{"id":8365,"date":"2022-07-22T23:52:37","date_gmt":"2022-07-22T15:52:37","guid":{"rendered":"https:\/\/girimu.com\/2022\/07\/22\/kolom-dr-masri-sitanggang-gerakan-islam-antara-takut-celaan-dan-trauma-masa-lalu\/"},"modified":"2022-07-22T23:52:37","modified_gmt":"2022-07-22T15:52:37","slug":"kolom-dr-masri-sitanggang-gerakan-islam-antara-takut-celaan-dan-trauma-masa-lalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/girimu.com\/?p=8365","title":{"rendered":"Kolom Dr. Masri Sitanggang: Gerakan Islam, Antara Takut Celaan dan Trauma Masa Lalu"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>Gerakan Islam, Antara Takut Celaan dan Trauma Masa Lalu<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Dr. Ir. Masri Sitanggang<\/strong><\/p>\n<p>\u201cMAU AKSI DAMAI TERUS APA MAU JIHAD ?\u201d Begitu seorang yang mengaku Abdullah Abdul Aziz \u00a0memberi judul tulisannya di WAG, yang sampai juga ke hapeku menejelang Reuni 212. Dia tumpahkan\u00a0 \u201ckekecewaannya\u201d atau mungkin \u201ckejengkelannya\u201d itu dengan menulis begini :<br \/>\u201cKita aksi damai terus, tapi ngak tau Ahok di mana, \u2026 tapi pelaku penista terhadap agama Islam terus bertambah, \u2026tapi aktivis Islam semakin banyak yg dipenjara, \u2026 tapi terjadi penginjakan Kitab Suci Al Qur\u2019an oleh oknum anggota BRIMOB di Mako Brimob tidak ada yg protes ,\u2026 Viktor Laskodat aman-aman saja, \u2026perpu no 2 tahun 2017 disahkan jadi undang-undang, \u2026banyak pengajian dibubarkan, \u2026iklan penjualan Meikarta tidak ada yg bisa bendung, \u2026berton-ton narkoba dari Cina masuk ke Indonesia, \u2026ratusan ribu tenaga kerja ilegal Cina membanjiri ibu pertiwi, dst., \u2026Kita aksi damai terus,\u00a0 tanpa ada arahan perjuangan yg jelas, \u2026tanpa kita sadari negeri ini telah terjajah, \u2026dst\u2026silahkan buat ribuan aksi lagi kalo itu memang dapat menyelesaikan persoalan negeri ini.\u201d Tulisan itu ditutup dengan : \u201cSalam jihad bil damai.\u201d<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Senada dengan itu, Sri Bintang Pamungkas (SBP), di bawah judul \u201cBARU JUGA KITA TAHU, BUNG\u2026\u201d, menulis :<br \/>\u201cBaru juga kita tahu, bahwa para Ulama, khususnya 411 dan 212, sebenarnya hanya suka dengan kebanggaan sewaktu-waktu. Padahal sejatinya mereka tidak berani melawan kezaliman hanya takut dikira intoleran dan radikal. Padahal kemenangan yang mereka dapat itu datangnya dari pertolongan Yang Maha Kuasa.\u201d<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Dua tulisan itu bisa dinilai sebagai sindirian sinis untuk para alumni 212 yang sudah beberapa kali \u00a0bereuni; bisa juga sebagai tumpahan kejengkelan dan kekecewaan akan respon umat terhadap\u00a0 situasi tak nyaman yang menerpa negeri dewasa ini; bisa pula sebagai luapan ketidaksabaran akan upaya-upaya perubahan. Tetapi bisa pula sebagai provokasi-motivasi kepada masyarakat untuk segera bertindak melakukan perubahan. Apa pastinya, hanya penulis dan Allah swt sajalah yang tahu. Yang pasti, tulisan itu\u00a0 boleh jadi mewakili banyak orang. Buktinya, banyak yang men-share, termasuk Bapak Sarwan Hamid yang Jendral Purnawirawan itu.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>SBP ada benarnya juga. Umat Islam \u2013termasuk sebahagian ulamanya, sudah mengidap penyakit takut akan celaan. Mental umat memang sedang mengalami degredasi hebat akibat diserang dengan celaan-celaan seperti fundamentalis, radikal, intoleran, anti kebhinekaan bahkan isu teroris dan anti NKRI. Akibatnya, mereka lebih suka menghindari celaan itu dari pada tegak berdiri memperjuangkan kebenaran : persetan apa kata orang !<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Mari kita bayangkan hal berikut. Bayangkan kita sedang memberikan materi diskusi tentang \u201cIslam dan Persoalan Umatnya\u201d pada satu majelis yang dihadiri seratusan jemaah yang peduli terhadap nasib umat.\u00a0 Tiba-tiba datang seorang non muslim dan duduk di antara jemaah, ikut mendengarkan. Bagaimana kemudian, kira-kira, jalannya diskusi itu ? Teruskah berlanjut dengan semangat yang sama seperti sebelum non muslim itu datang, atau berhenti ? Atau, diskusi berlanjut dengan tema yang diperhalus dan diperlunak ? Atau bahkan beralih ke tema lain ?<\/p>\n<p>Menurut pengalamanku, bila ada non muslim di majelis yang aku memberi ceramah, selalu saja ada jemaah atau panitia yang langsung\u00a0 membisikkan : \u201cBang, ada non muslim hadir di sini.\u201d Pesan ini menghajatkan agar aku menyesuaikan isi ceramah dan gaya penyampaianku. Itu kalau yang hadir adalah non muslim biasa. Kalau dia pejabat kecamatan atau yang lebih tinggi, bagaimana jadinya kualitas diskusi itu ?\u00a0\u00a0 .<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Bayangkan, seratusan umat Islam harus menyesuaikan diri dengan satu orang ! Itulah mental umat Islam. Maka, tidaklah mengherankan bila kemudian 87 % penduduk muslim Indonesia harus menyesuaikan diri dengan yang hanya 13 % itu.\u00a0 Ini semua karena takut dicela sebagai intoleran.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Sebagai seorang dai, mestinya kita bersyukur bila ke dalam majelis ada non muslim hadir. Sebab, itu artinya, kita sedang memiliki kesempatan untuk mendakwahkan Islam kepadanya. Kalau pun ia tidak datang, dalam rangka dakwah, mestinya kita yang mendatangi mereka. Itulah tugas dakwah.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Tapi lihatlah sekarang. Demi mendapat gelar toleran dan tidak radikal, banyak pejabat Islam yang bukan saja memperlunak dan memperhalus pesan dakwahnya, melainkan juga mengikuti cara-cara non muslim dalam bersikap dan berkomunikasi. Contoh paling sederhana adalah ucapan-ucapan salam berbagai agama yang disampaikan setelah \u201cAssalamau \u2018alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh\u201d\u00a0 seperti \u201cselamat pagi\u201d,\u00a0 \u201csalam sejahtera buat kita semua\u201d dan seterusnya\u2026<br \/>Aku tidak yakin orang ini akan bisa merasa nyaman kalau satu ketika nanti ia tidak memberi salam dengan bermacam salam itu. Artinya, dia hanya bilang \u201cAssalau alaikum warahmatullahi wa barakatuh\u201d. Ia telah terbelenggu, mentalnya sudah kalah. Adakah ucapan salam yang lebih baik dari yang diajarkan Rasulullah bagi orang beriman ?<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Heboh Al-Maidah 51 memang telah membangkitkan semangat umat; dan dalam beberapa hal, telah memberikan hasil positip. Tetapi mungkin diskusi Al-maidah belum berlanjut ke ayat 54, sehingga\u00a0 mental takut celaan belum sembuh.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Al-Maidah 54 menjelaskan bahwa generasi yang telah murtad, yang digambarkan pada ayat 51-53 surat itu, akan digantikan dengan suatu generasi baru yang sangat dicintai Allah. Karakter generasi pengganti yang dicintai Allah itu adalah : lemah lembut sesama orang beriman dan tegas terhadap orang kafir, senantiasa berjihad di jalan Allah dan tidak pernah takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Catat, secara khusus Allah menyebut \u201ctidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela\u201d. Tidak takut, ya, tidak takut !<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Mengapa begitu perlu Allah menyebut \u201ctidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela\u201d? Tentu karena persoalan celaan ini begitu penting. Ia\u00a0 ternyata merupakan satu bentuk serangan dalam satu pertempuran. Musuh-musuh Islam menggunakan bentuk serangan ini.\u00a0\u00a0 Sasaran serangan bukan fisik, melainkan mental. Tetapi serangan ini sangat efektif melumpuhkan musuh. Bila mental telah kalah, telah lemah, maka pertempuran fisik tinggal\u00a0<i>finishing<\/i>\u00a0saja.<\/p>\n<p>Ingat, Kita sedang bertarung !<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Syukurlah pertempuran fisik di negeri ini belum terjadi. Allah masih sayang kepada kita dengan lebih awal menurunkan Ahok. Tetapi bagaimana pun juga perlu waktu\u00a0 untuk memperbaiki kembali mental mujahid yang sudah lemah ini.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Tentu saja kelemahan mental akibat bombardir celaan radikal, intoleran, teroris dls itu bukanlah satu-satunya faktor mengapa umat Islam belum \u201cmelempar jumroh\u201d seperti diharapakan banyak orang, setidaknya oleh Abdullah Abdul Aziz dan SBP. Ummat masih saja terus aksi damai, aksi super damai dan reuni damai. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah trauma masala lalu.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Mohammad Natsir menggambarkan nasib umat Islam sebagai nasib pendorong mobil mogok. Ketika mobil telah berjalan, umat Islam ditinggal di belakang. Syukur kalau sopir masih melambaikan tangan tanda terimakasihnya. Atau, kata KH Jiteng Syarief, tokoh Masyumi di Medan yang menjadi guru ngajiku sejak aku kecil, seperti daun salam atau sereh. Kedua daun ini dicari ke manapun ketika seseorang ingin memasak gulai. Tetapi ketika gulai sudah siap untuk disantap, daun salam dan daun sereh dicampakkan sebagai sampah.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Dalam perjalanan bangsa ini, umat Islam merasakan pengalaman itu. Umat Islam berjuang tanpa pamrih untuk Indonesia merdeka dari penjajah non Muslim. Tetapi setelah merdeka, mereka merasa ditinggal. Nilai-nilai yang memberi mereka kekuatan untuk berjuang melawan penjajah, yakni Islam, dipinggirkan.<br \/>Zaman revolusi, agresi I dan II, memprtahanakan kemerdekaan, umat Islam juga begitu dirindukan perannya. Resolusi jihad dan takbir \u201cALlahu Akbar\u201d menjadi pendorong menyingkirkan para agressor. Tapi lagi-lagi, nilai-nilai pendorong itu dan orang-orang yang mendorong itu, tertinggal di belakang atau dicampakkan bagai daun salam dan daun sereh. Begitu juga masa penumpasan PKI, ummat Islam ada di depan. Terakhir, di masa reformasi menggeser Orde Baru, peran Ummat Islam tidk kecil. Tetapi lagi-lagi, setelah berhasil, umat Islam justeru bukan saja di tinggal dan dicampakkan melainkan dijadikana target. Mereka dilabeli ektrim kanan, ditempatkan sebagai musuh seperti PKI yang berada di ekstrim kiri.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Begitulah trauma masa lalu. Umat Islam terlalu polos dan jujur dalam berbangsa dan bertanah air. Mereka tertinggal atau ditinggal karena kejujuran dan keikhlasaannya. Itulah pengalaman memilukan dari teman sebangsa dan setanah air. Pengalaman yang tentu saja tidak boleh terjadi lagi. Oleh karena itu gerakan Islam haruslah hati-hati, pandai-pandai dalam melangkah. Pandai-pandai mencari teman seperjuangan. Di sini banyak orang tak jujur.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Jalan yang tepat bagi gerakan Islam saat ini adalah bersabar mengonsolidasikan diri sembari menunggu keluarnya fatwa para ulama !\u00a0<i>\u00a0<\/i><\/p>\n<p><i>Wallahu a\u2019lam bisshawab<\/i>\u00a0!<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/infomu.co\/kolom-dr-masri-sitanggang-gerakan-islam-antara-takut-celaan-dan-trauma-masa-lalu\/\">sumber berita dari infomu.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Gerakan Islam, Antara Takut Celaan dan Trauma Masa Lalu Oleh : <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/girimu.com\/?p=8365\" title=\"Kolom Dr. Masri Sitanggang: Gerakan Islam, Antara Takut Celaan dan Trauma Masa Lalu\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":4188,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[440],"tags":[],"newstopic":[],"ppma_author":[2314],"class_list":["post-8365","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-muhammadiyah-news-network"],"authors":[{"term_id":2314,"user_id":9,"is_guest":0,"slug":"infomu","display_name":"Infomu","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/20a1c6136139a776494236406eb4515022f20942b676f8116da8454f72d3025f?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","first_name":"Infomu","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8365"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8365\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4188"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8365"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=8365"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/girimu.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fppma_author&post=8365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}