{"id":8352,"date":"2022-07-22T16:23:53","date_gmt":"2022-07-22T08:23:53","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/07\/22\/kritik-terhadap-hadis-tentang-keistimewaan-meninggal-pada-hari-jumat\/"},"modified":"2022-07-22T16:23:53","modified_gmt":"2022-07-22T08:23:53","slug":"kritik-terhadap-hadis-tentang-keistimewaan-meninggal-pada-hari-jumat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=8352","title":{"rendered":"Kritik Terhadap Hadis Tentang Keistimewaan Meninggal pada Hari Jum\u2019at"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA\u2014Mengenai keutamaan meninggal pada hari Jum\u2019at, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.<\/p>\n<p>\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0645\u0652\u0631\u064d\u0648 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 -\u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645- : \u0645\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064d \u064a\u064e\u0645\u064f\u0648\u062a\u064f \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u062c\u064f\u0645\u064f\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0644\u064e\u064a\u0652\u0644\u064e\u0629\u064e \u0627\u0644\u0652\u062c\u064f\u0645\u064f\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0627\u0647\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0641\u0650\u062a\u0652\u0646\u064e\u0629\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0628\u0652\u0631\u0650 [\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a]<\/p>\n<p>Artinya: \u201cDiriwayatkan dari Abdullah bin \u2018Amr, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: <em>\u201cTidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat kecuali Allah akan melindunginya dari adzab kubur.\u201d<\/em> [Sunan at-Tirmidzi\/vol. III\/hadis ke 1074]<\/p>\n<p>Secara lengkap sanad dari hadis ini adalah: at-Tirmidzi \u00e0 Muhammad bin Basysyar \u00e0 Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Amir al-Aqadi \u00e0 Hisyam bin Sa\u2019ad \u00e0 Sa\u2019id bin Abi Hilal \u00e0 Rabiah bin Saif \u00e0 Abdullah bin Amr bin Ash.<\/p>\n<p><strong>Kritik Sanad<\/strong><\/p>\n<p>Para ulama hadis berbeda pendapat tentang status hadis ini. Imam at-Tirmidzi (w. 360 H) sendiri yang meriwayatkan hadis ini dalam kitab <em>Sunan at-Tirmidzi<\/em> menilainya sebagai hadis <em>gharib<\/em> (karena diriwayatkan oleh satu orang saja) dan <em>munqathi\u2019 <\/em>karena sanadnya tidak bersambung (<em>laisa bi muttashil<\/em>). Menurutnya, tokoh yang bernama Rabiah bin Saif (w. 120 H) dari generasi <em>tabiut tabiin<\/em> yang meriwayatkan hadis ini tidak pernah bertemu dengan sahabat Nabi Abdullah bin Amr bin Ash (w. 63 H), sehingga ada satu perawi dari tingkatan tabiin yang hilang. Status <em>gharib<\/em> yang diberikan oleh at-Tirmidzi ini kemudian diteruskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) seorang ulama hadis yang wafat di Mesir dengan label <em>dhaif<\/em> dalam kitabnya <em>Fathul-Bari <\/em>(vol. IV\/hal. 467).<\/p>\n<p>Mengenai status <em>munqathi <\/em>(terputus perawi dari kalangan tabiin) pada hadis ini, berdasarkan penelitian kami ditemukan bahwa sesungguhnya Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya yang lain, <em>Nawadir al-Ushul <\/em>(sebuah kitab hadis yang mengkompilasi hadis-hadis dhaif)<em>,<\/em> meriwayatkan hadis ini secara <em>muttashil <\/em>(bersambung). Nama tokoh dari generasi tabiin yang bertemu dengan Rabiah bin Saif dan meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash yang sebelumnya hilang dalam Sunan at-Timidzi adalah Iyadh bin Aqabah al-Fihri dan Ali bin Ma\u2019badh (at-Tirmidzi, <em>Nawadir al-Ushul<\/em>, vol. IV, hal. 161). Imam al-Qurtubhi (w. 671 H) dalam <em>at-Tadzkirah<\/em> (hal. 167) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H) dalam <em>ar-Ruh<\/em> (hal. 161) demikian juga membantah status <em>munqathi<\/em> untuk hadis ini.<\/p>\n<p><strong>Kritik Rawi<\/strong><\/p>\n<p>Namun, jika hadis ini selamat dari <em>tadh\u2019if<\/em> (pendaifan) dari aspek ketersambungan mata rantai perawinya (<em>ittishal as-sanad<\/em>), hadis ini ternyata masih memiliki problem lain, yaitu dari sisi kredibilitas perawi. Dari rangkaian para perawi tersebut di atas, Saif bin Rabi\u2019ah adalah sosok yang bermasalah di kalangan ulama hadis. Imam al-Bukhari memberikan komentar bahwa padanya ada kemunkaran (<em>lahu manakir<\/em>) (lihat <em>at-Tarikh al-Kabir<\/em>, vol. III, hal. 290). Ibnu Hibban menyebutnya <em>kana yukhtiu katsiran <\/em>(ia banyak berbuat salah dalam meriwayatkan hadis) (lihat <em>ats-Tsiqat<\/em>, vol. VI, hal. 301). Komentar Ibnu Yunus terhadapnya sama dengan komentar al-Bukhari, dan an-Nasai melemahkan hadis-hadisnya (Ibnu Hajar al-Asqalani, <em>Tahdzibu al-Tahdzib<\/em>, vol. III, hal. 221, adz-Dzahabi, <em>Mizan al-I\u2019tidal<\/em> <em>fi Naqdi ar-Rijal<\/em>, vol. III, hal. 67).<\/p>\n<p>Hadis yang serupa dengan sedikit perbedaan redaksi juga diriwayatkan oleh Ahmad (w. 241 H) dalam <em>Musnad<\/em> (hadis ke-6582, 7050), Abu Ya\u2019la dalam <em>Musnad<\/em> (hadis ke-4113) dan Abd bin Humaid juga dalam <em>Musnad<\/em>-nya (hadis ke-323). Namun, karena hadis-hadis tersebut juga berstatus dlaif, maka ia tidak bisa mengangkat derajat hadis ini naik menjadi <em>hasan<\/em>. Pada hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abd bin Humaid terdapat sosok terdapat yang bernama Baqiyah bin Walid yang dikomentari oleh Ibnu Hajar bahwa hadis-hadisnya <em>munkar <\/em>(karena ia sering lupa atau banyak melakukan kesalahan atau seorang fasik) dan ia banyak menyembunyikan cacat hadis (<em>mudallis<\/em>) (<em>Lisan al-Mizan<\/em>, vol. VI, hal. 184, <em>Tabaqah al-Mudallisin<\/em>, vol. I, hal. 49). Dalam <em>sanad<\/em> Abu Ya\u2019la terdapat Yazid ar-Raqasyi yang dikomentari ahli hadis bahwa ia adalah seorang yang selalu terobsesi dengan perbuatan ibadah serta kalimat-kalimat yang baik, namun sayang sekali ia tidak memiliki kemampuan mengetahui dan membedakan mana yang hadis dan mana yang bukan hadis (Ibnu Abi Hatim, <em>al-Majruhin<\/em>, vol. 3, hal. 98).<\/p>\n<p><strong>Kritik Matan<\/strong><\/p>\n<p>Selain dari sisi <em>sanad<\/em> dan rawinya, hadis tersebut memiliki kejanggalan dari aspek <em>matan<\/em> (isi) nya. Kejanggalan tersebut karena ia bertentangan dengan kemahaadilan Allah. Masalah keterbebasan dari azab kubur bergantung dengan amal ibadah seorang hamba selama hidup di dunia, bukan pada waktu kapan ia meninggal. Dalam al-Qur\u2019an banyak sekali ditekankan perintah agar memperbanyak amal saleh di dunia, karena akan dipetik hasilnya di akhirat kelak. Oleh karena itu, jika ada orang yang semasa hidupnya adalah pelaku maksiat, lalu karena semata-mata ia meninggal pada hari Jum\u2019at dan berhak menerima pembebasan dari azab kubur, ia berarti telah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan amalannya di dunia. Sebaliknya, seorang hamba Allah yang saleh, karena ia tidak meninggal di hari Jum\u2019at ia tidak akan mendapatkan pengampunan dari azab kubur.<\/p>\n<p>Tentu saja Allah SWT terlindung dari ketidakadilan tersebut, karena Allah SWT telah berfirman: <em>\u201c<\/em><em>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.\u201d<\/em> [QS. al-Zalzalah (99): 7-8]<\/p>\n<p>Di tempat lain Allah SWT juga berfirman:<em> <\/em><em>\u201d<\/em><em>Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dirugikan\u201d<\/em> [QS. al-Baqarah (2): 281]<\/p>\n<p>Dalam kaedah hadis disebutkan bahwa suatu hadis hanya bisa diterima jika ia tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Hadis tersebut berbunyi:<em>\u201cJika engkau melihat satu hadis yang bertentangan dengan akal sehat, menyelisihi nash (yang lebih sahih) dan <\/em><em>bertentangan (<\/em><em>menabrak<\/em><em>)<\/em><em> pokok-pokok agama, maka ketahuilah ia adalah hadis yang palsu (maudhu\u2019)\u201d <\/em>(as-Suyuthi, <em>Tadribu ar-Rawi<\/em>, vol. I, hal. 277, Albani, <em>Irwau al-Ghalil<\/em>, vol. IV, hal. 112).<\/p>\n<p>Kesimpulannya, keutamaan meninggal di hari Jum\u2019at dasarnya lemah, sehingga tidak dapat dijadikan <em>hujjah<\/em> (argumentasi).<\/p>\n<p><em>Wallahu A\u2019lam bish-shawab.<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/muhammadiyah.or.id\/kritik-terhadap-hadis-tentang-keistimewaan-meninggal-pada-hari-jumat\/\">sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA\u2014Mengenai keutamaan meninggal pada hari Jum\u2019at, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=8352\" title=\"Kritik Terhadap Hadis Tentang Keistimewaan Meninggal pada Hari Jum\u2019at\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":6251,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440,438],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2321],"class_list":["post-8352","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network","category-muhammadiyah-or-id"],"authors":[{"term_id":2321,"user_id":7,"is_guest":0,"slug":"muhammadiyah-or-id","display_name":"Muhammadiyah","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c326460c3d94b5ad869f5993c9d2e3ec78bbe22b0e2c9c944f2f01cca83adff2?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Muhammadiyah","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":"muhammadiyah.or.id adalah website resmi persyarikatan Muhammadiyah. Dan dikelolah oleh PP Muhammadiyah"}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8352"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8352\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6251"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8352"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=8352"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=8352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}