{"id":7010,"date":"2022-06-22T18:42:42","date_gmt":"2022-06-22T10:42:42","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/06\/22\/sukses-berkarier-ibu-muda-ini-akhirnya-mundur-dari-perusahaan-pwmu-co\/"},"modified":"2022-06-22T18:42:42","modified_gmt":"2022-06-22T10:42:42","slug":"sukses-berkarier-ibu-muda-ini-akhirnya-mundur-dari-perusahaan-pwmu-co","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=7010","title":{"rendered":"Sukses Berkarier, Ibu Muda Ini Akhirnya Mundur dari Perusahaan | PWMU.CO"},"content":{"rendered":"<div>\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full\" class=\"size-full\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-1200x800.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-244661\" srcset=\"https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-1200x800.jpeg 1200w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-300x200.jpeg 300w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-150x100.jpeg 150w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-768x512.jpeg 768w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-750x500.jpeg 750w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58-1140x760.jpeg 1140w, https:\/\/pwmu.co\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-22-at-09.15.58.jpeg 1500w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\"\/><figcaption>Sukses Berkarier, Ibu Muda Ini Akhirnya Mundur dari Perusahaan (foto illustrasi freepik.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sukses Berkarier, Ibu Muda Ini Akhirnya Mundur dari Perusahaan;\u00a0Oleh\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/tag\/anisah-machmudah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Anisah Machmudah<\/a><\/strong>, dokter gigi dan tinggal di Gresik<\/p>\n<p><strong>PWMU.CO <\/strong>\u2013 Tulisan apapun, terlebih jika dibukukan, potensial menggerakkan orang dalam makna positif. Coretan seorang dokter gigi yang gemar menulis ini, sekadar sebuah bukti. Selamat membaca. Redaksi.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>Saya seorang dokter gigi yang gemar menulis. Alhamdulillah, meski sederhana, saya sudah punya karya dua buku yaitu\u00a0<em>Coretan Bunda I<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Coretan Bunda II<\/em>.<\/p>\n<p>Kedua buku itu, kumpulan tulisan berupa refleksi atas berbagai hal di keseharian yang saya maksudkan untuk nasihat terutama bagi anak-anak saya sendiri. Buku saya cetak sendiri dalam jumlah terbatas dan saya bagikan kepada keluarga, kerabat, dan sahabat.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>Di sebuah hari. Seorang ibu muda masuk ke klinik saya. Dia cantik, modis dalam balutan busana syar\u2019i. Tampak, dalam senyumnya, dia menahan sakit gigi.<\/p>\n<p>\u201cDokter, gigi saya. Dua hari saya tak bisa tidur. Sudah saya minum obat penghilang sakit, tapi sebentar saja reda,\u201d kata dia.\u00a0<\/p>\n<p>Dengan cepat dia lalu duduk di\u00a0<em>dental chair.\u00a0<\/em>Saya arahkan lampu sorot, saya beri air kumur berbetadin, saya teteskan\u00a0<em>hand sanitizer<\/em>\u00a0di tangannya.\u00a0<\/p>\n<p>Rupanya, ini masalahnya. Gigi geraham kiri atasnya, sembunyi di pipi, ada lubang. Ini yang membuatnya mengerang, pulpitis. Pasti sakit.<\/p>\n<p>\u201cOke-lah Dik. Saya rawat dulu, ya. Minumlah obat, kemudian kembalilah dalam dua hari, ya,\u201d kata saya.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>Dita, panggil saja begitu nama wanita itu. Saya kenal saat dia datang meminta membuat\u00a0<em>podcast<\/em>\u00a0setahun yang lalu, pada 2021. Dia bekerja di perusahaan swasta dengan produk untuk kesehatan wanita. Perusahaannya berkembang pesat.<\/p>\n<p>Dia luwes dan pintar. Dia datang bersama beberapa temannya. Mereka, anak-anak muda itu, membawa alat-alat untuk\u00a0<em><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/apa-itu-podcast\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">podcast<\/a><\/em>. Ada, misalnya, lampu sorot yang besar, alat perekam, dan payung-payung.<\/p>\n<p>Hem, ternyata Dita dan tim-nya, tertarik me-YouTube-kan saya karena mereka tertarik pada sebuah fakta. Bahwa saya yang dokter gigi masih punya kesempatan menulis dan lalu dibukukan. Bahwa, buku\u00a0<em>Coretan Bunda<\/em>\u00a0bisa menginspirasi pembacanya.<\/p>\n<p>Itulah sejumput kisah perkenalan saya dengan Dita. Itulah perkenalan yang berawal dari penghargaan kepada sebuah karya tulis dan berujung kepada terbinanya persahabatan yang mengesankan.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***\u00a0<\/p>\n<p>Dua hari setelah saya rawat, Dita kembali ke klinik saya. Tampak sudah cerah wajahnya<\/p>\n<p>\u201cMasih adakah keluhan,\u201d sapa dan tanya saya.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, aman Dokter,\u201d sahut Dita lembut.<\/p>\n<p>Setelah saya periksa lagi, Dita lalu bercerita. Berkabar tentang perkembangan diri dan keluarganya. Berkisah laksana dua orang yang bersahabat dekat.<\/p>\n<p>\u201cDokter, saya sudah tidak di perusahaan itu lagi. Saya mengundurkan diri,\u201d Dita memulai kisahnya.<\/p>\n<p>\u201cLho, kenapa,\u201d respon saya.<\/p>\n<p>\u201cSudah enam bulan ini saya\u00a0\u00a0di rumah, mendampingi anak-anak,\u00a0si Mungil dan\u00a0si Sulung. Tentang ini, sudah saya pikir lama:\u00a0tetapkah saya di perusahaan itu atau \u2018pulang\u2019 ke suami dan anak-anak,\u201d tutur Dita.<\/p>\n<p>\u201cIni suatu perjuangan yang berat. Saat itu saya sedang di puncak karir dengan target perusahaan Rp 10 miliar sebulan. Berangkat ke kantor dan pulang dari kantor selalu terlayani. Pengemudi kantor senantiasa siap mengantar. Gaji keren. Namun, terasa ada yang hilang, yaitu waktu bersama orang-orang tercinta,\u201d lanjut Dita dengan nada tertahan.<\/p>\n<p>Setelah menghela nafas, Dita melanjutkan. Masih dengan menahan haru, karena rupanya dia sambil membayangkan keseharian anak-anaknya. Bahwa, sering secara diam-diam Dita pandangi anak-anaknya.<\/p>\n<p>\u201cMama akan pergi lagi ya,\u201d selidik\u00a0si Mungil suatu ketika.<\/p>\n<p>\u201cSudah malam, kok masih pegang HP sih? Rasanya saya tak punya mama,\u201d protessi Mungil di saat yang berbeda.<\/p>\n<p>Terkaget-kaget saya mendengar ucapan\u00a0si Mungil. Ada perasaan bersalah.<\/p>\n<p>Si Sulung bahkan pernah bilang, bahwa adanya mama seperti tak ada. Bertambah-tambah perasaan bersalah saya.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cRasanya, saya tak punya teman. Tak ada waktu Mama untuk saya. Ya, saya oleh Mama dianggap seperti tak ada saja,\u201d keluh Si Sulung tak terbendung.\u00a0<\/p>\n<p>Saya lihat,\u00a0si Sulung tertunduk. Dia berusaha menahan airmatanya yang hendak tumpah.\u00a0<\/p>\n<p>Saya serasa tertampar, pening. Tapi, hal itu membuat saya kian merenung dalam.<\/p>\n<p>\u201cApa yang telah saya lakukan selama ini,\u201d jerit hati saya.<\/p>\n<p>Lalu berkelebatlah aktivitas rutin saya selama ini. Pergi dan bermalam di luar kota. Lalu pindah ke kota lain. Itu biasa terjadi karena perintah bos.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cDita, atur pertemuan dengan relasi ya. Besok bisa lanjut ke Jakarta ya,\u201d demikian sebagian arahan Pak Bos.<\/p>\n<p>Dita kemudian melanjutkan, bahwa raga dan\u00a0pikiran dia mampu. Target dan pendapatan perusahaan bisa dia kelola dengan baik. Tapi, tatapan anak-anaknya sering muncul di pelupuk matanya.<\/p>\n<p>\u201cApa jadinya mereka saat tumbuh remaja, tanpa ibu di sampingnya. Apa peran ibunya, yang mestinya padat mengisi hari-hari bersama sang buah hati? Bukankah sebagai ibu harus senantiasa mendampingi sambil-misalnya-bercerita, mengukir akhlak untuk perjalanan mereka yang kian berat? Bukankah sebagai ibu saya harus lebih sabar menyiapkan sebuah generasi yang di sekitarnya penuh tantangan berat semisal isi medsos yang merusak,\u201d demikian Dita berintrospeksi.<\/p>\n<p>\u201cSungguh, salah mendidik anak akan sulit diperbaiki. Tak akan bisa ditukar uang bila itu terjadi. Saya sadar, yang harus dikuati di diri anak-anak adalah iman dan takwanya. Dengan itu, ada jaminan mereka akan teguh menjalankan syariat Allah. Untuk itu, yang awal harus menguati iman dan takwanya harus saya, sang ibu. Harus saya yang mendampingi mereka, tumbuh dan bergerak,\u201d Dita terus berintrospeksi.\u00a0<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n<p>\u201cBayangan dua anak yang lucu dan cerdas, lalu berganti. Kini, tampak tatapan Mas Bram, sebut saja begitu nama suami saya. Tatapan itu, sebenarnya, sering menghantui saya,\u201d aku Dita.<\/p>\n<p>\u201cBisakah kamu cuti beberapa hari? Rasanya, tak pernah lepas kamu dengan perusahaan. Saat izin tak bekerja, pun masih ada telepon masuk. Lalu, mengetik dan mengetik lagi,\u201d demikian protes Mas Bram.\u00a0<\/p>\n<p>Setelah mengungkapkan uneg-unegnya itu, saya lihat Mas Bram tertidur. Saya merasakan, suami tidur dengan menahan marah.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>Bayangan kini beralih, ke sang ibu. Permintaan ibu, tak kalah dalam hal membangunkan kesadaran seorang Dita.<\/p>\n<p>\u201cDita, engkau seorang ibu bagi\u00a0si Mungil dan\u00a0si Sulung. Ada hak mereka. Juga saya ibumu, ada hak atas kamu sebagai anak. Tak adakah waktu yang bisa kamu luangkan untuk saya,\u201d kata ibu penuh daya gugah.\u00a0\u00a0<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>\u201cDokter, saya betul-betul takut dengan hari di depan nanti. Saya tak ingin membuat kesalahan fatal terhadap anak-anak, suami, dan ibu. Sungguh, saya takut berbuat salah meski misalnya itu ditukar dengan iming-iming tambahan gaji bulanan yang berlipat,\u201d kata Dita.<\/p>\n<p>Memang, Dita lalu melanjutkan, \u201cSempat tawaran perusahaan atas gaji berlipat melenakan saya. Namun tatapan mereka yaitu anak-anak, suami, dan ibu membuat saya tegar mengambil keputusan. Mereka-lah yang utama dan saya harus membuat keputusan yang tak salah.\u201d<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<p>Setelah Dita selesai berkisah, baru saya paham. Bahwa, buku\u00a0<em>Coretan Bunda<\/em>\u00a0yang saya berikan kepadanya membuat diri Dita lepas bercerita. Saya yang merawat giginya, dipercaya sebagai sahabat atau kakak, yang bisa dicurhatinya.<\/p>\n<p>Masyaallah! Dita, itu keputusan yang mulia. Jangan\u00a0\u00a0lemah, keputusanmu tepat. Anakmu butuh dirimu, suamimu pasti merindukanmu, dan ibumu sangat berharap kepadamu. Genggam erat itu.<\/p>\n<p> Dita, suamimu ladang amal menuju surgamu. Bersama suami, bangunlah jiwa anak-anakmu, kukuhkan akidah mereka. Dita, jadilah \u201cpakaian\u201d bagi pasanganmu sebagaimana dia juga berfungsi sebagai pakaian untuk kamu.\u00a0\u00a0<\/p>\n<p>Dita, lihatlah mereka yang mengelilingimu. Tampak bahagia,\u00a0\u00a0karena kamu selalu ada untuk mereka.\u00a0<\/p>\n<p>Dita, pegang erat keputusanmu. Itu langkah yang tak keliru. Yakinlah, ada Allah tempat semua harap dan pinta tertuju. Sungguh, ladang rezeki selalu ada. Percayalah!\u00a0(*)<\/p>\n<p>Editor\u00a0<strong>Mohammad Nurfatoni<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/pwmu.co\/244657\/06\/22\/sukses-berkarier-ibu-muda-ini-akhirnya-mundur-dari-perusahaan\/\">sumber berita<\/a> by <a href=\"\">[pwmu.co]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sukses Berkarier, Ibu Muda Ini Akhirnya Mundur dari Perusahaan (foto illustrasi freepik.com) <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=7010\" title=\"Sukses Berkarier, Ibu Muda Ini Akhirnya Mundur dari Perusahaan | PWMU.CO\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":7011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2322],"class_list":["post-7010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2322,"user_id":8,"is_guest":0,"slug":"pwmu-co","display_name":"PWMU CO","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5f15f1d1322b4c7ebbc526efeb445a60ad49b675f17de7d9b1484949e600541a?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"PWMU","last_name":"CO","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7010"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7010\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7010"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=7010"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=7010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}