{"id":7599,"date":"2022-07-05T12:16:06","date_gmt":"2022-07-05T04:16:06","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/07\/05\/ibrahim-dan-muhammad-diperintakah-allah-untuk-dijadikan-teladan\/"},"modified":"2022-07-05T12:16:06","modified_gmt":"2022-07-05T04:16:06","slug":"ibrahim-dan-muhammad-diperintakah-allah-untuk-dijadikan-teladan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=7599","title":{"rendered":"Ibrahim dan Muhammad Diperintakah Allah untuk Dijadikan Teladan"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>Tidak berarti menafikan para nabi yang lainnya, jika kita menelusuri ayat-ayat Al Qur\u2019an terdapat dua nabi yang diperintahkan Allah untuk dijadikan\u00a0<em>uswah<\/em>\u00a0((teladan). Kedua nabi tersebut adalah Nabi Muhammad saw dan Nabi Ibrahim a. s. Dalam Al Qur\u2019an kalimat\u00a0<em>uswah<\/em>\u00a0hanya disebutkan tiga kali, yakni dalam surat Al Ahzab : 21 dan surat Al Mumtahanah : 4 dan 6 (Muhammad Fuad Abdul Baqy,\u00a0<em>Al Mu\u2019jam al Mufahras li al fadhil Qur\u2019an, hal. 43<\/em>)<\/p>\n<p>Dalam surat Al Ahzab : 21 Allah memerintahkan kepada kita untuk mejadikan Nabi Muhammad, Rasulullah saw sebagai\u00a0<em>uswah<\/em>\u00a0(teladan), sedangkan dalam surat Al Mumtahanah : 4 dan 6 Allah memerintahkan kepada kita untuk menjadikan pula Nabi Ibrahim a.s sebagai\u00a0<em>uswah<\/em>.<\/p>\n<p>Berkenaan dengan menjadikan kedua Nabi tersebut sebagai\u00a0<em>uswah,\u00a0<\/em>Imam Al Qurthubi<em>, Tafsir Al Qurthuby\/Al Jami\u2019u li Ahkamil Qur\u2019an,\u00a0<\/em>Juz XV ; 109 menyebutkan hal yang harus dijadikan\u00a0<em>uswah\u00a0<\/em>dari Rasulullah saw dan Nabi Ibrahim a.s. adalah dalam hal urusan agama baik aqidah, syari\u2019ah, maupun akhlak. Sedangkan dalam hal urusan duniawi seperti jenis pakaian yang dikenakan, bahan makanan, dan hal yang bersifat dunyawiyah lainnya hukumnya\u00a0<em>istishab,<\/em>\u00a0<wbr\/>diperbolehkan atau tidak wajib hukumnya.<\/p>\n<p>Berkenaan dengan bulan Dzulhijjah sebagai bulan haji dan idul qurban yang latar belakangnya tak bisa lepas dari perjalanan dakwah Nabi Ibrahim a.s., tulisan ini akan menguraikan karakteristik sikap dan perilaku Nabi Ibrahim a.s. dalam melaksanakan tugas kenabiannya.<\/p>\n<p>Setidaknya terdapat enam karakteristik sikap dan perilaku Nabi Ibrahim a.s. yang harus kita implementasikan dalam berbagai aspek kehidupan pada saat ini. Pertama, senantiasa kritis dalam mencari dan menerima kebenaran. Surat Al An\u2019am ayat 74-79 menggambarkan pencarian kebenaran yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s, terutama pencarian kebenaran Tuhan yang harus ia sembah.<\/p>\n<p>Ketika melihat ayahnya, Azar beserta para pengikutnya menyembah berhala-berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan, ia merasa gundah gulana dan berpikir pantaskah berhala-berhala yang tak berdaya ini dijadikan sesembahan? Kegundahan ini kemudian ia sampaikan kepada ayahnya, \u201cSesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata\u201d (Q. S. Al An\u2019am : 74).<\/p>\n<p>Hatinya terus bergejolak mencari keyakinan akan Tuhan yang harus ia sembah. Ketika malam tiba dengan langit gelap yang dihiasi bintang gemintang, ia menyangka mungkin inilah tuhan yang harus disembah. Demikian pula ketika melihat sinar bulan purnama bersinar terang dan matahari terbit di pagi hari, ia menyangkanya sebagai tuhan yang harus disembah. Namun tatkala semuanya hilang, ia berkata, \u201cAku tidak suka kepada (tuhan ) yang hilang\/terbenam.\u201d (Q. S. Al An\u2019am : 76).<\/p>\n<p>Perjalanan mencari Tuhan yang harus disembahnya membuahkan hasil sampai ia mendapatkan wahyu berupa keyakinan akan Allah, Pencipta Alam Raya beserta seluruh isinya. \u201dSesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Zat Yang Menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik\u201d (Q. S. Al An\u2019am : 79).<\/p>\n<p>Kedua, memiliki\u00a0<em>ghirah<\/em>\u00a0dan bangga sebagai seorang muslim. Kemanapun Nabi Ibrahim a.s. pergi, ia selalu memperlihatkan dan mendakwahkan tentang agama tauhid. Ia merasa bangga sebagai seorang muslim yang telah meyakini akan Allah, Tuhan yang harus ia sembah.<\/p>\n<p>Ia terus mengajak orang-orang yang ditemuinya untuk menjadi seorang muslim. Banyak dari orang-orang yang diajaknya menjadi muslim, namun tak sedikit pula yang menolaknya. Kepada orang-orang yang menolak ajakannya, ia berkata, \u201cSesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah\u201d (Q. S. Al Mumtahanah : 4 ).<\/p>\n<p>Ketiga, memiliki wawasan ilmu dan prestasi. Dalam bidang apapun penguasaan terhadap ilmu disertai prestasi yang unggul menjadi modal utama meraih keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas. Dalam melaksanakan tugas kenabiannya, Nabi Ibrahim a.s, dibekali Allah dengan wawasan keilmuan dan prestasi yang unggul, terlebih-lebih wawasan keilmuan dan prestasinya melebihi wawasan keilmuan dan prestasi yang dimiliki kaumnya.<\/p>\n<p>\u201cDan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq, dan Ya\u2019kub yang mempunyai kekuatan-kekuatan besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)\u201d (Q. S. Shaad : 45 ).<\/p>\n<p>Keempat, berani menghadapi risiko. Nabi Ibrahim a.s. berani mengambil risiko dalam menyampaikan ajaran yang Allah swt wahyukan. Meskipun bahasa dan cara berdakwah yang ia lakukan telah sesantun mungkin, tetap saja banyak orang yang membencinya. Karenanya, ia siap dibenci siapapun dalam menyampaikan kebenaran, dan siap menanggung risikonya seberat apapun.<\/p>\n<p>Tidaklah mengherankan jika ia pasrah ketika kaumnya melemparkannya ke dalam api unggun yang siap membakar dirinya. Ketika ia sudah berada dalam kobaran api yang terus membesar, ia hanya pasrah kepada Allah seraya meyakini, mati dan hidupnya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.<\/p>\n<p>Buah dari kepasrahannya, Allah tak membiarkannya, ia memerintahkan kepada api agar menjadi dingin ketika melalap tubuh Nabi Ibrahim a.s. Akhirnya ia pun selamat dari lalapan si jago merah.<\/p>\n<p>\u201cMereka berkata, \u2018Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak berbuat.\u2019 Kami (Allah) berfirman, \u2018Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!\u2019 \u201d ( Q. S. Al Anbiya : 68 \u2013 69)<\/p>\n<p>Kelima, memiliki akhlak yang mulia. Akhlak mulia merupakan hiasan utama kehidupan manusia. Tanpa kemuliaan akhlak, manusia akan berperilaku lebih buas daripada binatang buas sekalipun. Karenanya, setiap nabi yang Allah utus kepada umatnya sudah pasti memiliki kemuliaan akhlak, termasuk Nabi Ibrahim a.s.<\/p>\n<p>Salah satu implementasi dari kemuliaan akhlak adalah kesiapan diri ketika mendapatkan perintah. Seberat apapun perintah yang harus dilaksanakan, seseorang yang berakhlak mulia akan melaksanakannya.<\/p>\n<p>Akhlak mulia seperti inilah yang dimiliki Nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya. Tanpa berburuk sangka dan yakin akan perintah Allah, ia siap melaksanakan perintah Allah yang berat, yakni menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Demikian pula, Ismail dan ibunya, Siti Hajar begitu pasrah dan yakin akan perintah yang Allah berikan kepada mereka.<\/p>\n<p>Kemuliaan akhlak dan keteguhan mereka dalam melaksanakan perintah Allah ini membuahkan hasil membahagiakan, ketika Ismail sudah dibaringkan dan siap disembelih, Allah menggantinya dengan seekor kambing. Peristiwa ini merupakan cikal bakal ibadah qurban yang saat ini biasa kita lakukan setiap tahun.<\/p>\n<p>Keenam, sanggup dan rela berkorban. Demi dakwah dan melaksanakan perintah Allah serta kemajuan umat, Nabi Ibrahim a.s. siap dan rela mengorbankan apapun yang ia miliki. Jangankan harta benda, jiwa, raga, dan keluarga pun ia siap korbankan demi tegaknya kalimat Allah.<\/p>\n<p>Seperti sudah disebutkan pada awal tulisan Allah telah memerintahkan kepada kita untuk menjadikan Nabi Ibrahim a.s. sebagai\u00a0<em>uswah.<\/em>\u00a0Karenanya, sudah seharusnya kita menjadi generasi\u00a0<em>ibrahimiyah,<\/em>\u00a0generasi yang memiliki karakter seperti yang dimiliki Nabi Ibrahim a.s.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, suatu negara akan menjadi negara yang maju, kokoh, dan berwibawa di hadapan bangsa lain manakala dikomandani seorang pemimpin yang berkarakter seperti Nabi Ibrahim a.s. Sebaliknya, suuatu negara akan mundur menuju kehancuran manakala pemimpin dan rakyatnya masih senang bersikaf egois, enggan berkorban, senang mendahulukan kepentingan sendiri seraya melupakan kepentingan rakyat.<\/p>\n<p>Kemajuan dan kemuliaan Islam yang\u00a0<em>rahmatan lil \u2018alamin\u00a0<\/em>akan benar-benar terwujud dan dirasakan semua makhluk manakala para pemeluknya berakhlak mulia seperti Nabi Ibrahim a.s. Keimanan yang teguh benar-benar diimplementasikan dalam jejak dan perilaku kehidupan keseharian; siap berkorban dan menanggung risiko; dan berpegang teguh kepada keyakinan dan kebenaran.<\/p>\n<p>Sebaliknya, kemuliaan Islam tak akan nampak dan tak menjadi panutan seluruh alam manakala umatnya tak berakhlak mulia. Kemuliaan Islam hanya akan nampak samar-samar tertutup perilaku tak terpuji yang dilakukan para penganutnya.<\/p>\n<p>Muhammad Abduh, salah seorang cendikiawan muslim asal Mesir pernah memprediksi,\u00a0<em>\u201cAl Islamu mahjubun bil muslim.\u201d<\/em>\u00a0Kelak kemuliaan Islam akan tertutup oleh orang-orang yang mengaku sebagai muslim, dalam arti kemuliaan Islam akan tercemar oleh perilaku jelek para penganutnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/infomu.co\/ibrahim-dan-muhammad-diperintakah-allah-untuk-dijadikan-teladan\/\">sumber berita dari infomu.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak berarti menafikan para nabi yang lainnya, jika kita menelusuri ayat-ayat Al <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=7599\" title=\"Ibrahim dan Muhammad Diperintakah Allah untuk Dijadikan Teladan\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":7600,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2314],"class_list":["post-7599","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2314,"user_id":9,"is_guest":0,"slug":"infomu","display_name":"Infomu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/20a1c6136139a776494236406eb4515022f20942b676f8116da8454f72d3025f?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Infomu","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7599"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7599\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7599"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=7599"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=7599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}