Ketika Daun Cincau Dikreasikan Oleh Tangan Mungil: Murid TK Aisyiyah Rasakan Langsung ‘Dapur’ Sekolah Ndeso

Reporter: Elisyah Susanty

Berita Sekolah, Kabar3711 Dilihat

girimu.com – Keceriaan meluap dari wajah-wajah mungil siswa KB-TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 49 Griya Kencana Gresik. Bukan di ruang kelas ber-AC, melainkan di tengah asrinya Sekolah Ndeso, Kedamean, Gresik, pada Rabu (13/5/2026). Mereka tak hanya bertualang mengenal suasana pedesaan, tapi juga menjajal langsung seni meracik es cincau tradisional, mulai dari menumbuk daun hingga menyeruput kesegaran hasil karya sendiri. Pengalaman belajar yang melenakan, persis seperti janji kearifan lokal.

Sejak pagi, semangat para siswa sudah membuncah. Dengan seragam olahraga khas Aisyiyah, mereka berkumpul pukul 07.00 WIB, berdoa, absensi, lalu bergegas menumpangi dua unit bemo, diiringi empat guru yang setia mendampingi.

Tiba di lokasi, enam kru Sekolah Ndeso menyambut ramah. Mereka kompak berkaos hitam dengan jargon “Tumbuh dan berkembang dengan kearifan lokal” terpampang jelas. Arbi Alfian Mas’ud, penanggungjawab acara, berdiri di depan pintu anyaman. Tak ketinggalan, Afakhrul Masub Bakhtiar, pemilik Sekolah Ndeso, turut menyapa rombongan cilik itu.

Udara segar dan suasana asri sukses membuat senyum siswa mengembang. Puncaknya, saat mereka berebut menumbuk daun cincau dengan alu dan lumpang. “Aku mau menumbuk pakai alu!” seru Azka, panggilan akrab Muhammad Azka Wijaya, siswa TK A. Adi Setyawan, salah satu kru, dengan sabar membimbing tangan-tangan mungil itu. Gelak tawa pun pecah, mengisi setiap sudut pedesaan.

Proses meremas daun hingga penyaringan, sampai akhirnya menjadi sajian minuman dingin, memberi pemahaman nyata. Momen antre menikmati es cincau buatan tangan sendiri adalah hadiah paling manis. Banyak siswa baru pertama kali merasakan cincau segar langsung dari “dapurnya”. “Ini dari daun yang tadi ditumbuk ya bu?” tanya Deo Aldafi Faaz Maheswara, siswa Kelompok Bermain, penuh rasa ingin tahu.

Pembelajaran tak berhenti di sana. Ahmad Roy Januar Pratama, kru lain, mengenalkan tanaman cincau. Ia membimbing siswa menanam bibit pohon di 15 polybag yang telah disiapkan, lengkap dengan tanah dan pupuk kompos. Manfaat cincau bagi kesehatan tubuh pun tak luput dari penjelasannya.

“Ini adalah kali pertama Sekolah Ndeso menerima kunjungan dari siswa KB dan TK,” tutur Afakh, sapaan akrab Afakhrul. Ia menambahkan, rangkaian kegiatan yang sinergis, mulai dari pengenalan tanaman hingga pembuatan es cincau, adalah pengalaman belajar nyata yang berharga.

Zulfa Islahul Mujtahidah, salah satu guru TK, menegaskan, “Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar mengenal budaya tradisional lewat alat penumbuk, es cincau, dan menebar bibit ikan. Mereka juga belajar mandiri, bersosialisasi, serta menghargai alam.” Para guru sigap mendampingi, memastikan interaksi siswa dengan lingkungan berjalan optimal.

Studi visit ini diharapkan menancap dalam ingatan siswa. Lebih dari sekadar hiburan, ini adalah sarana pembelajaran kontekstual yang menyenangkan, membuka cakrawala mereka akan kehidupan alam.

Dengan riang, para siswa pulang, membawa segudang cerita dan pengalaman baru. Rasa legit dan segarnya es cincau di Sekolah Ndeso menjadi penutup sempurna petualangan belajar mereka.

Editor