{"id":27439,"date":"2024-02-05T10:41:52","date_gmt":"2024-02-05T02:41:52","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2024\/02\/05\/refleksi-isra-miraj-untuk-hidup-berkemajuan\/"},"modified":"2024-02-05T10:41:52","modified_gmt":"2024-02-05T02:41:52","slug":"refleksi-isra-miraj-untuk-hidup-berkemajuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=27439","title":{"rendered":"Refleksi Isra\u2019 Mi\u2019raj Untuk Hidup Berkemajuan"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Dalam ayat pertama surat Al-Isra\u2019, Allah \u2013<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u2013 berfirman, \u201c<em>Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad -shallallahu \u2018alayhi wa sallam-) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat\u201d<\/em>.<\/p>\n<p>Kata <em>isra\u2019<\/em> merupakan kata asal (<em>mashdar<\/em>) dari kata kerja <em>asraa-yusrii<\/em> yang berakar dari kata <em>saara-yasiiru<\/em> yang berarti berjalan. Dari kata ini pula berasal kata <em>siirah<\/em> yang berarti biografi, karena memuat tentang riwayat perjalanan hidup seseorang, dan juga kata <em>sayyaarah<\/em> yang bermakna sekelompok orang yang sedang berjalan, seperti dalam surat Yusuf atau di era modern diartikan sebagai mobil, alat untuk berjalan.<\/p>\n<p>Adapun kata <em>mi\u2019raaj<\/em>, dari kata <em>\u2018araja-ya\u2019ruju<\/em> yang bermakna naik. Selain bermakna naik, <em>\u2018araja<\/em> juga bermakna singgah, bentuk lainnya adalah kata <em>a\u2019raaj<\/em> yang bermakna pincang. Kata lain serupa yang ditemukan dalam Al-Quran adalah <em>\u2018urjuun<\/em> yang bermakna tandan, atau <em>ma\u2019arij <\/em>yang bermakna tempat-tempat yang tinggi.<\/p>\n<p>Jika memperhatikan dalam konteks kisah Isra\u2019 Mi\u2019raj, yaitu ketika Nabi Muhammad \u2013<em>shallallahu \u2018alayhi wa sallam<\/em>\u2013 sedang mengalami masa-masa berat ketika \u2018Amul Huzni, atau tahun kesedihan dimana paman Sang Nabi, Abu Thalib dan istri Sang Nabi, Khadijah telah wafat. Kedua orang ini adalah sosok yang berperan dalam melindungi dan mendukung dakwah di masa-masa awal turunnya risalah pencerahan itu. Peristiwa ini terjadi sekira tahun kesepuluh setelah wahyu pertama turun.<\/p>\n<p>Ditambah lagi sebelum kejadian itu terjadi pemboikotan secara sosial-ekonomi oleh kaum Quraisy di Makkah kepada para sahabat yang memilih jalan hidup sebagai umat Islam generasi pertama. Kejadian ini terjadi pada tahun ketujuh setelah kenabian, dan berlanjut selama tiga tahun hingga \u2018Amul Huzni.<\/p>\n<p>Sehingga kondisi masa-masa itu bukanlah kondisi yang tenang dan tentram serta serba berkecukupan. Sebaliknya, masa-masa itu adalah kondisi sulit yang mencekik. Kesedihan dan kesedihan, derita dan nestapa menggelayut di kalangan umat Islam masa itu.<\/p>\n<p>Maka untuk menghibur Sang Rasul, Allah memperjalankannya untuk \u201cpiknik\u201d dalam satu malam pada dua destinasi yang tidak biasa. Dari al-Masjid al-Haram tanah suci Makkah al-Mukarramah dimana Sang Rasul lahir, tumbuh dan tinggal ke al-Masjid al-Aqsha di Yerussalem, lalu naik menuju langit ketujuh atau Sidratul Muntaha. Pada masa dimana pesawat dan alat transportasi masih begitu sederhana dan memang dianggap diluar nalar oleh kebanyakan orang masa itu.<\/p>\n<p>Maka isra\u2019 adalah kondisi dan proses dimana Sang Rasul diperjalankan di bumi secara horizontal, dan mi\u2019raj adalah ketika Sang Rasul diangkat menuju langit ketujuh secara vertikal.<\/p>\n<p>Di langit ketujuh, Sang Rasul Yang Mulia diberikan \u201coleh-oleh\u201d yang juga istimewa. Perintah Shalat menjadi satu-satunya perintah ibadah dimana Sang Rasul mendapatkannya langsung di langit ketujuh. Tidak seperti ibadah lain dimana Sang Rasul tetap berada di bumi, lalu turunlah firman Allah dari atas langit ketujuh.<\/p>\n<p>Sehingga dari peristiwa ini, shalat-lah obat kesedihan, kesempitan, kesulitan, dan nestapa yang menggelayut dalam tahun-tahun duka. Sebagai wujud kasih sayang Allah, umat Islam hanya diwajibkan untuk menghadap-Nya sebanyak lima kali dalam satu hari. Selain lima waktu itu, umat Islam diberikan perintah untuk shalat di beberapa waktu lain yang ditentukan, tetapi tidak se-wajib lima waktu ini.<\/p>\n<p>Maka dalam lima waktu ini umat Islam menghadapkan diri di hadapan Tuhan. Mengadukan semua cita dan cerita yang didapatkannya dalam kehidupan. Melepaskan ikatan penatnya kehidupan dalam lima waktu, sehingga mereka yang shalat menjalani hidup dengan ketenangan hati dan pikiran, yang kemudian akan melahirkan sikap yang rapi dan tertata. Karena hati dan pikiran yang tidak tenang menjadikan semua perkara hidup menjadi seolah tak berbentuk.<\/p>\n<p>Dalam rangkaian shalat, tersimpan banyak makna dan memuat banyak sikap penghambaan yang tinggi dan meninggikan. Dimulai dengan takbiratul ihram, dimana mengecilkan semua perkara kehidupan yang dihadapi walau sejenak, dan ditutup dengan menebar nilai positif berupa salam kedamaian pada siapapun di sekitar.<\/p>\n<p>Pada hakikatnya manusia lebih memilih ketenangan daripada keramaian. Itu manusiawi, dan menjadi sebab mengapa surga yang menjadi dambaan semua insan itu selalu digambarkan sebagai kebun dan sungai. Bukan digambarkan seperti kesenangan duniawi yang diinginkan semua orang.<\/p>\n<p>Sehingga bagi sebagian ulama, ketika shalat mereka selalu berusaha menghidupkan hati dengan menghadirkan kenyamanan atau bahkan sedikit ketakutan ketika sedang shalat. Sebagian menghadirkan diri seolah di hadapan Ka\u2019bah, sebagian menghadirkan diri seolah berada di hadapan liang lahat, sebagian lainnya membayangkan sedang berada di tengah kebun yang indah.<\/p>\n<p>Peristiwa Isra\u2019 Mi\u2019raj menjadi momentum sejarah yang membentuk kepribadian diri seorang muslim yang taat. Dimana nilai disiplin, kerapian dan kebersihan lahir batin, ketenangan, kesabaran, berserah diri di hadapan Tuhan, menebar nilai positif berada dalam satu rangkaian ibadah yang terulang lima kali sehari. Sehingga shalat menjadi sebuah energi untuk membentuk insan yang berkemajuan, ketika shalat dipahami dan dijalankan dengan benar.<\/p>\n<p>Maka seorang muslim juga perlu meng-isra\u2019-kan dan me-mi\u2019raj-kan dirinya, hidupnya, potensi diri dan orang lain di sekitarnya. Dengan memperjalankan diri (<em>isra\u2019<\/em>) untuk memperjalankan diri untuk bergerak menambah wawasan hingga memperjalankan diri untuk peduli dengan mereka yang membutuhkan lalu barulah kemudian berupaya untuk meningkatkan (<em>mi\u2019raj<\/em>) potensi diri agar lebih baik setiap harinya.<\/p>\n<p>Sehingga <em>isra\u2019<\/em> dan <em>mi\u2019raj<\/em> tidak sebatas menjadi peristiwa sejarah yang diulang-ulang setiap momen bulan Rajab. Melainkan menjadi semangat diri dan bernilai sosial agar menjadi sosok yang dinamis dan optimis berlandaskan prasangka baik kepada Tuhan. Seorang muslim tidak bersikap statis yang berhenti dalam kenyamanan dan tenggelam untuk tidak berusaha berubah menjadi lebih unggul setiap harinya. Rasa nyaman itu indah, tetapi tidak ada perkembangan di dalamnya.<\/p>\n<p>Seorang muslim juga tidak perlu terburu-buru untuk ber-mi\u2019raj atau \u201cnaik\u201d baik dalam jabatan, pangkat, kekuasaan, popularitas dan semisalnya di hadapan sesama manusia. Karena seorang muslim perlu lebih dahulu untuk ber-<em>isra\u2019<\/em>, berjalan memperhatikan realitas dan berusaha mengambil pelajaran yang bermakna, sekaligus beraksi untuk kebaikan bagi sesama manusia. Sehingga ketika sudah berada di tingkat lebih tinggi diantara manusia lain, selayaknya mampu memelihara sikap <em>tawadhu\u2019<\/em> dan sederhana menyikapi <em>mi\u2019raj<\/em>-nya posisi dirinya.<\/p>\n<p>Tentang kapan dirinya akan ber-<em>mi\u2019raj<\/em>, naik, secara umum bukanlah hal yang perlu diperhatikan dengan terlalu ambisius, lantas mengabaikan batasan nilai, norma dan etika. Karena pada hakikatnya, hanya takwa setiap diri-lah yang menjadi poin <em>mi\u2019raj<\/em> atau naiknya derajat dan tingkatan diri manusia yang membedakannya dari orang lain. Allah-lah yang berhak untuk menghendaki siapapun dari para hamba-Nya yang pantas untuk di-<em>mi\u2019raj-<\/em>kan, begitu juga kapan dan bagaimana <em>mi\u2019raj<\/em>-nya.<\/p>\n<p>Seorang muslim selayaknya mampu meng-<em>isra\u2019-<\/em>kan orang lain, dengan mengajaknya untuk bersama berbuat dalam kebaikan, atau me-<em>mi\u2019raj-<\/em>kan derajat diri orang lain dengan cara-cara yang baik dan produktif. \u00a0<strong><em>(Muhamad Faruqi)<\/em><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/muhammadiyah.or.id\/2024\/02\/refleksi-isra-miraj-untuk-hidup-berkemajuan\/\">sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam ayat pertama surat Al-Isra\u2019, Allah \u2013subhanahu wa ta\u2019ala\u2013 berfirman, \u201cMaha Suci <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=27439\" title=\"Refleksi Isra\u2019 Mi\u2019raj Untuk Hidup Berkemajuan\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[438],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2321],"class_list":["post-27439","post","type-post","status-publish","format-standard","category-muhammadiyah-or-id","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2321,"user_id":7,"is_guest":0,"slug":"muhammadiyah-or-id","display_name":"Muhammadiyah","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c326460c3d94b5ad869f5993c9d2e3ec78bbe22b0e2c9c944f2f01cca83adff2?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Muhammadiyah","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":"muhammadiyah.or.id adalah website resmi persyarikatan Muhammadiyah. Dan dikelolah oleh PP Muhammadiyah"}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27439","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27439"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27439\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27439"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27439"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27439"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=27439"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=27439"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}