{"id":4597,"date":"2022-04-26T00:39:41","date_gmt":"2022-04-25T16:39:41","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/04\/26\/sejarah-singkat-al-quran-perjuangan-para-sahabat-nabi-menjaga-firman-allah\/"},"modified":"2022-04-26T00:39:41","modified_gmt":"2022-04-25T16:39:41","slug":"sejarah-singkat-al-quran-perjuangan-para-sahabat-nabi-menjaga-firman-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=4597","title":{"rendered":"Sejarah Singkat Al-Qur\u2019an, Perjuangan Para Sahabat Nabi Menjaga Firman Allah"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Selama ini kita mengenal al-Qur\u2019an sebagai cetakan mushaf yang menghimpun firman Allah Swt. Tapi kenapa ada istilah \u201cturunnya al-Qur\u2019an\u201d kepada Nabi Muhammad? Apakah al-Qur\u2019an turun dalam bentuk kitab cetakan? Tentu saja bukan.<\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_ads  \">\n<p>Al-Qur\u2019an sebagai <em>kalamullah\u00a0<\/em>pada mulanya secara keseluruhan tersimpan di\u00a0<em>Lawhu al-Manfudz<\/em>. Setelah itu, Al-Qur\u2019an \u201cturun\u201d dalam dua proses sebagaimana keterangan dari Al-Zarkasyi dalam\u00a0<em>al-Burhan fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an<\/em>.<\/p>\n<\/div>\n<p>Pertama, diturunkan secara sekaligus dari\u00a0<em>Lawhu al-Manfudz<\/em>\u00a0ke langit dunia atau yang dikenal dengan sebutan\u00a0<em>Bayt al-\u2018Izzah<\/em>\u00a0pada malam\u00a0<em>Lailatul Qadr\u00a0<\/em>(QS. Al Qadr: 1).<\/p>\n<p>Kedua, diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw di bumi dalam rentang waktu 23 tahun yang disesuaikan dengan situai dan kondisi.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0<em>al-Itqan f\u00ee\u00a0<\/em><em>\u201b<\/em><em>Ulum al-Qur\u2019an<\/em>, Jalal al-Din al-Suyuthi mengungkapkan alasan mengapa Al-Qur\u2019an turun kepada Rasulullah tidak secara menyuluruh. Menurutnya, agar menambah keyakinan dan keteguhan hati Rasulullah, memudahkan penghafalan dan pencatatan, dan adanya sebagian kecil ayat-ayat yang menghapus (nasikh) dan yang terhapus (mansukh). Turunnya Al-Qur\u2019an kadang sebagai sebuah jawaban atas suatu masalah, atau juga sebagai kabar, berita, pengajaran, peringatan, dan nasihat tergantung situasi dan kebutuhan.<\/p>\n<p>Ketika ayat-ayat Al-Qur\u2019an itu disampaikan pada penduduk Mekkah atau Madinah, isi ayat-ayat al-Qur\u2019an seringkali membawa perspektif atau informasi yang baru dan berbeda.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, al-Qur\u2019an menekankan betapa pentingnya posisi dan mulianya derajat perempuan. Tergambarkan dengan jelas ketika al-Qur\u2019an mengadvokasi urusan hak waris dan hak atas proteksi sosial bagi perempuan.<\/p>\n<p>Penduduk Mekkah atau Madinah tahu bahwa perempuan punya posisi tertentu dalam masyarakat. Tapi seperti apa wujud konkret posisi perempuan secara bermartabat dan adil, tidak ada satu pun penegasan yang jadi\u00a0<em>mainstream\u00a0<\/em>di masyarakat.<\/p>\n<p>Begitu pula dengan seruan moral dalam al-Qur\u2019an untuk pengentasan kemiskinan, anak yatim, pembebasan budak dan bidang-bidang lainnya merupakan bukti upaya untuk menjawab problem kemanusiaan.<\/p>\n<p>Dalam beberapa hadis, Rasulullah membeberkan bagaimana suasana batin saat wahyu itu turun kepada dirinya. Kadang Nabi Saw terasa seperti mendengar bunyi lonceng yang sangat kencang, atau Malaikat Jibril terasa seperti berbisik dalam sukmanya, dan tidak jarang pula didatangi langsung Malaikat Jibril sebagaimana dalam peristiwa di Gua Hira dan Isra Mi\u2019raj. Kadang pula Rasulullah menerima wahyu dalam keadaan tidur melalui mimpi.<\/p>\n<p>Acapkali wahyu itu turun, Rasulullah akan meminta para sahabatnya untuk menghafal dan menuliskannya dalam berbagai medium seperti papirus, pelapah kurma, kayu, dan lain sebagainya. Penulisan ayat-ayat al-Qur\u2019an ini diyakini telah mulai sejak era Nabi di Mekkah. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kisah yang cukup terkenal tentang masuk Islamnya \u2018Umar bin Khattab setelah membaca lembaran QS. Thaha ayat 1-6. Usai membaca ayat tersebut, bergetar jiwa Umar dan memutuskan masuk Islam.<\/p>\n<p><strong>Al-Qur\u2019an: dari Budaya Lisan ke Tulisan<\/strong><\/p>\n<p>Tapi penulisan Al-Qur\u2019an secara lebih sistematis baru dimulai di Madinah, khususnya setelah Nabi secara resmi menunjuk beberapa sahabatnya untuk melakukan tugas ini. Mu\u2019awiyah bin Abi Sufyan, Ubay bin Ka\u2019ab, Zayd bin Tsabit, dan \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud, adalah nama-nama yang biasa disebut sebagai penulis wahyu di Madinah.<\/p>\n<p>Menurut al-Suyuthi dalam\u00a0<em>al-Itqan<\/em>, lembaran-lembaran Al-Qur\u2019an yang ditulis para sahabat ini memiliki jumlah dan susunan surah yang berbeda. Namun yang jelas, tidak disusun berdasarkan urutan kronologis ayat-ayat Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Dalam Kitab\u00a0<em>Shahih Bukhari<\/em>\u00a0terutama dalam \u201c<em>Fadhail Al-Qur\u2019an<\/em>\u201d dijelaskan bahwa untuk menjauhkan dari kekeliruan, biasanya setiap malam di bulan Ramadan kadang juga di bulan yang lain, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulangi bacaan dalam rangka menjaga keaslian dan keutuhan Al-Qur\u2019an baik dari segi susunan ayat maupun yang lainnya. Karenanya, bentuk bacaan Al-Qur\u2019an pada masa Nabi memang telah ada dan telah sempurna jauh sebelum adanya Mushaf Utsmani.<\/p>\n<p><strong>Proses Kodifikasi Awal Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n<p>Perbedaan jumlah surah dan yang lainnya di antara Sahabat itu disebabkan oleh berbagai faktor. Mushaf Ubay misalnya mengoleksi 115 surah, sementara Mushaf Ibn Mas\u2019ud 108 surah, dan Mushaf Ibn `Abbas 116 surah. Hal ini wajar belaka sebab menurut Syamsuddin Arif, di antara mereka ada yang belum atau tidak tahu versi terakhir, belum atau tidak sempat mengoreksi naskah catatannya, belum atau tidak sempat menyalin ulang berdasarkan instruksi terakhir, serta meminta pengesahan dari Rasulullah.<\/p>\n<p>Saat Nabi Saw wafat, seluruh Al-Qur\u2019an telah lengkap dan sempurna. Tidak lama setelah itu, meletus perang Yamamah, yakni pertempuran yang melibatkan pasukan Khalifah Abu Bakar melawan orang-orang murtad, Nabi-nabi palsu, dan para pembangkang zakat. Meski meraih kemenangan, namun sejumlah para penghafal Al-Qur\u2019an berguguran dalam pertempuran tersebut. Hal inilah yang membuat Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera mengumpulkan dan menghimpun catatan-catatan Al-Qur\u2019an yang berserakan dalam suatu naskah utuh.<\/p>\n<p>Zayd bin Tsabit yang terkenal cerdas dan teliti ditunjuk sebagai ketua pelaksana yang tugasnya mengkompilasi naskah-naskah Al-Qur\u2019an yang masih berserakan tersebut. Dalam melaksanakan tugasnya, Zayd dibantu Umar. Keduanya dengan ketat menetapkan bahwa kriteria yang diterima adalah laporan bacaan dan naskah Al-Qur\u2019an yang benar-benar ditulis di hadapan Rasulullah dan disahkan langsung oleh beliau, tidak cukup hanya mengandalkan hafalan (<em>la an mujarrad al-hifdz<\/em>).<\/p>\n<p><strong>Perjuangan Menjaga Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n<p>Karenanya jelas, upaya koleksi, kolasi, dan kompilasi al-Qur\u2019an tidak digarap sendirian atau oleh satu dua orang saja, akan tetapi merupakan proyek yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang. Setelah berhasil dihimpun dalam mushaf utuh, naskah tersebut disimpan oleh putri Rasulullah yang bernama Hafshah.<\/p>\n<p>Meski setelah Al-Qur\u2019an dihimpun menjadi naskah utuh, masih terdapat banyak perbedaan bacaan. Menurut Syamsuddin, perbedaan tersebut wajar saja terjadi dan dapat dimaklumi mengingat Rasulullah membolehkan kaum Muslim pada masa itu membaca al-Qur\u2019an menurut dialek suku masing-masing. Misalnya, Fakhr al-Din al-Razi dalam\u00a0<em>Mafatih al-Ghayb<\/em>\u00a0memberi informasi bahwa suku Kinanah, Bani Harits, Bani Rabi\u2018ah, Khath\u2018am, dan sebagian Bani \u2018Adhrah tidak mengubah tanda gramatik suatu kata ganda meskipun dalam kedudukan marfu\u2019, manshub, majrur. Seperti kata inna hadzaani dalam QS. Thaha ayat 63 yang secara gramatik seharusnya dibaca inna hadzayni.<\/p>\n<p><strong>Penyeragaman Dialek Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n<p>Kebutuhan penyeragaman dialek bacaan Al-Qur\u2019an baru muncul ketika Utman bin Affan menjadi Khalifah. Pasalnya, perbedaan mengenai bacaan al-Qur\u2019an telah menimbulkan keributan di tengah masyarakat. Al-Suyuthi dalam al-Itqan mencatatkan bahwa seseorang yang bernama Hudzayfah bin al-Yaman sempat meyaksikan sendiri perselisihan semacam itu, kemudian menyarankan kepada Khalifah Utsman agar melakukan standardisasi bacaan dan tulisan al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Setelah itu dibentuklah sebuah tim ahli beranggotakan 12 orang pakar al-Qur\u2019an dari kalangan Muhajirin dan Anshar, termasuk di antaranya Zayd bin Tsabit, Ubay bin Ka\u2018ab, \u2018Abdullah bin \u2018Abbas, Sa\u2018id bin al-\u2018Ash bin Sa\u2018id, dan lain-lain. Menurut Syamsuddin, apa yang dikerjakan oleh tim ahli ini tidak sebatas koleksi, kolasi, dan kompilasi, tetapi juga kodifikasi dan membuat standardisasi bacaan dan tulisan al-Qur\u2019an. Melalui jasa mereka itulah al-Qur\u2019an terpelihara sekaligus menyebar hingga sampai kepada generasi kita.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, Al-Qur\u2019an sebagai satu-satunya kitab suci yang dengan tegas menunjukkan dirinya bersih dari keraguan (<em>la rayba fihi<\/em>), dijamin keseluruhannya (<em>wa inaa lahu la-hafidzun<\/em>), dan tiada tandingannya. Hal ini membuktikan bahwa kitab suci ini benar-benar datang dari Allah secara verbatim. Menurut al-Suyuthi, keistimewaan Al-Qur\u2019an terletak pada metodenya (<em>ushlub<\/em>), keindahannya (<em>balaghah<\/em>), dan kabar gaib yang disampaikannya (<em>mughayyibat<\/em>). ( Ilham Ibrahim)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/infomu.co\/sejarah-singkat-al-quran-perjuangan-para-sahabat-nabi-menjaga-firman-allah\/\">sumber berita dari infomu.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama ini kita mengenal al-Qur\u2019an sebagai cetakan mushaf yang menghimpun firman Allah <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=4597\" title=\"Sejarah Singkat Al-Qur\u2019an, Perjuangan Para Sahabat Nabi Menjaga Firman Allah\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":4598,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2314],"class_list":["post-4597","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2314,"user_id":9,"is_guest":0,"slug":"infomu","display_name":"Infomu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/20a1c6136139a776494236406eb4515022f20942b676f8116da8454f72d3025f?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Infomu","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4597","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4597"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4597\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4598"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4597"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4597"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4597"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=4597"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=4597"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}