{"id":7156,"date":"2022-06-25T23:52:52","date_gmt":"2022-06-25T15:52:52","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/06\/25\/penguatan-strategi-gerakan-aisyiyah-di-era-digital\/"},"modified":"2022-06-25T23:52:52","modified_gmt":"2022-06-25T15:52:52","slug":"penguatan-strategi-gerakan-aisyiyah-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=7156","title":{"rendered":"Penguatan Strategi Gerakan \u2018Aisyiyah di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p><strong>Penguatan Strategi Gerakan \u2018Aisyiyah di Era Digital<\/strong><\/p>\n<p><strong>Surakarta, InfoMu.co \u2013 <\/strong>Menjelang dekatnya tempo pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah dan \u2018Aisyiyah ke-48, Universitas \u2018Aisyiyah Surakarta mengadakan Webinar Pra-Muktamar pada Sabtu, 25 Juni 2022. Tema yang diusung pada webinar kali ini adalah \u201cPenguatan \u2018Aisyiyah Untuk Pencerahan Perempuan Berkemajuan di Era Digital\u201d. Acara kali ini turut mengundang Sekretaris Pimpinan Pusat \u2018Aisyiyah sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Tri Hastuti Nur Rochimah, SSos., MSi.<\/p>\n<p>Menurut Tri, jejak sejarah \u2018Aisyiyah itu bersumbu pada kehidupan di masa KH Ahmad Dahlan ada 6 murid perempuan mendapatkan Pendidikan umum dan agama. KH Ahmad Dahlan sebagai tokoh besar bangsa pada era tersebut sudah bisa berpikir konstruktif dan berkemajuan. Memiliki pandangan cerah bagi masa depan kehidupan bangsa. Di mana pada tahun 1912, perempuan harus memperoleh Pendidikan yang sangat matang.<\/p>\n<p>\u201cIni saya kira pemikiran-pemikiran yang maju, di saat pada waktu itu perempuan pergi bersekolah itu tidak di izinkan. Kalau bapak\/ibu menonton film kartini juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa perempuan tidak boleh bersekolah, tapi KH Ahmad Dahlan memiliki 6 murid yang sangat luar biasa yang kemudian menjadi tokoh-tokoh \u2018Aisyiyah di awal \u2018Aisyiyah berdiri yang mereka belajar Pendidikan umum dan Pendidikan agama. Saya kira ini lompatan pemikiran yang sangat luar biasa pada masa itu,\u201d terang Tri.<\/p>\n<p>Kemudian, kehadiran Muhammadiyah dan \u2018Aisyiyah karena keterbelakangan perempuan dalam segala bidang. Pada masa itu, kondisi perempuan sangat keterbelakang. Dalam menelusuti rekam jejak kesejarahan, KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Wal-Asri dan Sschool Magrhribi dapat dilihat bahwa pemberian akses Pendidikan tidak hanya saja pada kaum-kaum bangsawan, tetapi juga kaum buruh batik. \u201cLuar biasa itu saya kira pemikiran-pemikiran pada masa itu,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Menginjak era masa depan, \u2018Aisyah berkobar semangat mendirikan sekolah kebidanan (keperawatan). Hingga kini, \u2018Aisyiyah telah memiliki 9 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ini yang perlu warga \u2018Aisyiyah berbangga hati. Dan sejak kepemimpinan Alm Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif mengatakan dalam siding muktamar bahwa \u2018Aisyiyah sebagai organisasi otonom khusus Muhammadiyah. \u2018Aisyiyah diberikan wewenang secara khusus untuk mendirikan amal usaha seperti halnya Muhammadiyah.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini kita memiliki peluang yang sangat luar biasa untuk beramal saleh. Oleh karena itu 9 perguruan tinggi \u2018Aisyiyah Sebagian besar berawal dari sekolah-sekolah Kesehatan baik kebidanan dan keperawatan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Kemudian, diadakannya lomba baby show sebagai komitmen terhadap isu-isu Kesehatan ibu dan anak. Menurut Tri, tahun 1930 \u2018Aisyiyah sudah membuat kursus Bahasa Indonesia. Dan 2 tahun pasca kongres Sumpah Pemuda, \u2018Aisyiyah sudah berpikiran maju di mana harus diadakannya kursus Bahasa Indonesia. Karena \u2018Aisyiyah tidak hanya di Yogyakarta, tetapi di seluruh penjuru negeri. Ini menunjukan bahwa Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan.<\/p>\n<p>Dosen Ilmu Komunikasi UMY itu juga memberikan karakteristik dari Gerakan \u2018Aisyiyah. Yang pertama Gerakan Islam berkemajuan. Nilai-nilai Islam dalam tarikan napas Al-Quran dan As-Sunnah Maqbulah yang dipromosikan baik dalam internal maupun eksternal sebagai Gerakan Islam berkemajuan. \u201cBapak\/ibu Ketika kita berbicara Gerakan Islam berkemajuan kita bicara tentang Islam tengahan (wasathiyah). Ini menjadi ciri khas kita. Kita tidak berada di ekstrem kanan dan tidak berada di ekstrem kiri, tetapi Gerakan Islam berkemajuan adalah nila-nilai wasathiyah atau tengahan,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p>Kedua, Gerakan perempuan berkemajuan. Dalam pokok-pokok pikiran \u2018Aisyiyah abad 2 dengan jelas mengatakan bahwa meyakini laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, perbedaannya hanya dari ketakwaannya. \u201cIni terus menjadi spirit kita untuk terus berjuang. Karena sekarang nilai-nilai yang banyak muncul wacana-wacana yang banyak muncul di media social ingin mengembalikan perempuan dalam peran-peran domestic,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ketiga, Gerakan kebangsaan. Tahun 1928 terdapat dua tokoh dalam Kongres Perempuan Indonesia yakni Munjiyah dan Hayinah. Kedua tokoh tersebut sudah masuk dalam jaringan-jaringan Gerakan perempuan di Indonesia. \u201cSaya kira \u2018Aisyiyah dan Muhammadiyah juga terus menguatkan bahwa kita memiliki kontribusi yang besar di dalam kemajuan dan perkembangan negara Indonesia, negara yang sangat kita cintai ini,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Keempat, mengelola amal usaha dalam berbagai bidang. Salah satu kiprah pengelolaan amal usaha di mulai dari bidang Pendidikan, Kesehatan, kesejahteraan, hukum, dan social. \u201c\u2019Aisyiyah itu harus besar di tingkat komunitas dan di tingkat ranting maupun cabang. Ini menjadi PR kita,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, terdapat problem keumatan dan kemanusiaan di era digital. Pertama, terjadinya kesenjangan akses digital. Yakni kesenjangan dari factor pengaksesan dan penggunaan internet yang dibedakan oleh status social ekonomi, jenis kelamin, tingkat hidup, etnik, dan lokasi geografi (Wenhong, et al., 2003). Kesenjangan digital ini merupakan potret (cerminan) dari kesenjangan gender di dunia nyata (sterotype, peran domestic perempuan). Perkembangan digital menyebabkan keterasingan pada Sebagian kelompok masyarakat karena tidak mendapatkan akses teknologi digital.<\/p>\n<p>Laporan HootSuite tahun 2021 mengatakan penggunaan internet di Indonesia mencapai 202,6\/274,9 juta jiwa (73,7 persen). Dari total 274,9 juta penduduk di Indonesia, 170 juta (61,8 persen) di antaranya telah menggunakan media social. Generasi milenial (generasi Y serta generasi Z) mendominasi penggunaan media social di Indonesia yang paling banyak berasal dari kalangan muda dengan rentang usia 25-34 tahun.<\/p>\n<p>Terdapat juga problem pengguna internet, yakni kurangnya kompetensi dalam memahami kehidupan dunia digital (keterampilan, keamanan, budaya, dan etika) dan juga komersialisasi data pengguna internet, fenomena algoritma dan dijadikan target iklan, filter bubble.<\/p>\n<p>Selain terdapat problem keumatan dan kemanusiaan, pada saat bersamaan juga terdapat problem kelembagaan. Antara lain sebagai berikut (1) Kultur digital belum menjadi perhatian semua pimpinan organisasi untuk menggerakkan organisasi baik di amal usaha maupun di pimpinan organisasi. Membuat sarana prasarana lebih mudah daripada membongkar kultur. (2) kemampuan dan ketersediaan SDM dalam digitalisasi harus menjadi prioritas. (3) Belum mengembangkan jejaring secara maksimal untuk mengembangkannya. (4) Manajemen digital dan dakwah dengan nilai Islam berkemajuan. (5) Belum memaksimalkan dakwah melalui digital dengan kelompok sasaran yang beragam inovasi terkait perkembangan digital.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, dalam menghadapi problema ini semua, hatta dibutuhkan beberapa sebuah strategi.<\/p>\n<p>Pertama, penguatan pengelolaan system informasi \u2018Aisyiyah (SIA).<\/p>\n<p>Kedua, pemerataan akses digitalisasi, akses internet untuk semua (infrastruktur, kuota, perluasan jaringan, keterjangkauan harga perangkat digital, dan akses listrik).<\/p>\n<p>Ketiga, digital literasi untuk remaja dalam menghindari Kekerasan Berbasis Gender Online (KGBO).<\/p>\n<p>Keempat, literasi digital tidak hanya focus pada upaya menghindari hoaks\/fakes news namun juga kompetensi penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan perekonomian.<\/p>\n<p>Kelima, memproduksi wacana keagamaan dengan nilai Islam berkemajuan secara massif.<\/p>\n<p>Keenam, menghadirkan toma, infuencer dengan pandangan keagamaan yang progresif.<\/p>\n<p>Ketujuh, kampanye pencegahan iklim melalui digital.<\/p>\n<p>Kedelapan, Kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan ekonomi remaja dan perempuan dengan kompetensi digital.<\/p>\n<p>Kesembilan, meningkatkan kompetensi perempuan pelaku usaha dalam digitalisasi dan fintech<\/p>\n<p>Kesepuluh, beasiswa khusus bagi perempuan dalam bidang TIK.<\/p>\n<p>Kesebelas, parenting pada anak-anak perempuan agar memiliki kepercayaan diri untuk belajar dalam bidang TIK.<\/p>\n<p>Keduabelas, kurikulum Pendidikan dasar yang ramah perempuan untuk mencintai TIK\/STEM.\u00a0<strong>(Cris\/SM)<\/strong><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/infomu.co\/penguatan-strategi-gerakan-aisyiyah-di-era-digital\/\">sumber berita dari infomu.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penguatan Strategi Gerakan \u2018Aisyiyah di Era Digital Surakarta, InfoMu.co \u2013 Menjelang dekatnya <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=7156\" title=\"Penguatan Strategi Gerakan \u2018Aisyiyah di Era Digital\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":7157,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2314],"class_list":["post-7156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2314,"user_id":9,"is_guest":0,"slug":"infomu","display_name":"Infomu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/20a1c6136139a776494236406eb4515022f20942b676f8116da8454f72d3025f?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Infomu","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7156"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7156\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7156"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=7156"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=7156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}