{"id":3467,"date":"2022-01-24T20:14:57","date_gmt":"2022-01-24T12:14:57","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/?p=3467"},"modified":"2022-01-24T20:14:57","modified_gmt":"2022-01-24T12:14:57","slug":"gaduh-migrasi-guru-pppk-majelis-dikdasmen-gresik-kita-realistis-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=3467","title":{"rendered":"Gaduh Migrasi Guru PPPK, Majelis Dikdasmen Gresik: Kita Realistis Saja"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GIRImu<\/strong> \u2013 Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik angkat bicara terkait gaduh banyaknya guru swasta yang pindah ke sekolah negeri. Perpindahan itu terjadi karena pemerintah, lewat Kemendikbudristek, merekut guru lewat program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak program itu diluncurkan, hingga kini tercatat 12 guru\ndi 10 sekolah Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Gresik, dinyatakan lolos\nseleksi PPPK guru. Diperkirakan, angka itu terus bertambah, karena pemerintah masih\nmenjalankan program tersebut hingga kuota yang ditargetkan terpenuhi. Majelis\nDikdasmen sendiri tidak bisa berbuat banyak terkait fenomena hengkangnya para\nguru itu dari sekolah-sekolah Muhammadiyah, karena terbentur fakta yang\ndilematis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Majelis Dikdasmen PDM Gresik, Dodik Priyambada membenarkan, 12 gurunya telah lepas dan kini dalam proses administrasi untuk secara formal mengundurkan diri dari sekolah Muhammadiyah tempat mereka mengabdi selama ini. Ia mengaku tidak bisa menahan atau melarang karena terbentur fakta serba dilematis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni banyak terjadi di sekolah-sekolah yang secara ekonomi masih pra-sejahtera atau belum bisa mendiri. Kami tidak bisa <em>nggandholi<\/em> karena faktanya kami juga belum bisa berbuat banyak terkait pemenuhan finansial mereka, karena gaji mereka selama ini memang relative kecil dan sekolah memang belum mampu memberikan yang lebih,\u201d ujar Dodik, Senin (24\/1\/2022).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikatakan, secara ekonomi, sekolah-sekolah di bawah naungan\nMuhammadiyah Gresik sebagian besar belum mandiri. Jika dikomposisikan, lanjut\nDodik, masih 60:40. Artinya, 60 persen sekolah Muhammadiyah di Gresik masih\nmasuk kategori prasejahtera. Karena itu, begitu pemerintah membuka peluang\nrekrutmen lewat PPPK dengan gaji yang lebih menjanjikan, pihaknya tidak bisa berbuat\nbanyak. Meski ia mengaku, tren pindahnya guru terkait program PPPK menjadi\nbeban tersendiri bagi Muhammadiyah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMerekrut guru baru dengan kualifikasi yang dibutuhkan itu kan\ntidak gampang dan butuh waktu. Apalagi, biasanya kami juga secara rutin\nmelakukan pembinaan untuk meningkatkan kualitas guru. Tapi, mau bagaimana lagi,\nketika mereka dihadapkan pada tuntutan ekonomi. Kami mesti realistis,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski tak menampik fakta bahwa banyak sekolah Muhammadiyah yang\nmenjadi \u201ckorban\u201d kebijakan PPPK, Dodik menegaskan, masih lebih banyak sekolah\nyang tak terpengaruh, termasuk para guru yang bernanung di dalamnya. Sekolah\nyang ia maksudkan adalah yang secara ekonomi sudah mandiri dan secara geografis\nbanyak tersebat di Kawasan perkotaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau yang di perkotaan tak da masalah, baik terhadap\nsekolah maupun gurunya. Yang banyak terjadi itu di Kawasan pinggiran atau\npedesaan, yang secara ekonomi masih berat,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disinggung tentang solusi untuk mengatasi ketimpangan\nekonomi yang masih banyak dialami pengelola sekolah, Majelis Dikdasmen, katanya\ndalam beberapa tahun terakhir meminta agar para kepala sekolah kreatif mencari\nterobosan. Salah satunya adalah mencari alternatif sumber dana, misalnya lewat pengelolaan\nusaha atau bisnis di unit sekolah masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSelain itu, kami juga minta pimpinan peryarikatan untuk\nmengolaborasikan dengan majelis atau Lembaga lain untuk men-support pendanaan,\nterutama di sekolah-sekolah yang masih belum mandiri secara ekonomi, misalnya\ndengan menggandengan Majelis Ekonomi dan juga Lazismu,\u201d tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana diberitakan, kebijakan PPPK yang diberlakukan\nKemendikbudristek terbukti telah menjadi beban bagi sekolah-sekolah swasta,\nseperti yang dikelola Muhammadiyah, LP Ma\u2019arif NU, PGRI, Taman Siswa, juga Yayasan-yayasan\nKristen dan Katholik, dan swasta lainnya. Ini terjadi karena Sebagian guru\nmereka memilih pindah ke sekolah negeri setelah lolos seleksi PPPK guru. Secara\nnasional, sekitar 3.000 guru sekolah Muhammadiyah migrasi ke sekolah negeri,\nsementara di Jatim tercatat lebih dari 300 guru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menyikapi hal tersebut, Pimpinan Wikayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, sebagaimana disampaikan Wakil Ketua yang membidangi Pendidikan, Prof Dr Biyanto, MAg segera mengumpulkan Majelis Dikdasmen dan kepala sekolah se-Jatim untuk merumuskan kebijakan dan Langkah yang akan diambil. Langkah ini dilakukan karena dari target 1 juta guru yang akan direkrut lewat program PPPK, kini baru terealisasi sekitar 250.000 guru. <strong>(sto)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>GIRImu \u2013 Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=3467\" title=\"Gaduh Migrasi Guru PPPK, Majelis Dikdasmen Gresik: Kita Realistis Saja\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2577,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[101],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2318],"class_list":["post-3467","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-kabar"],"authors":[{"term_id":2318,"user_id":4,"is_guest":0,"slug":"hartoko","display_name":"Suhartoko","avatar_url":{"url":"https:\/\/girimu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wp-17258019513934313889963333741247.jpg","url2x":"https:\/\/girimu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wp-17258019513934313889963333741247.jpg"},"author_category":"","first_name":"Hartoko","last_name":"","user_url":"","job_title":"Redaktur senior","description":"Redaktur senior "}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3467","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3467"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3467\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3468,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3467\/revisions\/3468"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2577"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3467"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=3467"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=3467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}