Komandan KOKAM Cerme Ajak Jemput Lailatul Qadar

banner 468x60

girimu.com – Pemandangan berbeda terlihat di Masjid Khusnul Khotimah, Desa Sukoanyar, Kecamatan Cerme, saat memasuki malam ganjil pertama di sepuluh hari terakhir Ramadan. Sosok Komandan KOKAM yang biasanya berada di barisan pengamanan kegiatan, malam itu justru berdiri di balik mimbar untuk menyampaikan tausiyah tentang keutamaan Lailatul Qadar.

Ia adalah Muhammad Syaifullah, Komandan KOKAM Markas Cabang (Marcab) Cerme. Dengan mengenakan batik biru khas, ia hadir bukan untuk memimpin barisan pasukan, melainkan memberikan pesan spiritual kepada jemaah tentang pentingnya memaksimalkan ibadah pada malam-malam ganjil Ramadan.

Dengan gaya bahasa yang lugas dan sesekali diselingi istilah lapangan yang akrab di telinga, Kang Ipul—sapaan akrabnya—mampu menarik perhatian para jemaah yang hadir.

“Ramadan adalah medan tempur melawan ego, dan malam ke-21 adalah jam krusial,” ujarnya di hadapan jemaah.

Ia kemudian mengingatkan bahwa kesempatan meraih kemuliaan Lailatul Qadar tidak boleh disia-siakan.

“Kalau untuk tugas kemanusiaan kita bisa siaga 24 jam, masa untuk mengejar bonus 1.000 bulan kita malah ngantuk di barisan belakang?” selorohnya yang disambut senyum para jemaah.

Dalam tausiyahnya, Muhammad Syaifullah menyampaikan beberapa pesan penting kepada jemaah. Pertama, ia menegaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan “bonus besar” dari Allah yang tidak memiliki batas kuota.

Menurutnya, siapa pun yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam ganjil Ramadan dengan ibadah memiliki peluang meraih kemuliaan tersebut.

Selain itu, ia juga mengajak jemaah memperbanyak doa sebagai “logistik spiritual”. Doa tersebut tidak hanya dipanjatkan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk keselamatan bangsa dan agama.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah hingga akhir Ramadan.

“Jangan hanya semangat di awal Ramadan, tapi harus kuat sampai garis finish,” pesannya.

Suasana masjid malam itu terasa khusyuk. Jemaah yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua, tampak menyimak dengan penuh perhatian pesan-pesan yang disampaikan.

Bagi warga Sukoanyar, malam ke-21 Ramadan bukan sekadar rutinitas salat tarawih. Tausiyah tersebut menjadi pengingat untuk lebih bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan demi meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Editor