Ingatkan Bahaya Layangan Dekat Jaringan Listrik, Spemdalas Edukasi Keselamatan melalui Program Orang Tua Mengajar

banner 468x60

GIRIMU.COM — SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik kembali menyelenggarakan kegiatan Orang Tua Mengajar (OTM) di kelas VII Brave, Rabu (21/1/2025). Kegiatan ini bertujuan memberikan pembelajaran kontekstual kepada siswa melalui pengalaman langsung dari orang tua yang berprofesi sebagai praktisi di bidang tertentu.

Pada kesempatan tersebut, Ivan Nur Pratama, ST, MT, Manajer PLN UPT Gresik Unit Induk Transmisi Jawa Timur dan Bali, ayah dari Kean Satya Nugraha, siswa kelas VII Brave. Ia membawakan materi bertema “Listrik vs Layangan”, dengan fokus pada pentingnya keselamatan listrik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Ivan menegaskan, bahwa listrik merupakan kebutuhan vital yang sangat dekat dengan aktivitas manusia. Hampir seluruh kegiatan, mulai dari belajar, bekerja, hingga kebutuhan rumah tangga, bergantung pada pasokan listrik yang aman dan andal.

“Listrik itu sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun di sisi lain, listrik juga bisa menjadi sangat berbahaya jika tidak dipahami dan digunakan dengan benar,” jelasnya.

Ia kemudian mengingatkan siswa tentang bahaya bermain layang-layang di dekat jaringan listrik, baik jaringan distribusi maupun transmisi tegangan tinggi. Melalui tayangan dokumentasi dan contoh kasus nyata, siswa diajak memahami risiko serius yang dapat terjadi.

“Bermain layang-layang di dekat jaringan listrik itu sangat berbahaya. Banyak kejadian kebakaran, sengatan listrik, bahkan korban luka bakar berat akibat benang layangan yang tersangkut kabel listrik,” ujarnya.

Ivan juga membagikan pengalamannya saat harus menangani layangan yang terperangkap di jaringan listrik, terutama pada malam hari.

“Pernah ada pengalaman membebaskan layangan yang tersangkut di malam hari agar tidak semakin membahayakan jaringan dan lingkungan sekitar. Prosesnya tidak mudah dan sangat berisiko,” tuturnya.

Selain layangan, ia menjelaskan, bahwa gangguan listrik juga dapat disebabkan oleh faktor alam, seperti banjir yang mengakibatkan kerusakan tower dan jaringan listrik.

“Banjir bisa menyebabkan pondasi tower rusak dan mengganggu sistem transmisi. Jika satu tower terganggu, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak wilayah,” jelasnya.

Ivan menekankan, bahwa upaya menjaga jaringan listrik bukan hanya tanggung jawab PLN, tetapi juga seluruh masyarakat. Ia mengimbau agar siswa tidak bermain layang-layang di area berbahaya demi keselamatan bersama dan keberlangsungan pasokan listrik.

“Agar tidak terjadi pemadaman listrik, kami mengimbau masyarakat, termasuk adik-adik, untuk tidak bermain layangan di dekat jaringan listrik. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati bermain layangan di tempat yang aman tanpa risiko luka bakar yang akibatnya sangat berat. Bahkan ada korban yang tidak tertolong,” tambahnya.

Pengalaman paling berkesan juga dibagikan saat ia terlibat langsung dalam penanganan bencana besar di Aceh. Saat itu, infrastruktur listrik rusak total sehingga diperlukan langkah darurat.

“Pengalaman paling menarik adalah saat menangani bencana di Aceh. Listrik benar-benar hancur dan tidak tersisa. Kami harus membangun emergency tower, dan perjalanannya harus menggunakan helikopter, karena kondisi medan yang ekstrem,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bahwa dalam kondisi darurat tersebut, metode kerja pun berbeda dari biasanya. Jika biasanya satu tower dikerjakan dua orang, saat kondisi darurat harus menurunkan hingga delapan orang bekerja di atas tower untuk mempercepat aliran listrik.

“Ini demi kemanusiaan karena listrik sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi dan tanya jawab. Para siswa nampak antusias dan lebih memahami bahwa listrik memiliki dua sisi, yaitu sangat berguna sekaligus berbahaya jika tidak disikapi dengan bijak.

Wali kelas VII Brave, Risma Oktavia, SPd, mengapresiasi kegiatan Orang Tua Mengajar tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dan membuka wawasan siswa tentang keselamatan serta tanggung jawab sosial.

“Kegiatan ini sangat bermakna, karena siswa belajar langsung dari pengalaman nyata seorang praktisi. Anak-anak jadi lebih sadar bahwa tindakan kecil, seperti bermain layangan sembarangan, bisa berdampak besar bagi keselamatan dan kehidupan banyak orang,” tuturnya sereya berharap, melalui kegiatan ini, siswa mampu menumbuhkan sikap peduli, disiplin, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Kontributor: Risma Oktavia

Author