{"id":40491,"date":"2026-04-20T21:38:34","date_gmt":"2026-04-20T13:38:34","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/?p=40491"},"modified":"2026-04-20T21:38:34","modified_gmt":"2026-04-20T13:38:34","slug":"inilah-cerpen-azza-alzena-yang-mengukir-prestasi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=40491","title":{"rendered":"Inilah Cerpen Azza Alzena yang Mengukir Prestasi Nasional"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: right;\"><em>Fatimah Azzahra Alzena Al-Aliy yang poluper dengan nama pena Azza Alzena telah mengukir prestasi di tingkat nasional. Karya cerpennya: <strong>Desir Pesisir Bandar Grisse<\/strong> berhasil meraih juara nasional dalam Lomba Menulis Cerpen bertajuk &#8220;Bahasa Berdaya&#8221; tingkat SMP dan SMA yang dihelat untuk memperingati Hari Kartini 2026. Penasaran dengan karya kreatif siswa kelas VII International Class Program (ICP) Great SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) GKB Gresik ini? Berikut salinan lengkapnya.\u00a0<\/em><\/p>\n<p>*****<\/p>\n<p><strong>Desir Pesisir Bandar Grisse<\/strong><\/p>\n<p><strong>Angin<\/strong> laut berembus lirih menembus dinding-dinding kapal, dayung nelayan, dan daun yang mengering terbawa gelombang. Dari jauh terlihat pelabuhan Gresik mulai bergeliat mengikuti gelombang pasang surut lautan lepas. Bau asin laut bercampur aroma pudak dari warung kecil Mbok Biyah di pinggir jalan. Kota ini selalu terasa hidup bagi Damar, meskipun kini ia sering merasa ada yang hilang dari hidupnya.<\/p>\n<p>Damar adalah siswa kelas IX yang gemar menulis. Ia sering duduk di beranda rumahnya, menatap jalan kampung yang menuju pelabuhan tua Gresik. Menghitung lalu lalang kapal dagang memenuhi pelabuhan. \u201cJalan itu selalu ramai oleh pedagang dari berbagai negeri. Ada yang datang dari Arab, Gujarat, bahkan Tiongkok. Mereka berdagang rempah, kain, dan cerita,\u201d ujar kakeknya dalam ingatannya. Kata kata itu masih membekas di pikirannya,<\/p>\n<p>Tetapi sekarang, yang ramai justru suara gawai. Lalu media sosial saling berebut pengaruh diantara pergerakan lalu lintas dunia digital, bagaimana FB harus berebut dengan IG, lalu twiter berevolusi menjadi X untuk menyaingi tik-tok. Belum lagi games yang terus menjajah waktu anak anak seuisianya.<\/p>\n<p>Di sekolah, teman-temannya lebih sering berbicara dengan bahasa campuran yang aneh. Indonesia, inggris, jawa kasar, jawa asal, bahasa pop entah apa namanya. \u00a0Bahasa Jawa kini terasa asing, bahkan cerita tentang kota mereka sendiri jarang sekali dibicaran. Padahal pelajaran bahas ajawa masih dikenal mereka melalui muatan lokal. Setiap minggu guru Bahasa Jawa senantiasa berpesan pentingnya mengutamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing\u201d pesan Pak Arif.<\/p>\n<p>Esok pagi desiran angin membelah pintu-pintu jendela kelas, lalu menyibak selambu kuning keemasan, beberapa siswa mulai\u00a0 menapakkan kaki di gerbang pintu sekolah, Bu Sulastri tersenyum menyambut kedatangan siswa. Orang tua mengantar anak-anaknya dengansuka cita. Beberapa waktu kemudian di kelas IX C saat materi Bahasa Indonesia, Pak Arif menuliskan sebuah kalimat besar di papan tulis.<\/p>\n<p><strong>\u201c<\/strong><strong>Bahasa adalah kekuatan raga. Bahasa dapat menjaga peradaban bangsa.<\/strong><strong>\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Menatap tulisan itu tak ada celotehan seperti biasanya, tak ada teriakan, cubitan, ocehan dari teman teman Damar. Mereka saling menatap, sebagian hanya mengangkat bahu, seakan tak mengerti apa yang dituliskan pak guru.<\/p>\n<p>\u201cCoba kalian pikirkan,\u201d kata Pak Arif sambil menatap tajam murid-muridnya. \u201cKalau suatu hari nanti cerita tentang Gresik hilang, siapa yang akan mengingatnya?\u201d tanyanya sambil menatap satu demi satu siswa di kelas itu.<\/p>\n<p>Damar mengangkat tangan. dengan perasaan was was, berharap jawabannya benar \u201cMungkin buku sejarah, Pak.\u201d Suasana kelas menjadi tegang, seluruh siswa\u00a0 memandang Damar. Berharap jawabannya tak menjadikan pak Arif murka.<\/p>\n<p>Pak Arif tersenyum tipis. Sembari melangkahkan kakinya melewati meja demi meja siswa, memutar dari depan ke belakang, lalu dari belakang kedepan, sembari menatap satu persatu siswa. Sesampai di depan beliau memandang Damar dengan mata tajam.<\/p>\n<p>\u201cBuku sejarah hanya mencatat peristiwa. Tak bisa membuka rasa. Tapi bahasa\u2026 bahasa mampu menyimpan jiwa manusia.\u201d Kalian mengerti, dengan bahasa meninggi. \u201cJangan pernah kalian melupakan bahasa sebagai identitas dirimu,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Kalimat itu terus terngiang di kepala Damar, bahkan setelah pulang sekolah.<\/p>\n<p>Sore harinya Dia memutuskan \u00a0menyusuri Kampung Arab, Kampung Pecinan, Kampung Kemasan, Kawasan Bandar Grise kota Tua yang selalu menarik baginya. Rumah-rumah kuno berdiri berdampingan dengan toko-toko kecil. Di beberapa sudut, tulisan Arab dan Jawa masih terlihat di papan nama yang sudah pudar.<\/p>\n<p>Di depan sebuah rumah tua berwarna merah, Damar melihat seorang lelaki tua sedang duduk sambil membaca buku yang halamannya terlihat mula menguning. Beberapa saat Damar berusaha maju menyapanya tapi rasa takut menyelimuti, maju mundur, maju mundur karena talut menganggu konsentrasi membacanya. Dan akhirnya ia putuskan untuk menyapanya.<\/p>\n<p>\u201cMbah Karim ?\u201d sapa Damar lembut sambil meliat kedua tanannya di depan dadanya.<\/p>\n<p>Lelaki itu mengangkat wajahnya dan tersenyum.<\/p>\n<p>\u201cAh, Damar. Sini duduk,\u201d ujar Mbah Karim \u00a0lembut.<\/p>\n<p>Mbah Karim \u00a0bukan sosok asing bagi Damar beliau dikenal sebagai salah satu sesepuh kampung tua di Bandar Grisse. Ia sering bercerita tentang masa lalu Gresik, tentang Pelabuhan Bandar Grisse, ulama, pedagang, dan para penulis yang pernah hidup di kota\u00a0 ini mampu diceritakan dengan baik. Sejarawan yang masih terus menjaga keberadaan situs budaya.<\/p>\n<p>\u201cApa yang Mbah baca?\u201d tanya Damar penasaran.<\/p>\n<p>Sambil membuka buku Mbah Karim \u00a0memperlihatkan buku di tangannya. Itu bukan buku biasa pikir Damar dalam dalam. Karena ia tak pernah melihat\u00a0 tulisan di dalamnya menggunakan huruf yang belum pernah Damar lihat dengan jelas sebelumnya. Beberapa kali Damar membolak balikkan halaman tapi sulit memahami kata-katanya. Bahasa Arab tapi tidak ada\u00a0<em>kharokat<\/em>nya gumam dalam hatinya.<\/p>\n<p>\u201cIni naskah lama,\u201d kata Mbah Karim \u00a0dengan suara pelan. \u201cDitulis dengan aksara Arab Pegon. Dulu banyak ulama menulis cerita dan nasihat dengan bahasa Jawa, tapi hurufnya Arab. Hurufnya agak berbeda dengan arab sekarang,\u201d ucap Mbah Karim \u00a0berusaha meyakinkan Damar.<\/p>\n<p>Damar menatap kagum. Tanpa memberikan argumentasi sedikitpun.<\/p>\n<p>\u201cIsinya apa, Mbah?\u201d ucap Damar sambil memandang buku itu.<\/p>\n<p>\u201cCerita tentang para pedagang di pelabuhan Gresik. Tentang bagaimana bahasa menyatukan orang-orang dari berbagai bangsa dibelahan dunia. Gresik dulu itu kota bandar, orang portugs, arab, belanda, campa, india, cina, dan masyarakat lokal berdagang di satu pelabuhan yang sama. Pelabuhan Tse Sun namanya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Damar terdiam. Ia baru menyadari bahwa kota kecilnya menyimpan cerita yang begitu besar. Padahal selama ini tak banyak cerita yang bisa ia eksplor dari masa lalu, selain kota tua yang sudha mulai di tinggalkan oleh pendiduknya, karena mereka bosan dengan polusi kota.<\/p>\n<p>\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Karim. \u201cGresik adalah tempat bertemunya bahasa. Orang Arab, Jawa, Tionghoa, semuanya berbicara dengan cara mereka masing-masing. Tapi mereka saling memahami. Bahasa jawa menjadi penyatu bagi mereka.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSekarang orang-orang malah lupa bahasanya sendiri Mbah,\u201d gumam Damar.<\/p>\n<p>Mbah Karim \u00a0menatapnya dengan pandangan tajam.<\/p>\n<p>\u201cBahasa tidak pernah benar-benar hilang, Nak. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.\u201d Dengan memandang Damar penuh keyakinan. Berharap kelak Damar mampu menghidupkan kembali bahasa jawa di sini.<\/p>\n<p>Kalimat itu membuat Damar berpikir keras. Mencoba membuka kotak pandora dari pikiran Mbah Karim . Pertemuan itu menjadi pertemuan yang membuka wawasan Damar untuk terus mencaritahu sejarah dan bahasa Gresikkan. Bahasa yang pernah hidup dizaman lampau. Tapi kini teah menghilang karena pergeseran zaman.<\/p>\n<p>Malam itu, di kamar kecilnya, bangunan kuno dengan dinding tinggi, tebak, dan lembab, memandang langit-langit rumah kuno peninggalan kolonial, \u00a0ia membuka laptop dengan penuh harap. Ia scrol berbagai sosial media, berita di situs web kebahasaan, lalu film-film di youtube. Hingga tangannya berhenti di atas keyboard.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana cara menghidupkan bahasa?\u201d sembari memegang kepalanya.<\/p>\n<p>Tiba-tiba sebuah ide muncul gambaran tentang sejarah Gresik kota bandar. Ia mulai mengetik. Satu kata demi satu kata, menjait menjadi kalimat yang padu, lalu menjadikan gagasan yang utuh. Ia menulis cerita tentang Kampung Arab, kampung kemasan, kampung pecinan, tentang pelabuhan tua, tentang pedagang yang membawa rempah dari laut jauh. Ia juga menulis kata-kata khas Gresik yang sering ia dengar dari kakeknya.<\/p>\n<p>Malam larut, diiringi sinar rembulan yang lembab, hujan turun berlahan tipis, sinar bintang mulai memudar, digerus hujan dan malam yang sepi, Damarpun berlahan-lahan menuntaskan tulisannya, lalu menutup leptop untuk segera tidur.<\/p>\n<p>Keesokan harinya, selepas sholat subuh, ia merevisi tulisan itu, lalu menhunggah ke sebuah blog sederhana miliknya. \u201cDesir Pesisir bandar Grisse<strong>.\u201d<\/strong>\u00a0Awalnya tidak ada yang membaca. Beberapa hari kemudian, Damar menambahkan sesuatu yang berbeda. Ia menggambar komik kecil tentang seorang anak yang menemukan naskah kuno di rumah kakeknya. Di dalam komik itu, ia menuliskan dialog menggunakan bahasa Jawa Gresikan pesisir yang sederhana.<\/p>\n<p>Tak disangka, teman-temannya mulai memperhatikannya.<\/p>\n<p>\u201cMar, ini kamu yang buat?\u201d tanya Dito suatu hari di sekolah sambil menunjukkan blog itu di ponselnya. Damar mengangguk.<\/p>\n<p>\u201cSeru juga ceritanya,\u201d kata Dito. \u201cAku baru tahu kalau bandar Grisse punya sejarah panjang.\u201d Lanjut Dito mulai kagum dengan sahabatnya.<\/p>\n<p>Dari dito ke fian, lalu saskia, siti, munawaroh, desta, lalu pak guru Sigit, Bu Surya, hingga pak Arif membaca tulisan Damat, ketika lebih banyak siswa mulai membaca tulisan Damar. Pak Arif memanggilnya sepulang sekolah.<\/p>\n<p>\u201cKamu yang membuat blog ini?\u201d tanya pak Arif.<\/p>\n<p>\u201cIya, Pak.\u201d Jawab Damar sembari merundukkan matanya.<\/p>\n<p>Dengan menepuk bahunya, Pak Arif tersenyum bangga pada Damar.<\/p>\n<p>\u201cIni contoh bahwa bahasa bisa menjadi kekuatan. Kamu mampu menghidupkan kembali kehebatan masa lalu Gresik, aku bangga padamu nak\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Semenjak saat itu semangat Damar semakin tumbuh. Ia mulai membuat video pendek tentang tradisi Gresik. Ia merekam suasana\u00a0Pasar Bandeng, menulis cerita tentang\u00a0Sunan Giri, dan mewawancarai Mbah Karim \u00a0tentang sejarah pelabuhan tua Kota Gresik. Video-video itu ia unggah ke media sosial. Tak lama kemudian, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi. Salah satu videonya menjadi viral di kalangan pelajar Gresik. Banyak siswa mulai mengomentari dan berbagi cerita tentang tradisi di kampung mereka. Ada yang mengirim cerita tentang makanan khas, ada juga yang menulis kisah dari kakek dan nenek mereka.<\/p>\n<p>Suatu sore Damar kembali ke rumah Mbah Karim .<\/p>\n<p>\u201cMbah, lihat ini,\u201d katanya sambil menunjukkan layar ponsel.<\/p>\n<p>Ratusan komentar muncul di videonya.<\/p>\n<p>Mbah Karim \u00a0tersenyum lebar. Dengan mata berbinar bangga dengan capaian Damar.<\/p>\n<p>\u201cLihat? Bahasa Gresikan yang kamu bangun memang punya daya.\u201d<\/p>\n<p>Damar duduk di samping lelaki tua itu dengan keyakinan sungguh.<\/p>\n<p>\u201cTapi aku hanya menulis cerita sederhana.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJustru itu kekuatannya bahasamu\u201d kata Mbah Karim . \u201cBahasa tidak harus besar. Tak harus rumit. Kadang cukup sederhana, asal jujur akan memberikan efek dominan bagi pembaca.\u201d Sembari menunjukkan buku-buku dialmarinya, bagaimana bahasa karya kuno ditulis dengan jujur.<\/p>\n<p>Angin laut kembali berembus lirih dari arah pelabuhan. Damar memandang jauh ke arah laut yang mulai memerah oleh cahaya senja. Ia membayangkan kapal-kapal besar yang dulu datang ke Gresik, membawa rempah, kain, dan bahasa dari berbagai negeri.<\/p>\n<p>Kini ia mengerti sesuatu. Bahasa bukan hanya milik masa lalu. Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan tradisi dengan masa depan. Beberapa bulan kemudian sekolah Damar mengadakan festival literasi. Banyak siswa menampilkan karya mereka, seperti puisi, cerpen, dan komik.<\/p>\n<p>Di tengah aula sekolah, sebuah layar besar menampilkan video tentang sejarah Gresik yang dibuat oleh Damar dan teman-temannya. Pak Arif berdiri di depan panggung.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak,\u201d katanya. \u201cHari ini kita belajar sesuatu. Tradisi tidak harus ditinggalkan. Tradisi bisa tumbuh bersama inovasi.\u201d<\/p>\n<p>Ia menoleh ke arah Damar. \u201cDan semua itu dimulai dari bahasa.\u201d Para siswa bertepuk tangan. Damar menunduk sedikit, merasa wajahnya hangat. Namun di dalam hatinya ia tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai. Karena selama masih ada kata yang ditulis, cerita yang diceritakan, dan bahasa yang dijaga, maka kota kecil di pesisir utara itu tidak akan pernah kehilangan suaranya.<\/p>\n<p>\u201cGresik akan terus hidup. Bukan hanya di buku sejarah. Tetapi di dalam kata-kata\u201d. Ucap Damar lirih. <strong>(*)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fatimah Azzahra Alzena Al-Aliy yang poluper dengan nama pena Azza Alzena telah <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=40491\" title=\"Inilah Cerpen Azza Alzena yang Mengukir Prestasi Nasional\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":40492,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2307,2258],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2318],"class_list":["post-40491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-cerpen","category-srawung-sastra"],"authors":[{"term_id":2318,"user_id":4,"is_guest":0,"slug":"hartoko","display_name":"Suhartoko","avatar_url":{"url":"https:\/\/girimu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wp-17258019513934313889963333741247.jpg","url2x":"https:\/\/girimu.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wp-17258019513934313889963333741247.jpg"},"author_category":"","first_name":"Hartoko","last_name":"","user_url":"","job_title":"Redaktur senior","description":"Redaktur senior "}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=40491"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40493,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40491\/revisions\/40493"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/40492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=40491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=40491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=40491"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=40491"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=40491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}