{"id":4893,"date":"2022-05-02T07:01:04","date_gmt":"2022-05-01T23:01:04","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/05\/02\/lebaran-minta-maaf-jangan-basa-basi-pwmu-co\/"},"modified":"2022-05-02T07:01:04","modified_gmt":"2022-05-01T23:01:04","slug":"lebaran-minta-maaf-jangan-basa-basi-pwmu-co","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=4893","title":{"rendered":"Lebaran, Minta Maaf Jangan Basa-basi | PWMU.CO"},"content":{"rendered":"<div>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full\" class=\"size-full\" loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"670\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1.jpg\" alt=\"Rezeki Mahal di Tengah Covid. Kolom ditulis oleh Mohammad Nurfatoni, Pemimpin Redaksi PWMU.CO.\" class=\"wp-image-160809\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1.jpg 1024w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1-300x196.jpg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1-150x98.jpg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1-768x503.jpg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/IMG-20200603-WA0000-1-750x491.jpg 750w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\"\/><figcaption>Mohammad Nurfatoni, penulis Rezeki Mahal di Tengah Covid. (Sketsa ulang foto Atho\u2019 Khoiron\/PWMU.CO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Lebaran, Minta Maaf Jangan Basa-basi, kolom oleh <strong><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/mohammad-nurfatoni\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Mohammad Nurfatoni<\/a><\/strong>, Pemimpin Redaksi PWMU.CO<\/p>\n<p><strong>PADA<\/strong><em>\u00a0<\/em>momentum Idul Fitri atau Lebaran, khususnya di Indo\u00adnesia, permohonan maaf telah menjadi sebuah tradisi. Lembaga-lembaga dan individu-individu, lewat berbagai media dan kesempatan, termasuk lewat iklan dan kartu lebaran\u2014kini\u00a0lewat media sosail seperti <em>WhatsApp, Twitter, Instagram,<\/em> atau<em> Facebook<\/em>\u2014mengungkapkan permohonan maafnya.\u00a0<\/p>\n<p>Namun ada satu hal yang janggal dalam permohonan maaf itu. Kekhilafan apa yang menyebabkan sebuah lembaga atau seseorang menyampaikan permohonan maaf. Seringkali tidak dijelaskan. Sehingga memunculkan kesan bahwa itu sekadar basa-basi.\u00a0<\/p>\n<p>Bayangkan Anda bertemu seseorang dan mengajak Anda bersalaman sambil mengucapkan permohonan maaf. Sementara Anda tidak merasa bersalah. Kenal pun tidak. Ini namanya mengobral maaf.\u00a0<\/p>\n<p>Tetapi bandingkan dengan permintaan maaf yang disertai dengan pengung\u00adkapan atas kesalahan yang telah diperbuat.<\/p>\n<p>Pernah terjadi,\u00a0<em>lift\u00a0<\/em>di Regent Hotel, Kuala Lumpur, macet pada suatu hari. Ada tamu yang terjebak dalam\u00a0<em>lift.\u00a0<\/em>Banyak tamu lain yang turun-naik dengan tangga. Ternyata, ada kucing nyelonong ke\u00a0dalam instalasi, kesetrum, hingga mati, dan memacetkan, sistem\u00a0<em>lift.\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Pihak hotel tentu saja kalang-kabut minta maaf kepada para tamu. Tetapi tidak cuma sampai di situ. Dua hari kemudian ada iklan di surat kabar. Banyak orang tertarik membaca iklan yang menyatakan duka cita atas kematian seekor kucing, sekaligus minta maaf atas kemacetan\u00a0<em>lift\u00a0<\/em>itu.<\/p>\n<h4><strong>Dapat Simpati<\/strong><\/h4>\n<p>Permintaan maaf yang jelas dan tulus seperti ini, akan membuat seorang merasa ringan untuk memberi maaf. Bahkan tidak ada alasan untuk tidak memberi maaf.\u00a0<\/p>\n<p>Kiat inilah yang pernah dilakukan oleh Goh Seng Kim,\u00a0General Manager<em>\u00a0<\/em>Telecoms Singapura, seperti diceritakan\u00a0almarhum<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bondan_Winarno\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">\u00a0Bondan Winarno<\/a> dalam\u00a0<em>Seratus\u00a0Kiat\u00a0<\/em>(1987). Dari pengalaman yang dialaminya, ternyata permintaan maaf dapat mengubah kebencian menjadi simpati.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSikap kami dengan terus-menerus minta maaf, bukannya defensif mencari kilah dan alasan,\u201d kata Goh Seng Kim. \u201ctelah mengubah kemarahan masyarakat menjadi kesabaran.\u201d<\/p>\n<p>Apakah ini bukan obral maaf? Telecoms meminta maaf atas keterlambatan pemesangan telepon pada calon pelanggan. Tapi di balik permintaan maaf itu, perusahaan ini bekerja ekstra-keras untuk mengejar kelemahannya. Setiap satu proyek selesai dan diberitakan di surat kabar, makin banyak surat yang datang untuk menanyakan kapan giliran mereka memperoleh telepon.\u00a0<\/p>\n<p>Kesempatan ini justru dipergunakan dengan baik. Setiap mengawali satu proyek, Telecoms membuat upacara sederhana sambil menyampaikan maaf berhubung proyek sebesar itu tak dapat dilaksanakan sekaligus. Dan makin lama masyarakat makin bisa menerima kenyataan itu.<\/p>\n<h4><strong>Menzalimi, Minta Maaflah!<\/strong><\/h4>\n<p>Adakah yang berat dari tindakan permintaan maaf. Mungkin tidak. Tetapi banyak lembaga atau individu justru enggan melakukan hal ini ketika menyadari atau ketahuan kesalahannya. Mungkin kuatir wibawanya merosot.\u00a0<\/p>\n<p>Hal ini terlihat pada berbagai institusi masya\u00adrakat kita. Banyak keluhan terhadap layanan publik, yang tidak mendapat tanggapan semestinya. Sekedar permohonan maaf pun sulit kita dapatkan. lni juga terjadi pada\u00a0<em>public<\/em><em>figur\u00a0<\/em>kita. Jangankan mengundurkan diri, meminta maaf saja tidak akan dilakukan.<\/p>\n<p>Dalam tradisi Islam, permintaan maaf menjadi syarat diterimanya taubat. Jika kesalahan itu menyangkut perkara sosial, maka syarat diterimanya taubat adalah pemberian maaf dari orang yang menjadi sasaran kesalahan kita. Di samping, tentu saja, ampunan dari Allah\u00a0SWT.<\/p>\n<p>Para\u00a0sahabat pernah bertanya kepada Ali\u00a0bin Abi Tahlib\u00a0<em>radhiyallhu anhu<\/em>\u00a0tentang syarat-syarat taubat yang diterima. Ali menyebut enam syarat, satu di\u00a0antaranya adalah mengembalikan hak manusia yang dizalimi, antara lain dengan meminta maaf.<\/p>\n<p>Masyarakat konsumen adalah sasaran terbanyak atas kesalahan sebuah perusahaan penghasil produk atau jasa. Jika mereka tidak memberi maaf, karena kita tidak pernah minta maaf, maka bisa memunculkan dampak yang tidak sepele. Meninggalkan dan (sekaligus) menyebarkan \u201cdosa-dosa\u201d kepada yang lain.<\/p>\n<p>Jadi, maaf itu penting saat salah. Termasuk di momentum Lebaran ini. Tapi, jangan basa\u00ad-basi!<\/p>\n<p>Selamat Idul Fitri 1443. Redaksi mohon maaf karena masih sering <em>typo<\/em>.  (*)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/239937\/05\/02\/lebaran-minta-maaf-jangan-basa-basi\/\">sumber berita<\/a> by <a href=\"\">[pwmu.co]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mohammad Nurfatoni, penulis Rezeki Mahal di Tengah Covid. (Sketsa ulang foto Atho\u2019 <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=4893\" title=\"Lebaran, Minta Maaf Jangan Basa-basi | PWMU.CO\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":4894,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2322],"class_list":["post-4893","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2322,"user_id":8,"is_guest":0,"slug":"pwmu-co","display_name":"PWMU CO","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f15f1d1322b4c7ebbc526efeb445a60ad49b675f17de7d9b1484949e600541a?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"PWMU","last_name":"CO","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4893","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4893"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4893\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4894"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4893"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4893"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4893"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=4893"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=4893"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}