GIRIMU.COM — Muhammad Thoha Mahsun, SAg, MPdI, MHES menjadi khotib pada Jumat (6/3/2026) di Masjid At Taqwa Giri yang dikelola oleh Muhammadiyah Cabang Kebomas, Gresik. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik ini membawakan khutbahnya berjudul Ramadan Bulan Pendidikan.
Ustadz Thoha menjelaskan, Ramadan tidak hanya dipahami sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai madrasah tarbiyah (sekolah pendidikan). Selama satu bulan, lanjutnya, seorang Muslim dididik secara menyeluruh: fisiknya ditahan, jiwanya dilatih, pikirannya dituntun, dan akhlaknya diperhalus.
“Karena itu, para ulama sering menyebut Ramadan sebagai kursus intensif pembentukan manusia bertakwa,” tandasnya.
Ustadz Thoha lalu menguraikan, manusia beristiqamah mengerjakan kebaikan dan amal salih di bulan ini. Agar menggapai keberkahan di bulan Ramadan, umat Islam lebih bersemangat beribadah. Tujuan ibadah khususnya di bulan Ramadan adalah anak salih yang diterima Allah, syaratnya sebagaimana termaktub di QS Al-Bayyinah ayat 5:
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”
Amal salih itu, kata Ustadz Thoha, dikerjakan dengan ikhlas. Nilai spiritualitas tinggi menjadikan pelakunya tidak hanya berpuasa fisik, namun juga puasa jiwa/batin, yang akhirnya akan menjadikan amalan Ramadan diterima oleh Allah SWT.
Di bulan tarbiyah, imbuh Ustadz Toha, orang yang berpuasa merasakan lapar dan dahaga dan ketidaknyamanan. Dari sanalah akan timbul perasaan empati, berbagi, dan kepedulian kepada sesama. Utamanya ini semua terlihat di akhir Ramadan saat menunaikan zakat wajib (zakat fitrah). Puasa itu, jelasnya, memiliki dua sisi pendidikan:
Pertama, Mengendalikan hawa nafsu. Manusia sering dikalahkan oleh keinginan perut dan syahwat. Puasa mengajari bahwa manusia mampu berkata ‘tidak’ pada dirinya sendiri.
Kedua, Melembutkan hati. Orang kenyang sulit merasakan penderitaan orang miskin. Lapar itu pada gilirannya mendidik empati.
“Cita-cita besar kita meraih surga Allah. Masih ada waktu, mesti seriusi puasa. Puasa fisik dan batin yang akan dapat menumbuhkan empati terhadap sesama,” pungkasnya. (*)







