{"id":25627,"date":"2023-12-10T17:09:16","date_gmt":"2023-12-10T09:09:16","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2023\/12\/10\/dinamika-pemilihan-umum-politis-atau-ideologis\/"},"modified":"2023-12-10T17:09:16","modified_gmt":"2023-12-10T09:09:16","slug":"dinamika-pemilihan-umum-politis-atau-ideologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=25627","title":{"rendered":"Dinamika Pemilihan Umum: Politis Atau Ideologis?"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Oleh: <strong>Ace Somantri<\/strong><\/p>\n<p>BANDUNGMU.COM \u2014 Suatu perhitungan pada momentum pesta demokrasi, rakyat Indonesia merindukan perubahan yang mengarah ke kemajuan dan kesejahteraan.<\/p>\n<p>Janji-janji manis selalu terlontar dalam kampanye, mewarnai ucapan para kandidat saat berbicara melalui mikrofon pengeras. Dengan penuh semangat, rakyat mengelu-elukan pilihan mereka.<\/p>\n<p>Kelebihan dan kekurangan calon pemimpin adalah hal manusiawi. Data masa lalu kerap diungkap seolah menjadi fakta yang tidak terbantahkan.<\/p>\n<p>Namun, sering kali kebenaran peristiwa belum tentu sesuai dengan yang tergambar dalam data.<\/p>\n<p>Perbedaan antara simulasi data dan kenyataan memberikan konsekuensi, bahkan bisa menyeret seseorang yang terlibat menjadi tersangka.<\/p>\n<p>Momen-momen tertentu dapat membuat seseorang menjadi tumbal, terutama saat peristiwa terjadi pada waktu dan tempat yang sama.<\/p>\n<p>Pemutarbalikan fakta dalam sejarah, meskipun lumrah, menunjukkan dinamika perubahan yang dapat terjadi sesuai kepentingan individu.<\/p>\n<p>Pemilihan umum lima tahunan menjadi sorotan, menghadirkan kontestasi berbagai kepentingan dalam ranah kebangsaan. Demokrasi sebagai sistem pemerintahan hadir sebagai media bagi warga negara untuk mewujudkan hak-hak politik mereka.<\/p>\n<p>Rantai waktu dari pemilihan pertama hingga saat ini telah menjadi bagian berharga bagi bangsa.<\/p>\n<p>Dinamikanya begitu dinamis, dengan intrik dan manuver berbagai kepentingan pihak yang selalu terlibat dalam proses demokratisasi untuk mendapatkan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.<\/p>\n<p>Sejak reformasi tahun 1998 yang membawa arus demokrasi yang lebih terbuka, partisipatif, kuasa yang bersumber dari rakyat mulai berjalan.<\/p>\n<p>Sayangnya, euforia reformasi terkadang kehilangan kendali yang memengaruhi kualitas demokrasi. Transisi ini telah membuka ruang bagi budaya politik transaksional dan pragmatis pasca-reformasi.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, menurut politisi dan akademisi, perjalanan demokrasi di Indonesia menunjukkan kemajuan.<\/p>\n<p>Namun, tanpa kontrol yang kuat dari rakyat terhadap kebijakan politik yang dihasilkan. Lebih banyak terkait dengan kelompok atau individu tertentu.<\/p>\n<p>Hal ini mengindikasikan adanya turbulensi dalam keadaan politik yang tidak sehat. Meskipun sistemnya bagus, kelemahan dalam kontrol dapat memberikan ruang bagi pelanggaran dan penyimpangan yang dilindungi oleh kebijakan.<\/p>\n<p>Tindakan memanfaatkan celah-celah dalam sistem, dengan dalih legitimasi, sering dilakukan tanpa memedulikan aturan yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Dalam pemilihan umum, fokusnya bukanlah pada kualitas partisipasi, melainkan pada kuantitas.<\/p>\n<p>Pemilihan umum, baik untuk kekuasaan eksekutif, legislatif, atau yudikatif, seharusnya menjadi jalan untuk membangun kesejahteraan bangsa.<\/p>\n<p>Peran rakyat sangatlah penting dalam menentukan kualitas hasil pemilihan umum. Sekecil apa pun pelanggaran dalam produk politik, jika rakyat cerdas dan kritis, dapat terkontrol.<\/p>\n<p>Namun, karena kesadaran politik rakyat masih di bawah rata-rata, banyak produk politik di negeri ini lebih berpihak pada segelintir orang dan oligarki.<\/p>\n<p>Politisi yang kurang memahami kondisi negara lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada peduli pada negeri.<\/p>\n<p>Mereka lebih berorientasi pada tunjangan dan gaji, kurang peka terhadap kebutuhan negeri. Hal ini menjadi rahasia umum di mata masyarakat.<\/p>\n<p>Setiap lima tahun, jelang pemilihan umum, para politisi berseliweran dengan pesonanya, memberi janji-janji yang seringkali terdengar manis di telinga masyarakat.<\/p>\n<p>Meskipun terjadi pergantian pemimpin pada setiap periode pemilihan umum, persentasenya tidak banyak berubah. Kesannya adalah \u201csama saja\u201d.<\/p>\n<p>Bagi calon pemimpin yang tidak memiliki kekayaan, terkadang jauh untuk dapat mencapai kursi kekuasaan.<\/p>\n<p>Kenyataannya, harapan kesejahteraan bagi rakyat, bangsa, dan negara seringkali tidak terwujud.<\/p>\n<p>Alih-alih, aset negara seringkali diambil alih oleh segelintir orang, tanpa menyentuh masyarakat yang sebenarnya pemiliknya.<\/p>\n<p>Sumber daya alam dan aset negara yang seharusnya kembali kepada rakyat terus dieksploitasi tanpa batas, dengan hasil yang tidak dirasakan oleh masyarakat. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin melebar.<\/p>\n<p>Saat ini, pilihan bukanlah antara politis atau ideologis, melainkan lebih terkait dengan kesukaan atau ketidaksukaan.<\/p>\n<p>Hal ini telah mengkristal menjadi pilihan berdasarkan kepentingan individu dan kelompok, terutama partai politik.<\/p>\n<p>Sulit memberikan justifikasi atas kontestasi dalam sistem demokrasi yang didasarkan pada ideologi.<\/p>\n<p>Demokrasi, sebagai sistem yang masih relevan untuk negara yang belum stabil secara politik, perlu saling mengontrol.<\/p>\n<p>Selama kesadaran politik masyarakat belum menjadi budaya yang terbuka, maka tirani dan oligarki akan terus berkembang dalam negeri.<\/p>\n<p>Setiap individu yang cerdas, sadar, dan memiliki integritas moral dan etika tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus mengedukasi masyarakat agar menjadi warga negara yang terdidik dengan baik.<\/p>\n<p>Indonesia, dengan segala keindahan alamnya, seharusnya menjadi surga bagi seluruh warganya. Dari Sabang sampai Merauke, pulau-pulau ini menyatu, menjadi Indonesia.<\/p>\n<p>Politis atau ideologis, dalam dinamika politik, sebenarnya merupakan bagian dari kesatuan tujuan kekuasaan tertentu.<\/p>\n<p>Dalam setiap kontestasi, berbagai kepentingan bergabung menjadi satu, merebut kekuasaan dalam satu suara.<\/p>\n<p>Warna-warni partai politik mencerminkan keragaman kepentingan warga negara. Tidak bisa disangkal bahwa kekuatan partai politik diuji dalam cara meraih suara dari seluruh negeri.<\/p>\n<p>Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, pada akhirnya, bergantung pada kekuatan partai politik. Saat ini, yang berlaku adalah kepentingan yang mengarah pada kekuasaan.<\/p>\n<p>Warga negara diharapkan tetap menggunakan akal sehat dan rasionalitas dalam menilai kepentingan mereka yang dilindungi oleh undang-undang.<\/p>\n<p>Semua memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara, dan siapa pun yang mampu mendapatkan suara rakyat akan memegang kendali kekuasaan.<\/p>\n<p>Dalam negeri ini, sejauh kita dapat mengelola seluruh instrumen yang ada di masyarakat dan negara, mereka memiliki peluang untuk mendapatkan kursi kekuasaan.<\/p>\n<p>Meskipun politis atau ideologis, pada akhirnya, kepentingan kekuasaan tetap menjadi tujuan setiap kontestasi dalam sistem demokrasi yang diadakan setiap lima tahun di Indonesia. Wallahu\u2019alam.***<\/p>\n<\/div>\n<p><script defer async src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js?ver=1.0.7#xfbml=1&amp;version=v9.0&amp;appId=1703072823350490&amp;autoLogAppEvents=1\" id=\"wpmedia-fb-js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/dinamika-pemilihan-umum-politis-atau-ideologis\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ace Somantri BANDUNGMU.COM \u2014 Suatu perhitungan pada momentum pesta demokrasi, rakyat <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=25627\" title=\"Dinamika Pemilihan Umum: Politis Atau Ideologis?\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":15356,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[560,559],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-25627","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-breaking-news","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25627","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=25627"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25627\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=25627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=25627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=25627"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=25627"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=25627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}