Kajian Jelang Buka di Ranting Giri Gajah, Yai Anas Thohir Beberkan Sikap Rendah Hati dan Karakter Mulia yang Dirindukan Surga

Kontributor: Lilik Isnawati

Keislaman5 Dilihat
banner 468x60

GIRIMU.COM — Suasana hangat dan sarat hikmah kembali menyelimuti Kajian Menjelang Berbuka Puasa yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah (PRM/A) Giri Gajah, Kebomas, Gresik pada Selasa (3/3/2026). Bertempat di Musholla Al-Jihad, kegiatan ini menghadirkan KH Anas Thohir, SAg, MPdI, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, sebagai pengasuh kajian.

Dengan penyampaian yang runtut, tenang, dan menyentuh hati, ia mengajak jamaah menelusuri pesan mendalam dalam Surat Al-Furqan ayat 63–68 tentang karakter mulia hamba-hamba Allah yang dikenal sebagai ‘ibadurrahman. Di awal kajian, pria berpenampilan kalem ini mengajak jamaah membuka Al-Quran melalui gawai masing-masing. Kemudian ia meminta salah satu jamaah membacakan QS Al-Furqan ayat 63. Ayat tersebut menjelaskan, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati dan ketika disapa oleh orang-orang jahil, mereka menjawab dengan ucapan yang baik dan menenangkan.

Yai Anas menegaskan, bahwa rendah hati bukan berarti lemah atau tidak berdaya, melainkan sikap tenang, tidak angkuh, serta mampu mengendalikan diri. Ketika menghadapi sikap kasar atau ucapan yang tidak menyenangkan, seorang mukmin sejati tidak membalas dengan emosi, melainkan dengan kata-kata yang sejuk. Sikap ini, lanjutnya, selaras dengan gambaran kehidupan penghuni surga, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 25–26:
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا ۝ إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا
Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, tetapi yang mereka dengar hanyalah ucapan salam, salam.”

Ayat ini menggambarkan suasana surga yang dipenuhi kedamaian. Tidak ada pertengkaran, celaan, atau kata-kata yang menyakitkan. Yang ada hanyalah salam dan ketenteraman. Inilah buah dari hati yang bersih, yang telah ditempa dengan kesabaran dan ketenangan sejak hidup di dunia. Dalam kesempatan itu pula, Yai Anas mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah SAW, agar umat Islam mendatangi salat dengan penuh ketenangan.

“Apabila kalian mendatangi salat, janganlah tergesa-gesa. Datangilah dengan sakinah. Apa yang kalian dapati, kerjakanlah, dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah. Pesan ini mengajarkan, bahwa ibadah harus dilaksanakan dengan hati yang hadir, tidak terburu-buru, dan penuh kesadaran,” tandasnya.

Memasuki ayat berikutnya, QS Al-Furqan ayat 64, ia membacakan firman Allah:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Dan orang-orang yang bermalam untuk Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri (salat).”
Ayat ini menggambarkan kebiasaan ‘ibadurrahman yang menghidupkan malam dengan qiyamul lail, sujud panjang, zikir, dan doa penuh harap. Kebiasaan mulia ini dikuatkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 17–18:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”

Ia menekankan, bahwa waktu sahur adalah saat istimewa untuk bermunajat. Meskipun Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur, manusia sering lalai untuk mendekat kepada-Nya. Padahal, pada saat itulah pintu ampunan terbuka luas. Penegasan tentang kemuliaan ibadah malam kembali disebutkan dalam QS As-Sajdah ayat 16:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.”

Ibadah malam, jelasnya, membentuk keseimbangan spiritual antara rasa takut akan azab Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya. Hal ini juga ditegaskan dalam QS Az-Zumar ayat 9 yang memuji orang-orang yang beribadah di malam hari dalam keadaan sujud dan berdiri, seraya takut akan akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan mereka.

Kajian kemudian berlanjut pada QS Al-Furqan ayat 65 tentang doa agar dijauhkan dari azab neraka Jahannam. Yai Anas mengisahkan sebuah riwayat tentang seorang hamba yang lama menangis di neraka hingga malaikat Jibril memohon izin untuk membawanya menghadap Allah. Hamba tersebut menyadari, bahwa Jahannam adalah seburuk-buruk tempat tinggal dan menyesali kelalaiannya semasa hidup. Kisah ini menjadi pengingat, bahwa rahmat Allah sangat luas, namun kesempatan memperbaiki diri hanya ada selama di dunia.

Menjelang akhir kajian, Yai Anas membahas QS Al-Furqan ayat 67–68 tentang keseimbangan dalam berinfak, serta larangan melakukan dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh tanpa hak, dan berzina. Ayat ini dipertegas dengan hadits Rasulullah SAW ketika ditanya tentang dosa terbesar. Tas pertanyaan itu, Nabi menjawab, bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah, kemudian membunuh anak karena takut miskin, dan berzina dengan istri tetangga.

Dalam penjelasannya, Yai Anas menekankan, bahwa dosa-dosa besar tersebut bukan hanya merusak hubungan dengan Allah, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial dan moral masyarakat. Zina, misalnya, tidak hanya berdampak pada pelakunya, tetapi juga merusak keluarga dan menghilangkan keberkahan hidup. Dalam ungkapan hikmah disebutkan, bahwa zina adalah “utang” yang suatu saat akan dibayar, dan maksiat dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan oleh Allah SWT.

Kajian sore itu ditutup dengan suasana penuh perenungan. Jamaah pulang dengan membawa pesan, bahwa menjadi bagian dari ‘ibadurrahman bukan sekadar identitas, melainkan komitmen untuk hidup rendah hati, tekun beribadah, menjauhi dosa besar, dan senantiasa berharap pada rahmat Allah SWT. Menjelang azan Maghrib berkumandang, suasana hati yang hadir terasa lebih lembut dan lebih siap menyambut waktu berbuka dengan syukur dan ketundukan. (*)

 

Author