019an adalah kisah-kisah para Nabi terdahulu, sebagaimana kisah Adam as, Nuh as, dan Nabi-Nabi yang lainnya. Lain daripada itu repetisi kisah ini terbagi menjadi dua bagian <em>pertama <\/em>dimensi teologis dan <em>kedua <\/em>dimensi sastra. Dimensi <em>teologis<\/em> berfungsi untuk menetapkan kandungan makna yang diulang dan menguatkannya serta menampakkan perhatian pada kandungan makna tersebut sehingga memuat etika yang ideal dan keyakinan yang jelas. Sedangkan pengulangan kisah di dalam al-Qur\u2019an yang berkait erat dengan <em>style <\/em>bahasa (sastra), dalam penggunaanya sama sekali tidak monoton, karena kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar dan menancapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ke dalam jiwa mereka.<\/p>\n<p><em>Kedua, <\/em>repetisi redaksi mengenai penciptaan manusia. Al-Qur\u2019an dalam menguraikan proses penciptaan manusia tidak dijelaskan secara rinci, meskipun demikian ayat-ayat tersebut telah mendeskripsikan situasi sebenarnya dan sesuai dengan ilmu kedokteran modern. Bahkan Dr. Muhammad Imarah menyatakan <em>\u201ctidak ada kontradiksi antara ayat-ayat al-Qur\u2019an yang membahas tentang proses penciptaan manusia. Dalam menciptakan manusia terdapat fase-fase sehingga manusia menjadi bentuk rupanya yang elok.\u201d <\/em>Adapun prosesnya yaitu: <em>Pertama, <\/em>bahan awal manusia adalah tanah.<em> Kedua, <\/em>bahan tersebut disempurnakan. <em>Ketiga, <\/em>setelah proses penyempurnaan selesai ditiupkan kepadanya ruh Ilahi.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading\">***<\/h2>\n<p><em>Ketiga, <\/em>repetisi redaksi ayat-ayat taqwa. Selain dari repetisi kisah dan penciptaan manusia tersebut, banyak pula dijumpai repetisi yang berkenaan dengan persoalan taqwa. Hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya ayat yang membicarakan tentang taqwa dan berbagai bentuk asal katanya, seperti ciri-ciri orang bertaqwa, cara meraih taqwa, syarat menjadi orang yang bertaqwa juga perintah bertaqwa. Lain daripada itu, Dr. Maman Djauhari menghitung jumlah dan mengelompokan ayat-ayat tentang taqwa yaitu al-Qur\u2019an terdiri dari 6236 ayat, 208 ayat tentang ayat-ayat taqwa, diantara 208 ayat 1 ayat mengandung 3 kata taqwa, kemudian 16 ayat mengandung 2 kata taqwa.<\/p>\n<p>Kemudian dari banyaknya repetisi ayat taqwa tersebut, apa pentingnya taqwa? menurut Dr. Maman, <em>\u201cKetundukan yang tercerminkan dalam kualitas jiwa seseorang yang menerangi dan memandu hidupnya dalam mewujudkan pengabdiannya kepada kemakmuran dan kesejahteraan hidup seluruh alam. Selain itu, taqwa merupakan kualitas jiwa yang berproses. Taqwa juga merupakan jalan hidupnya sejak di alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzah dan alam akhirat.\u201d<\/em><\/p>\n<p><strong>Editor: Soleh<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/ibtimes.id\/repetisi-ayat-dalam-al-quran-1-pengertian-pendapat-para-ulama-dan-ragamnya\/\">sumber ini berita dari ibtimes.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Al-Qur\u2019an merupakan mukjizat terbesar sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia. Al-Qur\u2019an pula merupakan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=23254\" title=\"Repetisi Ayat dalam Al-Qur&#8217;an (1): Pengertian, Pendapat Para Ulama dan Ragamnya\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":23255,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1463],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2325],"class_list":["post-23254","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-wawasan","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2325,"user_id":13,"is_guest":0,"slug":"ibtimes-id","display_name":"Ibtimes.id","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6ddfcba50a81c483153313f64c939c18bea3fc7aaeb40ee764c3e4cb1e2177da?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23254","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=23254"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23254\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/23255"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=23254"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=23254"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=23254"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=23254"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=23254"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}