{"id":33578,"date":"2024-11-22T17:22:51","date_gmt":"2024-11-22T09:22:51","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/edukasi-dan-pemahaman-yang-baik-bahaya-napza-penting-untuk-generasi-muda\/"},"modified":"2024-11-22T17:22:51","modified_gmt":"2024-11-22T09:22:51","slug":"edukasi-dan-pemahaman-yang-baik-bahaya-napza-penting-untuk-generasi-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=33578","title":{"rendered":"Edukasi dan Pemahaman Yang Baik Bahaya NAPZA Penting Untuk Generasi Muda"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 Prodi Bioteknologi UM Bandung bekerja sama dengan SMP Cendekia Muda mengadakan edukasi bertema \u201cPengaruh Zat Adiktif (NAPZA) pada Kesehatan\u201d di Ruang Lantai Dua kampus ini pada Selasa (19\/11\/2024).\n<\/p>\n<p>Dalam kegiatan ini, Kaprodi Bioteknologi UM Bandung Wulan Pertiwi menjadi narasumber utama yang memberikan wawasan mendalam dampak zat adiktif pada kesehatan fisik dan mental.<\/p>\n<p>Dalam pemaparannya, Wulan menjelaskan penggolongan narkotika menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 yang terbagi ke dalam tiga golongan berdasarkan tingkat potensi kebergantungan.\n<\/p>\n<p>\u201dNarkotika golongan I memiliki risiko tertinggi hingga menyebabkan kematian, seperti heroin dan kokain. Sementara itu, golongan II dan III tetap berisiko meski digunakan dalam pengobatan,\u201d ujarnya.\n<\/p>\n<p>Ia juga mengulas mekanisme zat ini yang meniru kerja endorfin alami di otak, memberikan rasa nyaman, tetapi membahayakan kesehatan. Selain narkotika, Wulan juga membahas psikotropika yang sering digunakan dalam pengobatan psikiatris.\n<\/p>\n<p>\u201dEfek psikotropika memengaruhi fungsi mental, perilaku, dan suasana hati. Golongan ini tetap memiliki risiko kebergantungan, bahkan untuk yang sering digunakan, seperti diazepam,\u201d jelasnya. Wulan menambahkan bahwa psikotropika memengaruhi neurotransmitter otak, termasuk dopamin, yang berkaitan erat dengan pembentukan kebiasaan dan perasaan euforia.\n<\/p>\n<p>Pemaparan berlanjut dengan bahasan zat adiktif lain, seperti alkohol, kafein, dan nikotin. Wulan menyoroti konsumsi rokok yang mencapai tingkat tertinggi di dunia. \u201dRokok, baik konvensional maupun elektrik, sama-sama berbahaya. Bahkan, paparan asap rokok pada perokok pasif meningkatkan risiko kanker payudara dan serviks,\u201d tegasnya.\n<\/p>\n<p>Data WHO menunjukkan bahwa 74,2 persen orang dewasa di Indonesia terpapar asap rokok di tempat umum dan ini angka yang sangat mengkhawatirkan.\n<\/p>\n<p><strong>Dampak jangka panjang<\/strong>\n<\/p>\n<p>Wulan juga menguraikan dampak jangka panjang penggunaan NAPZA yang mencakup kerusakan organ tubuh, gangguan mental, hingga kematian dini. \u201dNAPZA tidak hanya menghancurkan individu, tetapi membebani keluarga dan masyarakat. Biaya perawatan akibat penyakit terkait merokok, misalnya, mencapai Rp596,6 triliun per tahun,\u201d ungkapnya.\n<\/p>\n<p>Selain dampak kesehatan, Wulan menekankan pentingnya upaya preventif, termasuk edukasi sejak usia dini. Ia mengajak para peserta untuk memahami risiko dan menjauhi zat adiktif. \u201dPenting bagi kita semua untuk mengedukasi generasi muda agar mereka paham bahaya zat ini. Bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan lingkungan sekitarnya,\u201d ujar Wulan.\n<\/p>\n<p>Acara ini juga menggarisbawahi pentingnya rehabilitasi bagi pengguna zat adiktif. Wulan menekankan bahwa dukungan sosial sangat diperlukan untuk membantu mereka kembali ke kehidupan normal. \u201dPencegahan merupakan langkah terbaik. Namun, bagi mereka yang sudah terjerumus, rehabilitasi, cinta, dan dukungan dari keluarga, teman, akan memperbaiki keadaan dan masa depannya,\u201d katanya.\n<\/p>\n<p>Kegiatan edukasi yang diikuti 88 siswa kelas 8 SMP Islam Cendekia Muda ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya zat adiktif. \u201cKami percaya bahwa dengan edukasi yang tepat, kita bisa menciptakan generasi yang sehat dan bebas dari jeratan NAPZA,\u201d tutup Wulan.\n<\/p>\n<p>Sementara itu, pemateri lainnya, Haryanto, dosen prodi Bioteknolgi, menjelaskan tema \u201cDiagnostik Kesehatan Gusi pada Perokok dengan Metode Apus\u201d. Ia mengatakan bahwa salah satu metode untuk mendeteksi dampak rokok terhadap sel-sel gusi adalah dengan pembuatan preparat apus gusi.\n<\/p>\n<p>\u201dMetode apus ini melibatkan pengambilan sampel gusi yang kemudian dianalisis menggunakan mikroskop setelah melalui serangkaian proses fiksasi dan pewarnaan,\u201d ungkapnya.\n<\/p>\n<p>Dalam rangka memberikan pemahaman lebih mendalam tentang proses diagnostik ini, Haryanto pun bersama tim mengadakan pelatihan pembuatan preparat apus gusi kepada siswa-siswa SMP Cendekia Muda. Para siswa diajarkan cara mengambil sampel gusi menggunakan cotton bud yang dibasahi NaCl, mengapuskannya pada objek gelas, dan kemudian melakukan fiksasi dengan etanol 96 persen.\n<\/p>\n<p>Setelah diwarnai dengan giemsa dan dilakukan decolorisasi, preparat pun siap untuk diamati di bawah mikroskop. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya deteksi dini terhadap dampak merokok pada kesehatan mulut.***\n<\/p>\n<p>\t\t\t<!-- .entry-footer -->\n\t\t<\/div>\n<p><script defer async src=\"https:\/\/connect.facebook.net\/id\/sdk.js?ver=1.1.1#xfbml=1&amp;version=v9.0&amp;appId=1703072823350490&amp;autoLogAppEvents=1\" id=\"wpmedia-fb-js\"><\/script><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/bandungmu.com\/edukasi-dan-pemahaman-yang-baik-bahaya-napza-penting-untuk-generasi-muda\/\">sumber berita ini dari bandungmu.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNGMU.COM, Bandung \u2013 Prodi Bioteknologi UM Bandung bekerja sama dengan SMP Cendekia <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=33578\" title=\"Edukasi dan Pemahaman Yang Baik Bahaya NAPZA Penting Untuk Generasi Muda\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":33579,"comment_status":"","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[560,559],"newstopic":[],"ppma_author":[2316],"class_list":["post-33578","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","tag-breaking-news","tag-headline"],"authors":[{"term_id":2316,"user_id":15,"is_guest":0,"slug":"bandungmu","display_name":"bandungmu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8334fb980c3d1187b7711db325350e101973e2944d1655f532e02475759c5308?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"bandungmu","last_name":"","user_url":"http:\/\/bandungmu.com","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=33578"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33578\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/33579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=33578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=33578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=33578"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=33578"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=33578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}