{"id":5984,"date":"2022-05-30T15:32:16","date_gmt":"2022-05-30T07:32:16","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/05\/30\/siswa-menulis-pengalamanku-infomu\/"},"modified":"2022-05-30T15:32:16","modified_gmt":"2022-05-30T07:32:16","slug":"siswa-menulis-pengalamanku-infomu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=5984","title":{"rendered":"Siswa Menulis : Pengalamanku &#8211; Infomu"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p><strong>Pengalamanku<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Riska Deviana<\/strong><\/p>\n<p>Hai, namaku Misyel Laurensi Novita. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku bernama Akni laurelia dan adikku bernama Natasya Wilyanka. Kami tinggal bersama kedua orang tua\u00a0 kami di kota. Papaku bernama Prapto dan mamaku bernama Prisca Syefira. Papaku mempunyai perusahaan ternama di kota itu. Aku sangat bersyukur karena memiliki keluarga yang sayang dan perhatian kepadaku. Meskipun dikenal sebagai keluarga kaya, kami tidak lupa bersedekah kepada anak yatim dan orang-orang yang kurang mampu. Jangan kalian kira kami ini orang yang sombong ya hahahha.<br \/>Pagi itu aku bangun untuk sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh aku pergi mandi lalu ke dapur membuat sarapan.<br \/>\u201cEh, Non, mau ke mana?\u201d tanya Bik Surti. Dia pembantu di rumahku.<br \/>\u201cMau ke dapur, Bik, bikin sarapan,\u201d ucapku.<br \/>\u201cBibik sudah siapkan sarapannya di meja makan, Non,\u201d ucap Bik Surti.<br \/>\u201cYah Bibik kebiasaan deh,\u201d ucapku.<br \/>\u201cIni kan sudah jadi tugas Bibik, Non, nggak usah repot-repot lagi, sekarang Non makan ya,\u201d ucap Bik Surti.<br \/>\u201cYa udah, Bik, makasih,\u201d ucapku. Aku pergi ke meja makan lalu sarapan.<br \/>\u201cMisyel, Natasya mana?\u201d tanya mamaku.<br \/>\u201cEnggak tahu, Ma, mungkin masih\u00a0 tidur kali. Nanti biar Misyel bangunin siap sarapan.\u00a0 Sekalian kakak. Dia juga belum kelihatan dari tadi,\u201d ucapku.<br \/>\u201cKakak kamu sudah pergi sama kawannya entah ke mana. Nanti kamu berangkat\u00a0 sekolahnya diantar sopir saja, enggak usah bawa mobil dan enggak usah banyak tanya,\u201d ucap Mama.<br \/>\u201cYa udah, Ma,\u201d jawabku dengan pasrah.<br \/>Setelah selesai\u00a0 sarapan aku pergi ke atas ke kamarnya Natasya.<br \/>\u201cNat, Natasya, bangun! Udah jam tujuh ni, ayo bangun! Nanti telat sekolah,\u201d ucapku.<br \/>\u201cLima menit lagi, Kak,\u201d ucap Natasya.<br \/>\u201cLangit, bisakah engkau tolong aku? Kenapa aku harus punya adik yang susah banget\u00a0 dibangunin?!\u201d suaraku cukup keras, sampai-sampai\u00a0 papaku yang sedang sarapan di bawah mendengarnya.<br \/>\u201cAda apa, Misyel?\u201d tanya Papa.<br \/>\u201cIni, Pa, Natasya susah banget dibangunin,\u201d ucapku.<br \/>Natasha langsung bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi setelah mendengar suara Papa.<br \/>\u201cMemang suara Papa itu obat bangun tidurnya Natasya,\u201d ucapku. Mama dan Bibik yang mendengar ucapanku tadi tertawa.<\/p>\n<p>Setelah Natasya selesai\u00a0 mandi dan sarapan kami pun berangkat ke sekolah diantar oleh supir. Pertama kami menuju sekolahnya Natasya. Dia sekolah di SMP Nusa Bangsa kelas VII. Setelah itu barulah supir mengantarku ke SMA 5, sekolahku. Sekarang aku duduk di kelas X. Setelah sampai di sekolah aku pun masuk ke kelas.<br \/>\u201cHai, Gaes, apa kabar?\u201d tanyaku ke teman-teman.<br \/>\u201cHai juga, Misyel, kabarku baik. Bagaimana denganmu?\u201d tanya Farel kembali. Dia temanku dari kecil.<br \/>\u201cAku baik,\u201d ucapku. Tak lama kemudian bel pun berbunyi waktunya masuk untuk belajar.<\/p>\n<p>Sekarang sudah pukul 10.35. Bel pun berbunyi \u2018treeet \u2026 treeet \u2026\u2019 waktunya untuk istirahat. Aku pergi ke taman belakang sekolah. Aku duduk dan bersantai sebentar di sana. Tak lama kemudian bel pun berbunyi lagi \u2018treeet\u2019 tanda masuk kelas. Aku masuk dan belajar sampai pulang sekolah.<\/p>\n<p>Setelah pulang sekolah dan sampai di rumah aku mengganti pakaianku. Aku pergi ke ruang keluarga, duduk di sofa sambil menonton TV.<br \/>\u201c Misyel udah pulang sekolah, ya?\u201d ucap Mama.<br \/>\u201cIya, Ma,\u201d ucapku.<br \/>\u201cAdik kamu mana?\u201d tanya Mama.<br \/>\u201cAda di kamar, Ma,\u201d jawabku.<br \/>\u201cEh, kamu ada liat kakak kamu, nggak? Soalnya Mama punya feeling yang buruk tentang kakak kamu,\u201d ucap Mama.<br \/>\u201cEnggak, Ma, mungkin itu cuma perasaan Mama aja,\u201d ucapku\u00a0 sambil menonton TV. Mama pun\u00a0 pergi tanpa berkata apa-apa.<br \/>Malam harinya\u00a0 kakakku belum juga pulang. Mama menunggu kakak pulang\u00a0 di teras depan rumah sambil berjalan bolak-balik karena khawatir dengan kakak.<br \/>\u201cNat, kamu telpon Papa, suruh pulang.\u00a0 Kasihan Mama tuh,\u201d ucapku.<br \/>\u201cKakak Akni ke mana sih belum pulang-pulang?\u201d ucapnya Natasya.<br \/>\u201cIya, kalau kakak tahu Kak Akni di mana pasti bakalan kakak cari dan enggak diam di sini. Sudah, kamu telpon Papa aja sana!\u201d ucapku dengan wajah yang khawatir.<br \/>\u201cIya, kakak Misyel yang cerewet,\u201c ucap Natasya.<br \/>Tak lama kemudian Papa pun pulang<br \/>\u201cAkni belum pulang juga sampai sekarang?\u201d tanya Papa.<br \/>\u201cBelum, Pa, aku juga udah menelpon hapenya tadi. Enggak aktif, Pa,\u201d jawabku.<br \/>Papa langsung memanggil anak buahnya dan pergi mencari Kak Akni. Aku, Mama, dan Natasya menunggu di rumah. Setelah sekian lama kami menunggu Papa pun pulang, dan membawa kabar bahwa tadi siang ada pencurian gadis usia remaja di sekolah. Salah satu pencuri itu sempat ditangkap oleh warga, namun sayangnya berhasil melarikan diri. Teman Kak Akni yang berhasil\u00a0 kabur dari penculikan itu yang memberi tahu Papa. Mama yang mendengar kabar itu langsung\u00a0 pingsan. Kami membawa Mama ke rumah sakit.<br \/>\u201cDokter, bagaimana keadaan Mama?\u201d tanyaku ke Bu Dokter.<br \/>\u201cMama kamu baik-baik saja,\u00a0 cuma perlu istirahat dan enggak boleh terlalu banyak\u00a0 pikiran. Sekarang\u00a0 sudah bisa pulang, tapi tunggu saya bikin resep obatnya dulu,\u201d ucap Bu Dokter.<br \/>\u201cBaik, Bu Dokter, terima kasih,\u201d ucapku.<br \/>Akhirnya Mama pun bisa pulang ke rumah.<br \/>\u201cMisyel, Natasya, kalian jaga Mama, ya, Papa mau\u00a0 pergi ke kantor polisi,\u201d ucap Papa.<br \/>\u201cBaik, Pa,\u201d jawabku dan Natasya\u00a0 dengan serentak.<\/p>\n<p>Seminggu kemudian\u00a0 kakakku belum juga ditemukan.\u00a0 Papa bilang setahun yang lalu juga ada penculikan\u00a0 gadis. Mereka mencuri anak-anak usia remaja untuk dijual ke luar kota. Penculiknya berhasil ditangkap di Desa Ciloka. Di desa itu ada saudaraku yang bernama Tante Heny. Papa berencana mencari kakak di sana dan aku juga ikut. Natasya tidak ikut karena menjaga Mama.<br \/>Aku pergi ke Desa Ciloka bersama Farel karena sebelumnya aku bertemu Farel. Dia juga mau pulang kampung untuk menemui neneknya.<br \/>Sesampainya di sana aku langsung pergi ke rumah Tante Heny, sementara Farel pergi ke rumah neneknya. Aku bertemu Om Juan. Dia suaminya Tante Heny.<br \/>\u201cEh, kamu anaknya Pak Prapto yang punya perusahaan di kota itu kan? \u201c tanya Om Juan.<br \/>\u201cIya, Om, aku Misyel, Om. Masih ingat aku kan?\u201d ucapku.<br \/>\u201cOh iya, Misyel, papa sama mama kamu mana? Kamu sendiri?\u201d<br \/>\u201cNanti papa menyusul, Om. Tadi aku pergi sama Farel.\u201d<br \/>\u201cOh, masuk dulu.\u201d<br \/>\u201cEh, Misyel, keponakannya Tante tumben ke sini?\u201d tanya Tante Heny.<br \/>\u201cJadi begini, Om, Tante,\u201d aku menceritakan apa yang terjadi. Kemudian, aku dan Papa tinggal di desa untuk beberapa saat.<br \/>Keesokan harinya aku dan Farel diajak Rifki mengelilingi desa. Rifki adalah anak Tante Heny. Aku melihat ada sawah, aku pun berjalan ke sana. Di sana aku tergelincir jatuh ke sawah. Kakiku masuk ke dalam lumpur, pakaianku jadi kotor, bahkan wajahku juga terkena lumpur.<br \/>\u201cIhhh jorok!\u201d teriakku karena tidak tahan dengan lumpur. Ada seorang cewek seusiaku yang menertawakanku. Karena kesal, aku langsung pergi pulang ke rumah Tante Heny untuk mandi. Sementara itu Papa pulang kembali ke kota karena ada pekerjaan yang sangat penting dan harus diselesaikan secepatnya.<br \/>Keesokan harinya, Rifki mengajakku pergi ke sungai. Saat kami sedang berjalan Rifki\u00a0 memegang tanganku agar tidak terjatuh lagi. Tiba-tiba ada cewek yang kemarin menertawakanku datang dan menjauhkanku dari Rifki.<br \/>\u201cKamu siapa? Enggak usah deket-deket Rifki!\u201d ucap cewek itu.<br \/>\u201cDia keponakannya mamaku,\u201ducap Rifki.<br \/>\u201cDia siapa?\u201d tanyaku\u00a0 kepada Rifki.<br \/>\u201cDia anak kepala desa sini, namanya Gledis. Udahlah, nggak usah diladenin. Ayo, kita pergi!\u201d ucap Rifki sambil menarik tanganku.<br \/>\u201cRifki!\u201d teriak Gledis.<br \/>Aku dan Rifki langsung pergi ke sungai tanpa berkata apa-apa.<br \/>Sampai di sungai, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Airnya mengalir dan sangat jernih. Udaranya juga sangat segar. Aku tidak pernah melihat pemandangan seindah ini dan udara yang sangat segar rasanya. Aku ingin tinggal di sini. Aku duduk di pinggir sungai dan memasukkan kedua kakiku ke dalam air sungai. Di saat aku sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba Farel datang.<br \/>\u201cMisyel, kamu lupa tujuan kamu ke sini untuk apa,\u201d ucap Farel.<br \/>\u201cEnggak, Farel, aku nggak lupa. Aku mengelilingi desa ini sekalian mencari tahu keberadaan kakak Akni. Kamu kok bisa tahu aku di sini?\u201d<br \/>\u201cAku yang memberitahu Farel\u201d ucap Gledis yang tiba-tiba muncul.<br \/>\u201cRifki, Gledis!\u201d ucap seorang cewek yang berjalan mendekati kami bersama seorang cowok.<br \/>\u201cKalian!\u201d ucap Gledis.<br \/>\u201cMereka berdua siapa?\u201d tanya cowok itu.<br \/>\u201cMereka orang asing yang bikin keributan,\u201d ucap Gledis.<br \/>\u201cDia keponakan mamaku dan yang satu lagi itu temannya. Mereka berasal dari kota\u201d ucap Rifki.<br \/>\u201cOh anak kota, kenalin namaku Citra,\u201d ucap cewek itu.<br \/>\u201cHai, kenalin namaku Roni,\u201d ucap cowok itu.<br \/>\u201cIya, salam kenal, namaku Misyel,\u201d ucapku.<br \/>\u201cDan aku Farel, temannya Misyel,\u201d ucap Farel.<br \/>Di saat sedang berbicara kami mendengar suara orang berteriak minta tolong di kejauhan. Suara itu terdengar dari dalam hutan.<br \/>\u201cEh, ada suara dari sana, ayo kita lihat!\u201d ucap Roni.<br \/>\u201cEh jangan, itu hutan bahaya loh!\u201d ucapku.<br \/>\u201cUdah, tenang aja,\u201d ucap Rifki.<br \/>Mereka berjalan ke arah hutan.<br \/>\u201cHeii tunggu!!\u201d ucapku sambil berjalan bersama Farel.<br \/>\u201cHei, orang kota, ini bukan rumah kamu ya! Kamu bukan siapa-siapa di sini, jadi kalian nggak usah ikut campur. Kalian enggak punya hak untuk mencegah Rifki, Citra, dan Roni. Ngerti?!\u201d ucap Gledis.<br \/>\u201cHeh, cewek kampung, kamu siapa sih? Ganggu tahu nggak!\u201d ucapku dengan nada yang sedikit tinggi.<br \/>\u201cAnak kepala desa, pemimpin Desa Ciloka ini!\u201d ucap Gledis dengan wajah yang tampak sombong.<br \/>\u201cO yah? Kamu kira aku bakal takut? Enggak ya! Aku, aku Misya. Kenalin, aku keponakannya Tante Heny yang kaya raya. Besok aku bakal beli jabatan orang tua kamu!\u201d ucapku.<br \/>Gledis pergi meninggalkan kami tanpa berkata apa-apa. Aku dan Farel juga pergi mengejar Rifki dan teman-temannya.<br \/>Di saat kami sedang berjalan, kami melihat Rifki dan teman-temannya bersembunyi di balik semak-samak, dan di depan mereka ada lima orang laki-laki bertopeng, dan ada juga enam orang cewek dengan wajah ditutup pakai kain dan tangan mereka diikat dengan tali. Aku dan Farel langsung bersembunyi di balik pohon.<br \/>\u201cRifki, Rifki, kalian ngapain?\u201d ucapku dengan suara yang pelan.<br \/>Rifki melihatku dan berkata, \u201cJangan berisik, sembunyi saja di situ.\u201d<br \/>\u201cEh, lihat, salah satu cewek itu memakai tas. Tas itu bukannya kayak tas Kak Akni ya?\u201d ucap Farel.<br \/>\u201cOh iya, aku yakin itu Kak Akni,\u201d ucapku.<br \/>Aku langsung menelpon Papa. Aku memberi tahu kalau aku melihat penculik dan sepertinya Kak Akni juga ada di situ.<br \/>\u201cKita tunggu papaku datang bersama anak buahnya,\u201d ucapku.<br \/>\u201cDasar bego, telpon polisi!\u201d ucap Gledis yang tiba-tiba muncul.<br \/>\u201cJangan berisik!\u201d ucap Roni.<br \/>\u201cSiapa di sana?\u201d ucap salah satu laki-laki yang memakai topeng.<br \/>Laki-laki itu mendekati kami. Kami bertiga diam-diam\u00a0 pindah dari tempat itu, dan pergi ke tempat yang lebih aman.<br \/>\u201cHei, kalian bertiga, ngapain di situ?!\u201d ucap laki-laki bertopeng yang mendekati tempat kami tadi.<br \/>\u201cKita ketahuan!\u201d ucapku.<br \/>\u201cBukan kita, tapi Citra, Roni, sama Rifki,\u201d ucap Farel.<br \/>Laki-laki bertopeng itu langsung menangkap mereka, tapi mereka melawannya, sehingga terjadi perkelahian.<br \/>\u201cFarel, kamu pandai silat kan?\u201d ucapku.<br \/>Farel langsung datang menolong mereka, sementara itu aku dan Gledis\u00a0 diam-diam berjalan ke arah cewek-cewek itu. Kami membuka tali dan penutup muka mereka.<br \/>\u201cKak Akni!\u201d ucapku saat melihat Kak Akni.<br \/>\u201cMisyel!\u201d ucap kak Akni dan langsung memelukku.<br \/>\u201cHei, kalian, berani sekali kalian\u201d ucap si laki-laki bertopeng.<br \/>Aku melihat Rifki, Farel, Roni, dan Citra sudah diikat pakai tali.<br \/>Tiba-tiba Papa datang bersama anak buahnya dan juga polisi. Para pencuri itu kabur, namun berhasil ditangkap oleh polisi. Semua sandera selamat. Untung Papa dan polisi datangnya tepat waktu. Kalau tidak, entah apa yang terjadi.<br \/>\u201cOh, jadi ini kakak kamu? Maaf ya, tadi aku sempat mencegah kalian,\u201d ucap Gledis.<br \/>\u201cIya, ini kakakku. Soal yang tadi enggak apa-apa. Aku juga minta maaf,\u201d ucapku.<br \/>\u201cFarel, Rifki, semuanya makasih ya, sudah membantu menyelamatkan Akni,\u201d ucap Papa.<br \/>\u201cIya, Om, sama-sama,\u201d ucap Rifki, Roni, dan Citra serentak.<br \/>\u201cPah, Papa dan Kak Akni pulang saja duluan ke kota. Aku masih ingin tinggal di sini. Semakin hari aku semakin suka dengan desa ini,\u201d ucapku.<br \/>\u201cEh jangan, nanti kamu jatuh dan kena lumpur lagi hahaha \u2026,\u201d ucap Farel sambil tertawa.<br \/>\u201cIya, entar kena lumpur lagi loh haha \u2026,\u201d ucap Gledis sambil tertawa.<br \/>\u201cEnggak kok, itu kan kemarin,\u201d ucapku dengan tersenyum.<br \/>\u201cKakak sudah kangen banget sama Mama dan Natasya,\u201d ucap Kak Akni.<br \/>\u201cMama juga kangen sama kakak, oiyah mereka siapa?\u201d tanyaku.<br \/>\u201cMereka teman-teman kakak. Ya udah, kakak dan teman-teman kakak kembali ke kota dulu ya. Kamu jaga diri di sini,\u201d ucap Kak Akni.<br \/>\u201cSiap, Bos,\u201d ucapku.<br \/>Akhirnya kasus tentang penculikan itu selesai. Aku, Kak Akni, dan keluargaku berkumpul bersama lagi. Ternyata desa itu lebih menyenangkan dibanding kota. Di desa aku belajar bagaimana caranya hidup sederhana dan tidak sombong. Aku juga bisa bermain dengan teman-teman\u00a0 baru di desa. (***)<\/p>\n<p><strong>*** Riska Deviana, Siswa MTsN 1 Sabang<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/infomu.co\/siswa-menulis-pengalamanku\/\">sumber berita dari infomu.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalamanku Oleh : Riska Deviana Hai, namaku Misyel Laurensi Novita. Aku anak <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=5984\" title=\"Siswa Menulis : Pengalamanku &#8211; Infomu\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":5985,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2314],"class_list":["post-5984","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2314,"user_id":9,"is_guest":0,"slug":"infomu","display_name":"Infomu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/20a1c6136139a776494236406eb4515022f20942b676f8116da8454f72d3025f?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Infomu","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5984","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5984"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5984\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5984"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=5984"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=5984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}