Kisah Zafran, Bocah Gresik yang Rutin Tarawih Pukul 02.00 Dini Hari

Girimu.com — Pukul 02.00 dini hari, saat sebagian besar orang masih terlelap, suasana Masjid At-Taqwa Giri Kebomas justru mulai hidup. Lampu menyala terang, jamaah berdatangan perlahan, mengisi saf yang tidak terlalu penuh, namun menghadirkan ketenangan dan kekhusyukan.
Di antara jamaah tersebut, tampak satu sosok kecil yang hampir selalu hadir setiap malam. Ia adalah Muhammad Zafran Rama Ardiansyah, siswa kelas 4 AR Fahruddin SD Muhammadiyah 1 Kebomas.
Sejak memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Zafran rutin mengikuti tarawih kedua yang digelar pukul 02.00 dini hari di masjid tersebut. Waktu yang tidak biasa bagi anak seusianya, ketika sebagian besar teman-temannya masih terlelap.
Masjid At-Taqwa Giri Kebomas memang memiliki tradisi unik. Selain tarawih selepas Isya, juga diselenggarakan tarawih kedua di sepertiga malam terakhir. Momentum inilah yang dimanfaatkan Zafran untuk meningkatkan ibadahnya.
Motivasi Zafran sederhana, namun sarat makna. Ia ingin mengisi penuh buku Ramadan yang diberikan sekolahnya. Bagi sebagian siswa, buku tersebut mungkin hanya catatan, tetapi bagi Zafran menjadi target yang ingin ia tuntaskan dengan sungguh-sungguh.
Apalagi di masa libur sekolah, waktu luang yang dimiliki tidak ia habiskan untuk beristirahat semata, melainkan dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah.
Agar bisa bangun tepat waktu, Zafran terbiasa tidur lebih awal. Ia juga berpesan kepada ibunya agar dibangunkan menjelang tarawih dini hari.
Setiap malam, ia berangkat bersama ayah, om, dan eyang akung. Perjalanan menuju masjid menjadi momen kebersamaan keluarga yang hangat.
“Kalau malam, rasanya lebih tenang. Lebih fokus,” ujarnya singkat.
Di dalam masjid, Zafran tidak sendiri. Beberapa teman sebayanya juga terlihat hadir. Mereka berdiri dalam satu saf, tidak banyak berbicara, namun saling menguatkan lewat kehadiran.
Usai tarawih, suasana masjid tidak langsung sepi. Jamaah tetap bertahan menunggu waktu sahur. Takmir masjid kemudian menyajikan hidangan sahur sederhana untuk para jamaah.
Zafran pun ikut duduk bersama. Ia menikmati sahur di masjid bersama keluarga dan jamaah lainnya dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Bagi Zafran, momen ini bukan sekadar makan sahur, tetapi pengalaman kebersamaan yang jarang ditemui di waktu lain—duduk bersila, berbagi makanan, dan merasakan suasana masjid di sepertiga malam terakhir.
Orang tua Zafran mengaku bangga dengan kebiasaan tersebut.
“Awalnya kami ajak, tapi sekarang dia sendiri yang semangat. Bahkan sering mengingatkan lebih dulu,” ujar Mochammad Chafidz Ardiansyah.
Takmir Masjid At-Taqwa Giri Kebomas juga mengapresiasi kehadiran anak-anak seperti Zafran.
“Jarang anak-anak mau bangun dini hari seperti ini. Kami juga sengaja menyediakan sahur bersama agar jamaah semakin semangat menghidupkan malam Ramadan,” ungkap Ketua Takmir, Ustadz Agus Wahyudi.
Menjelang imsak, jamaah mulai bersiap. Sebagian tetap di masjid untuk melanjutkan ibadah, sementara lainnya pulang dengan langkah pelan.
Di antara mereka, Zafran menjadi bagian dari cerita kecil yang hangat—seorang anak yang memilih bangun di tengah malam untuk beribadah, lalu menutupnya dengan sahur bersama di masjid.
Sederhana, namun penuh makna.

Editor