GIRIMU.COM –Seluruh rangkaian ibadah Ramadan 1447 Hijriah telah berkahir begitu memasuki 1 Syawal yang ditandai dengan pelaksanaan salat Idulfitri, Jumat (20/3/2026). Diharapkan, madrasah Ramadan yang berlangsung sebulan penuh mampu menghapus seluruh dosa berlimpah pahala bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
“Kita bersyukur telah disampaikan pada 1 Syawal pagi hari ini. Sementara banyak saudara kita yang pada awal Ramadan dan di tengah Ramadan masih bersama kita dalam kondisi sehat, tetapi Allah berkehendak lain, mereka sudah dipanggil Allah dan meninggalkan kita untuk selamanya,” ungkap Ustadz Hasan Abidin, MPdI, mengawali khotbah salat Idulfitri 1447 H di halaman Centro Perumahan Regency Mayjen Sungkono Kedanyang, Kebomas Gresik, Jumat (20/3/2026).
Dalam khotbah Idulfitri yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedanyang itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik ini menyampaikan, bahwa Ramadan merupakan bulan penghapus dosa. Meski begitu, keniscayaan yang bisa membebaskan hamba Allah dari dosa, peluang terjadinya dosa sangatlah terbuka.
Karena itu, lanjut Ustadz Hasan Abidin, ibadah penghapus dosa yang efektif harus dengan bertobat.
Ia berpesan, orang bertakwa –sebagaimana tujuan menjalani ibadah pusasa Ramadan yang dikuatkan dalam Al-Quran Surat Al Baqarah (2) ayat 183– adalah orang yang ber-Islam secara aplikatif didasarkan pada keimanan yang kuat. Yang gampang diampuni itu, katanya, adalah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar untuk menghapusnya harus ditobati.
“Ramadan adalah bulan pengampunan. Selama 24 jam berisi pengampunan. Maka rugi besar jika sesuai Ramadan ini, kita tidak mendapatkan pengampunan dari Allah,” tandasnya.
Sementara ini kalimat takbir (Allahu Akbar, Red) yang terkumandangkan begitu Ramadan berakhir, merupakan pengakuan, bahwa Allah itu Maha Besar, yang punya kuasa menentukan segalanya, sementara hamba-Nya amatlah kecil. Pengakuan kebesaran Allah pada gilirannya mampu menciptakan karakter penghambaan dengan menyandarkan hidup ini kepada kebesaran Allah.
Di sisi lain, lanjut Ustadz Hasan Abidin, rasa syukur harus dibarengi dengan keyakinan, bahwa Allah-lah pemberi nikmat dan karunia kepada hamba-Nya. Hakikatnya, katanya, nikmat Allah yang diberikan kepada umat-Nya tak terhitung dan siapa pun tak akan mampu menghitungnya.
“Gaji dan pendapatan kita mungkin bisa dihitung, tetapi Allah pemberi nikmat yang tidak mungkin bisa kita hitung. Ada saja karunia yang diberikan kepada kita, entah dari mana datangnya. Karena itu, kita besarkan nama Allah yang dengan kemurahan-Nya memberikan kecukupan kepada hamba-hamba yang bertakwa sebagaimana tujuan ibadah puasa Ramadan,” tandasnya.
Ramadan, menurutnya, bukan sekadar ibadah serimonial untuk mengumpulkan pahala, ia melahirkan pembiasaan baik untuk diterapkan pada 11 bulan berikutnya pasca-Ramadan. Pembiasaan baik itu, di antaranya berupa karakter Muslim yang telah dibangun lewat madrasah selama Ramadhan. Pembiasaan baik selama Ramadan, di antaranya puasa, qiyamullail, zakat, infak dan sekedah hendaknya jadi spirit ibadah untuk terus dilakukan secara istiqamah pasca-Ramadan.
“Jangan hanya fokus pada ritual ibadah, tetapi bagaimana efek pembiasaan baik selama telah dengan tumbuh baik selama Ramadan, berimbas pada 11 bulan berikutnya,” ujarnya.
di antara karakter orang bertakwa yang mesti dimiliki dan dikembangkan pasca-Ramadan adalah meningkatkan ibadah, baik berupa kesalihan personal maupun sosial. Selain itu, kebiasaan berbagi kepada sesama selama Ramadan, akan membentuk pribadi dan karakter suka memberi, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, suka memaafkan dan tidak pendendam.
“Lalu, jika berbuat salah dan dosa, secepatnya minta maaf, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Itulah karakter-karakter Muslim yang harus kita miliki dan kembangkan sebagai buah dari madrasah Ramadan. Semoga hal ini bisa kita aplikasikan dalam 11 bulan ke depan dan kita kembali diperjumpakan dengan Ramadan tahun depan,” pungkasnya. (red)







