{"id":3620,"date":"2022-04-06T20:11:50","date_gmt":"2022-04-06T12:11:50","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/04\/06\/mengembangkan-religiusitas-yang-mencerahkan-di-era-disrupsi-pwmu-co\/"},"modified":"2022-04-06T20:11:50","modified_gmt":"2022-04-06T12:11:50","slug":"mengembangkan-religiusitas-yang-mencerahkan-di-era-disrupsi-pwmu-co","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=3620","title":{"rendered":"Mengembangkan Religiusitas yang Mencerahkan di Era Disrupsi | PWMU.CO"},"content":{"rendered":"<div>\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full\" class=\"size-full\" loading=\"lazy\" width=\"720\" height=\"404\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/IMG_20220406_170344.jpg\" alt=\"Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi. Mengembangkan Religiusitas yang Mencerahkan di Era Disrupsi menjadi tema Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah (Nely Izzatul\/PWMU.CO)\" class=\"wp-image-235884\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/IMG_20220406_170344.jpg 720w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/IMG_20220406_170344-300x168.jpg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/IMG_20220406_170344-150x84.jpg 150w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\"\/><figcaption>Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi. Mengembangkan Religiusitas yang Mencerahkan di Era Disrupsi menjadi tema Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah (Nely Izzatul\/PWMU.CO)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>PWMU.CO \u2013 <\/strong>Mengembangkan Religiusitas yang Mencerahkan di Era Disrupsi menjadi tema yang diusung pada Pengajian Ramadhan tahun 1443 H\/2022 M Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Selasa (5\/4\/2022)<\/p>\n<p>Hal ini, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah <a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/pwmu.co\/tag\/haedar-nashir\/amp\/\">Prof Dr Haedar Nashir MSi, <\/a>ada dua pertimbangan yang mendasari dipilihnya tema tersebut.<\/p>\n<p>\u201cPertimbangan pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam (<em>al-Harakat al-Islamiyyah, Islamic Movement<\/em>) seyogyanya menghidupkan tajuk-tajuk keislaman yang khas (<em>al-masail al-diniyah al-khasah<\/em>),\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Dengan menghidupkan tajuk keislaman yang khas itu, sehingga isi dan tampilan dakwah Muhammadiyah semakin kuat sebagai gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid dalam posisi sebagai organisasi keagamaan.<\/p>\n<p>\u201cJangan hanya isu-isu umum yang terus menerus menjadi perhatian warga Muhammadiyah, termasuk melalui media sosial yang telah menjadi media interaksi dan komunikasi publik yang meluas menjadi realitas dunia baru saat ini,\u201d tuturnya menginginkan.<\/p>\n<p>Pertimbangan kedua, dengan adanya masalah-masalah besar dalam kehidupan umat manusia saat ini, khususnya akibat revolusi sains dan teknologi informasi yang melahirkan disrupsi atau perubahan besar-besaran, diperlukan penguatan aspek religiusitas Islam yang mencerahkan.<\/p>\n<p>\u201cIni sebagai panduan kehidupan manusia agar menjalani hidup dengan benar, lurus, dan autentik sekaligus membawa kemajuan yang maslahat,\u201d ucap Haedar Nashir.<\/p>\n<h4 id=\"mengingatkan-ihya-ulumuddin\" class=\"joli-heading\"><strong>Mengingatkan Ihya Ulumuddin<\/strong><\/h4>\n<p>Menurutnya, mengembangkan religiusitas yang mencerahkan dalam khazanah Islam mengingatkan kaum muslimin pada karya terbesar Imam Al-Ghazali (1058\/450 H\u20131111\/505 H) yakni <em>Ihya Ulumuddin<\/em> atau Al-Ihya. Kitab yang mengupas tentang hakikat kehidupan muslim untuk menyucikan jiwa (<em>Tazkiyatun al-Nafs<\/em>) untuk perilaku mulia.<\/p>\n<p>\u201cAl-Ghazali dengan filsafat akhlaknya mengajarkan hikmah dan etika kehidupan yang utama. Dalam ber<em>amar-makruf<\/em> dan <em>nahi munka<\/em>r, Syaikh al-Islam itu memberikan panduan tentang syarat-syarat dan Adab Amar Makruf Nahi Munkar,\u201d terang guru besar bidang sosiologi UMY tersebut.<\/p>\n<p>Haidar menjelaskan, kelemahan Al-Ihya karena memuat hadits-hadits yang lemah sanadnya, lalu diperbaiki oleh Ibnu Jauzi yang menghasilkan kitab <em>Minhajul Qashidin Wa Mufidush Shadiqin<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cKarya mutakhir yang mengangkat tema senada ialah kitab <em>Tanwir al-Qulub Fi Mu\u2019analati \u2018Alami al-Ghuyub<\/em> karya Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi (wafat 1913M), ulama besar Al-Azhar, sekaligus syeikh tarikat bermazhab Syafii,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Karya sufisme tersebut menekankan pentingnya pencerahan hati untuk menjadi \u201cmanusia bumi, manusia langit\u201d, meski selalu ada problem di sekitar tarekat dan sufisme.<\/p>\n<p>Sementara itu, imbuh Haedar, karya terkenal di lingkungan umat Islam Asia Tenggara dan Muhammadiyah ialah Tasawuf Modern karya Buya Hamka, yang mengajarkan sufisme yang bebas dari unsur-unsur tarekat dan lebih mengedepankan ajaran akhlak yang spiritualistik atau religiusitas yang aktual.<\/p>\n<p>\u201cMuhammadiyah dalam Tanwir Bengkulu 2019 melahirkan Risalah Pencerahan sebagai bagian dari pandangan Islam Berkemajuan untuk menjadi panduan keberagamaan yang mencerahkan khususnya di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah,\u201d terang Haedar. (*)<\/p>\n<p>Penulis <strong><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/?s=Nely+Izzatul\">Nely Izzatul<\/a> <\/strong>Editor <strong>Mohammad Nurfatoni<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/235880\/04\/06\/mengembangkan-religiusitas-yang-mencerahkan-di-era-disrupsi\/\">sumber berita<\/a> by <a href=\"\">[pwmu.co]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi. Mengembangkan Religiusitas yang <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=3620\" title=\"Mengembangkan Religiusitas yang Mencerahkan di Era Disrupsi | PWMU.CO\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":3621,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2322],"class_list":["post-3620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2322,"user_id":8,"is_guest":0,"slug":"pwmu-co","display_name":"PWMU CO","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f15f1d1322b4c7ebbc526efeb445a60ad49b675f17de7d9b1484949e600541a?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"PWMU","last_name":"CO","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3620"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3620\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3620"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=3620"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=3620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}