{"id":31404,"date":"2024-08-22T10:41:59","date_gmt":"2024-08-22T02:41:59","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/refleksi-haedar-nashir-di-hut-ke-79-republik-indonesia\/"},"modified":"2024-08-22T10:41:59","modified_gmt":"2024-08-22T02:41:59","slug":"refleksi-haedar-nashir-di-hut-ke-79-republik-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=31404","title":{"rendered":"Refleksi Haedar Nashir di HUT ke 79 Republik Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n            <!-- image --><\/p>\n<div class=\"td-post-featured-image\">\n<figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"696\" height=\"398\" class=\"entry-thumb td-modal-image\" src=\"https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-696x398.jpg\" srcset=\"https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-696x398.jpg 696w, https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-300x172.jpg 300w, https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-1024x586.jpg 1024w, https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-768x439.jpg 768w, https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01-734x420.jpg 734w, https:\/\/cirebonmu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/0-haedar-nasir-01.jpg 1040w\" sizes=\"auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px\" alt=\"\" title=\"0-haedar-nasir-01\"\/><figcaption class=\"wp-caption-text\">foto : Istimewa<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p>            <!-- content --><\/p>\n<p><strong>CIREBONMU.COM<\/strong>, YOGYAKARTA \u2013 Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak segenap warga bangsa untuk sama-sama melakukan refleksi dalam momentum HUT ke 79 RI.<\/p>\n<p>Haedar mengatakan, merayakan kemerdekaan tentu mengandung rasa gembira sebagai ekspresi kesyukuran atas karunia Tuhan yang sangat berharga. Namun kegembiraan mesti disertai penghayatan akan makna merdeka dan nilai-nilai dasar yang menjadi nyawa Indonesia. Agar kegembiraan itu tidak bersifat lahiriah semata, apalagi berubah menjadi pestapora.<\/p>\n<p>\u201cApakah\u00a0 Pancasila saat ini benar-benar dijadikan ruh, jiwa, atau nyawa dalam penyelenggaran dan kebijakan membangun Negara Republik Indonesia? Apakah seluruh warga dan\u00a0 pemimpin Indonesia senantiasa berpikir, bersikap, dan bertindak di atas landasan nilai utama Pancasila. Pancasila tidak menjadi jargon dan\u00a0 kata-kata belaka,\u201djelas Haedar pada Jumat (16\/8) di Yogyakarta.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga : Ini Risalah Konsolidasi PP Muhammadiyah, Memuat Bahasan Pilkada hingga Soal Konsesi Tambang<\/strong><\/p>\n<p>Haedar mengatakan Pancasila niscaya menjadi praktik hidup berbangsa dan bernegara yang luhur dan utama. Wujudkan dan praktikkan Pancasila dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan kebijakan-kebijakan publik secara nyata.<\/p>\n<p>\u201cKekuasaan dalam pemerintahan negara di eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga-lembaga bentukan pemerintahan lainnya\u00a0 haruslah berdiri tegak di atas nilai dasar Pancasila dan konstitusi Indonesia. Agama dan kebudayaan menjadi nilai\u00a0 luhur yang membentuk dasar moral dan etika berindonesia,\u201djelas Haedar.<\/p>\n<p>Haedar menekankan, ketika\u00a0 saat ini bangsa Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79, maka hayati dan praktikkan nilai-nilai dasar yang menjadi nyawa Negara Republik Indonesia itu. Jangan berhenti di kulit luar dan kesemerakkan lahiriah semata.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga : Haedar Nashir : Muhammadiyah Terus Berkiprah Mencerdaskan dan Memajukan Bangsa<\/strong><\/p>\n<p>\u201cBangunlah jiwa Indonesia agar lahir Indonesia Raya yang bernyawa. Yakni Indonesia yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagai tujuan dan cita-cita nasional yang digoreskan para pendiri negara. Bawalah negara dan bangsa tercinta ini pada cita-cita luhurnya yang mulia,\u201dimbuh Haedar.<\/p>\n<p>Rakyat Indonesia menderita ratusan tahun akibat kezaliman penjajah yang menikmati bumi dan kekayaan negeri ini. Di antara pejuang bangsa itu bahkan banyak yang tidak berpredikat Pahlawan Nasional, bahkan gugur tanpa nama.<\/p>\n<p>\u201cKarenanya, jangan biarkan Indonesia saat ini nestapa apalagi mati suri karena raganya terlepas dari jiwanya. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik uang, politik transaksional, politik dinasti, utang negara, salah urus dan penyimpangan dalam pengelolaan sumberdaya alam wujud dari penghianatan atas\u00a0 jiwa kemerdekaan Indonesia,\u201dtegas Haedar.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga : Ini Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dihadapan Ribuan Kader KOKAM<\/strong><\/p>\n<p>Haedar juga menegaskan bahwa kemerosotan moral, etika, dan segala tindakan buruk dalam berbangsa-bernegara merupakan bentuk perusakan jiwa Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cKunci Indonesia Raya agar tetap bernyawa dan tidak salah arah dalam memperjuangkannya berada di pundak para pemimpin bangsa,\u201djelas Haedar.<\/p>\n<p>Haedar berpesan agar para pemimpin Indonesia berjiwa, berpikiran, bersikap, dan bertindak sejalan Pancasila, agama, kebudayaan, dan sejarah Indonesia nan sarat makna. Menjadi para pemimpin negarawan yang mengedepankan\u00a0 kepentingan Indonesia di atas kepentingan diri, kroni, dinasti, dan golongan sendiri.<\/p>\n<p>Haedar mengutip pidato Mr Soepomo yang mengingatkan:\u00a0 \u201cKepala Negara dan badan-badan Pemerintahan lain harus bersifat pemimpin yang sejati, penunjuk jalan ke arah cita-cita luhur, yang diidam-idamkan oleh rakyat. Negara harus bersifat badan penyelenggara, badan pencipta hukum yang timbul dari hati sanubari rakyat seluruhnya.\u201d.<\/p>\n<p>\u201cPara pemimpin Indonesia harus sudah selesai dengan dirinya, dengan mengutamakan sikap memberi dan bukan meminta apalagi mencuri dari Indonesia,\u201dtegas Haedar.<\/p>\n<p>Haedar mengutip pernyataan John F Kennedy, Presiden Amerika Serikat. \u201cJangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu,\u00a0 tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.\u201d<\/p>\n<p><strong>Baca Juga : Ketua Umum PP Muhammadiyah Hadiri Resepsi Milad ke-115 Muhammadiyah Kabupaten Cirebon<\/strong><\/p>\n<p>\u201cJangan sampai Indonesia Raya kehilangan nyawa\u00a0 karena warga dan elite bangsanya bertindak sekehendaknya. Menjadi elite dan warga pemburu kuasa, tahta, dan gemerlap dunia. Para pemimpin Indonesia termasuk para ilmuwannya, niscaya menjadi penjaga integritas kenegarawan berbasis nilai-nilai luhur Pancasila, Agama, dan kebudayaan bangsa,\u201dtutur Haedar.<\/p>\n<p>Terakhir, Haedar berpesan kepada para elite untuk menjaga kebenaran, moral, etika, pengetahuan, dan kemajuan bangsa. Mereka konsisten mengutamakan kepentingan negara dan bangsa\u00a0 dengan berkorban sepenuh jiwa-raga.<\/p>\n<p>\u201cPara elite negeri jangan sibuk membangun legasi dan kepentingan diri yang merusak nilai-nilai luhur dan membebani masa depan Indonesia. Jadilah elite dan warga penyebar kebaikan berbasis iman dan taqwa agar Tuhan memberkahi Indonesia. Keberhasilan Indonesia di bidang ekonomi, politik, dan kemajuan fisik\u00a0 sedigdaya apapun tidak akan bertahan lama jika negara dan bangsa kehilangan nilai-nilai luhur nan utama. Menjadi Indonesia tanpa nyawa!,\u201dpungkas Haedar. <strong>(CM)<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/cirebonmu.com\/refleksi-haedar-nashir-di-hut-ke-79-republik-indonesia\/\">sumber berita ini dari muriamu.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>foto : Istimewa CIREBONMU.COM, YOGYAKARTA \u2013 Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=31404\" title=\"Refleksi Haedar Nashir di HUT ke 79 Republik Indonesia\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":31405,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[559],"newstopic":[],"ppma_author":[2327],"class_list":["post-31404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2327,"user_id":24,"is_guest":0,"slug":"cirebonmu","display_name":"CirebonMu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b14e07fb5038c9ae9bcb1295e65863e55c95d3b80f35f09d51209912bc035a44?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=31404"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31404\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/31405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=31404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=31404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=31404"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=31404"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=31404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}