Ketika Spirit Literasi Jadi Nafas Baru di MI Mudip4t Wotan

Penulis: Firdayani Ariza

Featured36 Dilihat
banner 468x60

Bangunan dua lantai yang didominasi warna biru itu tidak pernah sepi oleh gelak tawa dan celotehan polos anak-anak. Setiap harinya tempat ini selalu dipenuhi wajah-wajah penuh semangat yang siap untuk berburu dan menangkap ilmu. Tempat yang terletak di sebuah desa kecil ini menjadi rumah bagi banyak potensi besar dan menjadi saksi tumbuhnya generasi masa depan.

Sekolah yang berdiri sejak 1985 dan terletak di desa Wotan, Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur ini bernama MI Muhammadiyah 4 Wotan atau lebih akrabnya dikenal dengan MI Mudip4t. Visinya: mewujudkan sebuah lembaga pendidikan dasar yang berkepribadian Islami dan berwawasan masa depan.

Sedangkan misinya adalah menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), serta membina semangat keunggulan ilmu pengetahuan (iptek), ke-Muhammadiyahan, olah raga, kesenian, dan kepedulian sosial. Jargon yang sering digaungkan: Belajar, Berlatih, Berkarya, dan Berprestasi.

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, MI Mudip4t terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendorong setiap peserta didik berkembang sesuai potensi masing-masing. Berbagai program penguatan karakter dan kegiatan ekstrakurikuler digerakkan sebagai langkah nyata dalam mewujudkan tujuan pendidikan sekolah.

Maka, pada pagi hari, tepatnya pukul 06.30 WIB, sudah mulai terlihat anak-anak berkumpul di musala, berbaris rapi membentuk shaf dan siap melaksanakan salat Duha. Seusai salat Duha, mereka berlarian mencari pembimbing masing-masing untuk kemudian mengulang membaca surat-surat dalam Al-Quran yang ada pada juz 30. Setelahnya, para siswa dan guru-guru memasuki kelas untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar hingga siang hari.

Jadwal harian siswa MI Mudip4t bukan sekadar rutinitas, melainkan pembiasaan karakter agar tercipta anak-anak yang mempunyai moralitas baik dan perilaku positif secara taat asas (konsisten). Karena itu tidak heran jika sekolah ini mampu melahirkan anak-anak berprestasi dan menyimpan segudang siswa dengan potensi gemilang. Hal ini dibuktikan, begitu memasuki tempat bapak dan ibu guru berkumpul saat rehat mengajar, terpampang sederet piagam kejuaran. Piala bertuliskan juara dengan nuansa agama; seperti Olimpiade PAI, Bahasa Arab, tartil, dan tilawah sangat mendominasi, disusul kejuaraan kaligrafi, menggambar, Tapak Suci, dan bidang olimpiade bidang sains.

Namun, di antara kemilau piala tersebut, jelas terlihat, bahwa prestasi dalam bidang literasi masih belum sebanyak bidang lainnya. Hal ini menjadi pengingat, bahwa masih ada ruang cukup luas bagi sekolah untuk terus berkembang di bidang literasi.

Begitu banyak program yang sudah digalakkan untuk menunjang misi sekolah. Akan tetapi, belum ada program yang secara khusus dirancang untuk meningkatkan spirit berliterasi pada peserta didik. Kondisi ini membuka ruang bagi sekolah untuk mulai merancang kegiatan yang menumbuhkan kecintaan pada bacaan maupun kebiasaan menulis.

Realita dan Gerakan Literasi 

Saat pembelajaran di kelas, ada sesuatu yang menggelitik pikiran dan hati. Menyadari bahwa kebanyakan anak tidak bisa fokus ketika membaca terlalu lama. ”Tulisannya terlalu panjang, Bu”. Cletukan seperti itu sering terdengar dari lisan beberapa anak ketika diminta membaca secara mandiri.

Maka, Pojok Baca yang terletak di sudut kelas hanyalah menjadi pajangan. Buku-buku yang tertata rapi pada rak kecil yang menggantung di tembok tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan kecil penghuni kelas. Sampul-sampul buku juga masih terlihat mulus, nyaris tanpa lipatan.

Bayangan perpustakaan yang ramai saat istirahat hanyalah sebuah ilusi. Nyatanya, perpustakaan yang ada di belakang sekolah selalu terkunci rapat dan terkesan jadi ruang yang terbengkalai.

”Bu, kapan perpustakaan dibuka?” tanya Celo, salah satu siswa, suatu hari saat pembinaan Olimpiade Matematika.

Pertanyaan sederhana itu yang menyadarkan kembali akan pentingnya perpustakaan sebagai wadah untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah ini. Jika fasilitas perpustakaan saja belum aktif kembali, bagaimana literasi bisa hidup di sekolah ini?

Penyebab rendahnya literasi peserta didik tentunya tidak hanya disebabkan oleh tidak hadirnya perpustakaan, tetapi juga kurangnya dukungan lingkungan belajar, kurangnya keterlibatan orang tua dan sekolah, serta dampak buruk kemajuan teknologi. Maraknya platform game online juga membuat anak-anak lebih suka bermain game ketimbang membaca buku.

Menyadari fenomena tersebut, para guru MI Mudip4t mempunyai harapan yang besar untuk menjadikan anak didiknya melek literasi. Mereka menginginkan generasi yang tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan mengekspresikan gagasannya dengan baik.

Harapan inilah yang mendorong sekolah untuk mencari cara agar budaya literasi dapat tumbuh subur di antara para peserta didiknya. Melihat realita yang terjadi, obsesi baru mulai tumbuh, yakni menjadikan MI Mudip4t sebagai sekolah yang berbudaya literasi. Bukan hanya memiliki buku, tetapi menghidupkan buku. Juga bukan hanya menyediakan fisik perpustakaan, tetapi memastikan fasilitas itu menjadi ruang favorit murid. Bahkan obsesi yang dibangun bukan hanya membaca di sekolah, tetapi juga membawa kebiasaan membaca ke rumah masing-masing peserta didik.

”Ayo aktifkan kembali perpustakaan, agar nanti waktu istirahat bisa dipakai tidak hanya anak-anak, tetapi juga guru untuk membaca dan berdiskusi,” ujar Ustadzah Faridah, SPdI, selaku pengampu bidang perpustakaan saat rapat guru.

Rencana-rencana kegiatan pun mulai dirancang untuk menciptakan anak-anak literat yang terus mengakrabi dan membumikan literasi. Salah satu langkah awal yang digagas adalah melakukan renovasi perpustakaan sekolah. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya berdiri sebagai tempat menyimpan buku, tetapi hidup kembali sebagai pusat kegiatan membaca, ruang diskusi, dan tempat melahirkan ide-ide baru yang progresif. Maka, rak-rak buku pun ditata ulang, sudut-sudut ruangan dibuat lebih nyaman, dan koleksi bacaan ditambah dengan buku-buku yang lebih variatif serta menarik minat anak-anak.

”Nanti perpustakaan akan kita lakukan renovasi agar saat perpustakaan kembali dibuka, anak-anak merasa nyaman di dalamnya,” tutur Ustadz Syaiful Uddin, SPdI, Kepala MI Mudip4t.

Selain itu, Pojok Baca di setiap kelas juga mulai dihidupkan. Tidak hanya menjadi sudut yang penuh buku dan dijadikan tempat peserta didik bermain dan rehat dari lelahnya kegiatan belajar, tetapi menjadi ruang kecil yang mengundang rasa ingin tahu.

Setiap Pojok Baca diisi dengan bacaan pilihan yang sesuai usia, cerita bergambar, hingga buku pengetahuan sederhana yang bisa memancing imajinasi. Harapannya, anak-anak akan terbiasa mengambil buku secara mandiri dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian.

Tak berhenti pada membaca, sekolah juga merancang kegiatan untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam menulis. Kelas menulis kreatif diadakan agar mereka dapat belajar menyusun kalimat, mengembangkan cerita, hingga mengekspresikan perasaan melalui tulisan.

Di ruang inilah mereka diarahkan untuk menemukan gaya bahasa mereka sendiri, belajar menyampaikan pesan, dan merasakan, bahwa karya tulis mereka bernilai lebih. Sebagai bentuk penguatan pengalaman, siswa juga didorong untuk mengikuti berbagai lomba yang berkaitan dengan keterampilan literasi, seperti lomba baca puisi, menulis cerpen, juga menulis puisi. Keikutsertaan mereka dalam lomba ini bukan hanya untuk mencari kemenangan, tetapi juga sebagai proses belajar, mengenali potensi diri, dan memberikan ruang bagi siswa untuk unjuk karya dan percaya diri.

Obsesi ini diharapkan mampu membawa para siswa MI Mudip4t tidak hanya bersinar dalam aspek keagamaan, kaligrafi, olah raga, dan sains saja, tetapi juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam dunia literasi dan kepenulisan. Sekolah ingin membuka pintu seluas-luasnya agar anak-anak dapat merasakan pengalaman membaca dan menulis yang lebih bermakna, bukan sekadar menggugurkan tugas sekolah, tetapi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri dan berbudaya literasi. (*)

*) Firdayani Ariza, Guru di MI Muhammadiyah 4 Wotan, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Editor